Inisiatif Safe Settlement Untuk Mencegah Penyebaran Covid-19

Philanthropy Learning Forum

Selama virus Covid-19 merebak, selain tempat ibadah, sekolah, dan tempat lainnya, area yang rentan terjangkit adalah pasar dengan tingginya jumlah masyarakat berkumpul. Namun, dalam beberapa minggu terakhir penyebaran Covid-19 mulai bergeser dari pasar ke pemukiman warga.

Beberapa anggota masyarakat telah terinfeksi di beberapa komplek pemukiman, khususnya di pemukiman yang padat di perkotaan. Padahal, rumah atau tempat tinggal dinilai sebagai tempat yang cukup aman untuk mengisolasi diri dari terjangkitnya virus karena tingkat interaksi yang sempit.

Filantropi Indonesia, Habitat for Humanity Indonesia, Kemitraan Habitat, dan Klaster Filantropi Permukiman & Perkotaan, menyelenggarakan Philanthropy Learning Forum di Jakarta, Selasa (14/7/2020) yang mendiskusikan suatu cara untuk mencegah kondisi yang semakin buruk melanda masyarakat di pemukiman, yaitu Safe Settlement. Konsep untuk membangun lingkungan yang sehat dengan melibatkan partisipasi aktif ekosistem sekitar.

Susanto, Direktur Nasional Habitat for Humanity Indonesia, menuturkan bahwa di masa pandemi ini masyarakat semakin disadarkan bahwa rumah merupakan langkah pertama untuk melindungi diri dan keluarga dari virus Corona. Rumah lebih dari sekadar tempat berteduh tetapi juga benteng perlindungan. Desain, akses sanitasi dan higienitas di lingkungan rumah harus bersama-sama diperhatikan.

“Semoga apa yang dibagikan hari ini dapat memberikan pemahaman bagi kita bahwa rumah layak huni sangat berperan dalam memutus tali penularan Covid-19 dan kesadaran pentingnya untuk #dirumahaja sambil tetap menyatakan kepedulian kepada jutaan keluarga berpenghasilan rendah di Indonesia yang belum dapat tinggal di rumah yang layak di masa pandemi ini,” ujar Susanto.

Penerapan Safe Settlement dinilai efektif dalam menghambat penyebaran Covid-19 di pemukiman. Beberapa komplek perumahan di Jakarta sudah mulai menerapkannya. Forum menyatakan bahwa Safe Settlement perlu dikembangkan sebagai langkah antisipasi dalam menghadapi pergeseran tren penyebaran virus Corona dari pasar ke pemukiman yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir. Namun, efektivitas penerapannya sangat bergantung pada partisipasi dan Kerjasama antar warga.

Salah satu komunitas yang telah menerapkan konsep tersebut adalah Perumahan Emerald Residence Bintaro. Para penghuninya membentuk tim Gugus Tugas Covid-19 di setiap RW. Untuk mendukung kerja tim gugus tugas yang dibentuk, setiap RT kemudian mencari dan merekrut relawan yang juga berasal dari warga perumahan. Tugas mereka di antaranya membantu pengecekan dan pemeriksaan rumah warga serta membantu pelaksanaan e-survey terkait profil resiko warga.

“Pemeriksaan dilakukan tiga kali se hari, 10 rumah ke kiri, kanan, depan. Sebelumnya para warga diminta untuk mengisi e-survey terkait profil resiko mereka. Survey ini bersifat rahasia dan hanya petugas medis dari Puskemas yang boleh membuka data tersebut. Melalui itu, maka petugas dapat lebih mudah untuk melakukan tracing dan melakukan pemetaan profil resiko warga serta dapat mudah memberikan kategori ODP, PDP, dan OTG,” jelas Jacob Kastanja, Gugus Tugas Covid-19 Perumahan Emerald Residence, Bintaro.

Sementara itu, di acara yang sama Ignesjz Kemalawarta, Wakil Ketua Umum Bidang Perundang-Undangan & Regulasi Property Real Estate Indonesia (REI) mengatakan, Covid-19 menyadarkan bahwa diperlukan konsep perencanaan, pengembangan dan pengelolaan perkotaan baru yang lebih sehat.

“Di masa depan akan ada fokus baru untuk menemukan solusi desain untuk bangunan individu dan lingkungan yang lebih luas agar memungkinan masyarakat bersosialisasi tanpa harus harus berdesakan,” katanya.

Untuk menerapkan konsep ini harus didukung oleh semua pihak. Erna Witoelar, Co-Chair Badan Pengarah Filantropi Indonesia, menambahkan, lembaga filantropi dan sektor swasta perlu berperan karena belum banyak pengurus atau pengelola pemukiman, khususnya di pemukiman padat dan kumuh, yang memahami konsep ini. Pengelola dan penghuni pemukiman padat dan kumuh umumnya tidak memiliki kapasitas dan sumber daya dalam menerapkan konsep ini. Mereka bisa diberikan edukasi dan fasilitasi untuk menerapkan konsep Safe Settlement dalam menangkal penyebaran

“Karena, konsep ini sebenarnya bisa diterapkan tidak hanya di komplek komplek perumahan elit, tapi semua segmen perumahan dan pemukiman, termasuk di pemukiman padat dan kumuh. Tinggal bagaimana mendorong dan meningkatkan partisipasi dan kerjasama warga yang jadi kunci keberhasilan penerapan konsep ini,” ujarnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)