Ini Resep Pertumbuhan Komandan Baru Asuransi Astra

Rudy Chen Rudy Chen, Presiden Direktur PT Asuransi Astra Buana

Perlambatan pertumbuhan industri asuransi di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir tidak menggentarkan Rudy Chen, CEO baru PT Asuransi Astra Buana, atau yang biasa dikenal dengan Asuransi Astra. Pria yang diangkat sebagai CEO Asuransi Astra pada bulan April silam, menggantikan Santosa yang sebelumnya telah lebih dulu ditunjuk sebagai Presiden Direktur PT Astra Agro Lestari Tbk. itu bahkan telah memiliki resep tersendiri demi memacu pertumbuhan perusahaannya.

Rudy yang pada tahun 2009-2013 lalu sempat menjabat sebagai Direktur Keuangan Asuransi Astra itu mengamati bahwa industri asuransi di Indonesia masih relatif kecil. Ukurannya, pemegang polis asuransi general hanya mencapai 0,5 persen dari total PDB Indonesia sementara pemegang polis asuransi jiwa sekitar 2 persen dari PDB. “Dibanding negara-negara lain ini masih di belakang,” pria yang selama 17 tahun terakhir berkarir di lingkup Grup Astra itu mengungkapkan pengamatannya ketika diwawancara Majalah SWA di kantor Asuransi Astra di Jalan TB. Simatupang Kav. 15, Cilandak, Jakarta Selatan.

Karena itu, alumnus Master of Applied Finance di University of Melbourne, Australia itu mengaku melihat peluang bertumbuh yang signifikan di pasar asuransi Indonesia. Adapun strategi yang akan ditempuh dengan cara meningkatkan kepuasan dan kenyamanan pelanggan melalui teknologi digital.

Menurut Rudy, aspek krusial pelayanan di bisnis asuransi, yang akan menentukan tingkat kepuasan pelanggan terletak pada saat nasabah melakukan klaim. Karena itu pihaknya selalu berupaya meningkatkan kenyamanan nasabah ketika melakukan klaim. “Sehingga pada saat mereka renewal asuransinya mereka pilih asuransi ini lagi. Makanya fokus dan target kami menjaga kepuasan pelanggan kami,” tutur Rudy, seraya menambahkan survei kepuasan nasabah Asuransi Astra yang diperoleh selama ini cukup tinggi, di atas 85%.

Jalur digital pun dipilih lantaran Rudy melihat peranan data yang menjadi sangat signifikan dalam menentukan laju perusahaan. Rudy mengamati, sebelumnya teknologi informasi kerap menjadi andalan. Namun kini, menurut Rudy, keunggulan bisnis akan dipengaruhi oleh penguasaan teknologi pengolahan data. “Dulu orang bicara IT, sekarang tentang DT, data technology dan big data. Dengan pengembangan sistem digital, kami tahu customer dan sebagainya. Ke depan, kami bisa personalize product. Ujung-ujungnya dunia bisnis ke depan bukan sekadar B2C tapi sudah C2B jadi customer dipahami masing-masing kebutuhannya apa,” Rudy memaparkan.

Kenyamanan pelanggan, bagi Asuransi Astra, pun bukan hanya sekadar jargon di dalam hati. Melainkan telah menjadi fondasi eksistensi Asuransi Astra dan dipatrikan ke dalam kredo resmi perusahaan. “Visi dan misi Asuransi Astra adalah membuat kenyamanan bagi pelanggan atau peace of mind for customer. Jadi, segala sesuatu yang kami lakukan ditekankan pada klaim, demi meningkatkan kepuasan customer,” Rudy menegaskan.

Adapun implementasi strategi di atas terwujud dalam program transformasi digital yang telah dijalankan oleh Asuransi Astra sejak beberapa tahun terakhir. Salah satunya dengan peluncuran Garda Center sejak 2015. Sarana yang menjadi pusat klaim nasabah Asuransi Astra itu hadir di berbagai lokasi yang mudah dijangkau nasabah, seperti di pusat perbelanjaan. Hasilnya, 150 ribu klaim Asuransi Astra yang terjadi setiap tahun sepertiganya berpindah dari kantor cabang Asuransi Astra ke Garda Center.

Langkah selanjutnya, Garda Oto, merek asuransi kendaran Asuransi Astra mendigitalisasi pembelian asuransi melalui Gardaoto.com. Selain itu aplikasi Garda Oto yakni Otocare, terus ditingkatkan kemampuannya sehingga nasabah dapat melakukan klaim asuransi via aplikasi tersebut.Rudy Chen

Lebih jauh lagi, melalui aplikasi Oto Care nasabah dapat menentukan tanggal survei kendaraan sebagai syarat klaim, penjemputan kendaraan, pemantauan proses perbaikan kendaraan serta pengantaran kendaraan usai perbaikan. “Bukan saja asuransi kendaraan, kami juga ada Medcare, aplikasi untuk asuransi kesehatan,” Rudy menambahkan.

Rudy memahami bahwa proses digitalisasi di Indonesia belum melaju kencang. Indikasinya, meskipun konsumen banyak yang melakukan riset daring sebelum membeli, namun realisasi pembelian via daring hanya sebesar 5%. Jauh lebih kecil dari jumlah orang yang meriset daring dan melakukan pembelian offline yang mencapai 30%-40%.

Toh mesti demikian bukan berarti Asuransi Astra pasif menunggu gelombang perubahan. Bagi Rudy, lebih baik perusahaan melakukan persiapan sehingga ketika gelombang digital telah membesar, Asuransi Astra siap menungganginya. “Bagi Asuransi Astra, langkah digital ini keharusan. Kami harus mempersiapkan sebelum gelombangnya besar. Jadi ketika hal itu sampai, masyarakat benar-benar digital, kami sudah siap dengan banyak pengembangan,” Rudy menegaskan.

Untuk selanjutnya Rudy mengaku akan mendorong kencang pertumbuhan asuransi di segmen komersial dan kesehatan. Pasalnya, dari total portofolio Asuransi Astra, segmen otomotif menyumbang mayoritas 55%, selebihnya 35% komersial dan 10% kesehatan. Sementara dari total industri asuransi di Indonesia, 30 persen disumbangkan asuransi properti dan kebakaran, kedua kendaraan bermotor dan terakhir kredit asuransi. “Kedepan, kami berfikir kalau punya portfolio lebih balance akan lebih bagus. Asuransi properti akan coba kami bidik lebih serius dan besarkan, melalui broker atau bank,” Rudy mengungkapkan.

Reportase: Herning Banirestu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)