Ini Kunci Sukses Bisnis Agro Ala Milenial

Indonesia dengan curah hujan dan matahari yang cukup menjadikan negara ini sangat potensial di bidang agro atau pertanian. Namun sayangnya, di tengah populasi generasi produktif yang juga besar, masih sedikit yang serius menekuni bisnis di bidang pertanian.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah lokadata.id, jumlah petani per 2019 mencapai 33,4 juta orang, hanya 2,7 juta atau 8% saja dari jumlah tersebut yang berusia 20 – 39 tahun atau generasi milenial. Pendiri Mitra Tani Parahyangan, Sandi Octa Susila salah mengungkapkan bahwa sebagai milenial, harus memiliki tujuan sejak awal, akan menjadi apa kelak. “Kemudian secara tekun dan bersemangat mewujudkannya,” ujar pria berusia 25 tahun ini.

Sandi memulai bisnis ketika ia baru semester 5 kuliah di IPB, tepatnya kala itu tahun 2015. Menurutnya memasuki sejak awal kuliah dia memang sudah memutuskan untuk fokus di bisnis agri, niatan itu makin kuat ketika memasuki memasuki semester 5. “Kita jangan hanya berencana, tapi jalankan atau action,” tandas pria asal Cianjur Jawa Barat ini.

Menutuskan bisnis bukan berarti tanpa masalah. Menyadari berbisnis dengan modal keberanian, tanpa mentor yang berpengalaman, Sandi mengaku pernah mengalami kerugian besar sampai Rp 100 jutaan karena tertipu di awal bisnisnya. “Dari pengalaman saya tersebut, saya sadar, berbisnis apalagi bisnis di bidang pertanian, bagi pemula harus ada pendampingan empiris dan mentor yang berpengalaman, itu penting, latar belakang pendidikan kuat tidak menjamin tidak gagal,” tandasnya.

Lulusan S2 Bisnis IPB ini mengatakan bahwa dalam bisnis harus jelas jelas dalam segmenting, targeting dan positioning. “Makanya saya membidik modern market, dengan harga dan standar kualitas jelas, saya bisa mengelola hasil pertanian untuk dipasarkan dengan harga dan standar yang jelas juga. Kalau ke pasar tradisional itu “gelap” karena harga dikendalikan tengkulak. Positioning saya ini yg saya jaga,” ungkapnya. Selain itu kata dia, ketika kita ingin mendapat ikan besar, umpannya juga harus besar.

“Setelah S2 bisnis di IPB, saya belajar business canvas, saya memutuskan masuk masuk ke HOREKA (hotel, restoran, katering) saya menunjukkan ke chef, bagaimana hasil pertanian kami, harga dan kualitasnya, dialah pengambil keputasan. Lalu ke ritel, saya menjaga hubungan dengan bagian pembelian. Mereka ini yang saya kelola, menawarkan pilihan hasil pertanian dengan harga sesuai dengan segmen mereka,” imbuh pria yang mengelola 120 hektar lahan pertanian bersama mitra petani ini. Dalam pendapat Sandi, dalam berbisnis harus dibantu dengan sense bukan logika saja.

Ia juga mengingatkan bahwa sebagai entitas bisnis yang ingin bertumbuh dan berkelanjutan pebisnis milenial harus bisa memanfaatkan data, mengelola segmentasi pasar, target klien, posisi produk, membangun tim terbaik, dan memanfaatkan teknologi untuk memaksimalkan bisnis. “Kolaborasi itu lebih penting daripada kompetisi, untuk itulah saya terbuka menjalin kerja sama dengan banyak pihak termasuk dengan PTPN, Deptan, dan di acara ini saya mengenal YDBA dan Sayurbox, Insya Allah saya mau berkolaborasi,” jelasnya.

Ia mengungkapkan saat ini pihaknya juga sudah berkolaborasi dengan PT Cheong Food Indonesia dan Maru Energy South Korea. “Kami berkolaborasi untuk memproduksi kimchi, asinan khas Korea,” imbuhnya. Selain itu Sandi juga berkolaborasi dengan Agree Culture (startup binaan Telkom), PT Tsamarot Indonesia Food Processing, Wing’s Food, Kedai Sayur dan PT Puncak Biotek. Kini Sandi bersama 385 mitra petani juga berhasil di bawah Mitra Tani Parahyangan berhasil menjadi supplier produk pertanian untuk 25 customer yang antaranya Giant, Lulu, Hotel Aston.

Sandi memaparkan pengalamannya tersebut dalam upaya meningkatkan awareness, menambah wawasan dalam pengembangan usaha pertanian yang menjanjikan serta memberikan motivasi kepada generasi muda untuk terlibat menjadi petani atau pebisnis di sektor pertanian. Dalam kegiatan webinar pertanian modern dengan tema “Saatnya Anak Muda Jadi Pebisnis Pertanian” diselenggarakan oleh Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) pada 6 April 2021 tersebut, selain Sandi, ada Head of Sourcing Sayurbox, Vincent A. Gunawan yang juga memaparkan pengalaman Sayurbox membangun bisnis pertanian berbasis teknologi.

Menurut Vincent, membangun platfom digital dalam memasarkan produk pertanian yang saat ini telah memiliki brand ternama di Indonesia, awalnya tidaklah mudah. Namun dengan niat ingin memudahkan petani memasarkan hasil panennya, langsung ke tangan pertama, memperpendek rantai penjualan yang panjang di bisnis pertanian sehingga lebih efisien, dengan dukunhan teknologi membuat Sayurbox disambut dengan sangat baik. Karena inilah masalah pertanian kita saat ini. “Sayurbox berinovasi melalui platform digital, selain membantu petani, kami juga memudahkan customer memenuhi kebutuhannya akan produk pertanian. Dan sekarang bukan cuma sayur, kami juga menyediakan daging segar dan buah-buahan, jelasnya.

Sejalan dengan itu, Ketua Pengurus YDBA, Sigit P. Kumala dalam sambutannya menyampaikan begitu banyak peluang bisnis yang dapat dioptimalkan di sektor ini, terlebih kemajuan teknologi mendukung generasi muda untuk terlibat dalam sektor pertanian yang modern. Sektor pertanian juga menjadi sektor yang mendukung perekonomian dan ketahanan pangan di Indonesia. Sigit berharap, dengan adanya sharing dari Sandy dan Vincent tersebut, dapat memberikan inspirasi kepada lebih dari 300 generasi muda yang hadir dalam webinar agar mereka turut terlibat dalam memajukan sektor pertanian di Indonesia, baik menjadi petani atau pebisnis di sektor tersebut. Sandi pun menimpali bahwa YDBA itu bisa dimanfaatkan sebagai mentor para pebisnis milenial.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)