Innovation Hub Prasetiya Mulya Perkuat Ekosistem Digital

Sekitar 15 tahun yang lalu, perusahaan-perusahaan besar di Amerika Serikat dikuasai oleh sektor minyak, retailer besar dan bank.

Namun, lanskap bisnis itu berubah selama 5 tahun terakhir. Perusahaan digital kini mendominasi, lihat saja kiprah Apple, Google, Alphabet, Amazon, Facebook, serta Microsoft. Bahkan, 20 orang terkaya di Amerika itu, 7 di antaranya berasal dari perusahaan digital.

“Di China, dari 20 orang terkaya di sana, 8 di antaranya adalah orang digital,” ungkap Andy Zain, Direktur Pengelola Kejora Ventures di peluncuran Innovation Hub dan program magister manajemen (MM) baru bernama New Venture Innovation (NVI) di Universitas Prasetiya Mulya, Kampus Cilandak dalam keterangan persnya (5/5/2018).

Semua perusahaan besar digital tersebut tidak muncul dan sukses dengan jalan yang mudah. Semua menghadapi jatuh bangun dan umumnya para pendirinya tidak dibekali pendidikan khusus yang terprogram sejak awal untuk membangun seperti apa yang sudah besar dan sedang mereka jalankan sekarang ini.

“Ini disebabkan karena ekosistem digital tidak muncul begitu saja dengan mudah. Dunia kewirausahaan seperti menghadapi tantangan besar dengan fenomena digitalisasi, sehingga banyak orang seperti berjalan dalam kegelapan meraba-raba,” kata Dekan Sekolah Bisnis dan Ekonomi Universitas Prasetiya Mulya, Agus W. Soehadi.

“Dari pertemuan dengan dekan-dekan sekolah bisnis di Asia Pasifik, ada arus kuat bahwa sekolah-sekolah bisnis yang dulu berorientasi pada profesional kini bergeser ke arah entrepreneurship. Sayangnya, pendidikan kewirausahaan sekarang belum bisa dikatakan well-established,” jelas Agus.

Agus menambahkan, “Seperti sekarang ini, kita seperti gamang menghadapi arus digitalisasi bisnis yang tak bisa dibendung oleh siapa pun. Dalam situasi yang serba kompleks ini kita membutuhkan mentor dan ekosistem yang mendukung semua pihak.”

Untuk itulah, menurut Agus, program NVI Prasetiya Mulya menjadi penting dibangun. “Gambarannya bila tanpa pendidikan yang terstruktur, seperti yang kita rancang untuk para startup ini, jatuhnya berkali-kali, diharapkan dengan pendidikan yang terstruktur jatuhnya cukup beberapa kali saja dan cepat bangun,” Agus menegaskan.

Sementara itu, Deputi Infrastruktur Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF), Hari Sungkari, mengungkapkan pentingnya ekosistem yang mendukung untuk dapat melahirkan banyak startup di Indonesia. “Bicara soal startup, kami sebagai pemerintah bertugas untuk membangun ekosistemnya, di antaranya dengan infrastruktur yang baik seperti Innovation Hub,” ujarnya.

Menurut Hari, startup mau datang ke Innovation Hub karena mereka membutuhkan para mentor. Para mentor itu bisa berperan sebagai macam-macam, bisa menghubungkan para startup dengan pasar, visi bisnis, angel investor dan lainnya.

Di kesempatan lain, Dekan SBE Agus menambahkan, fasilitas Innovation Hub adalah wadah interaksi dalam ekosistem entrepreneur. “Fasilitas InnovationHub ditujukan sebagai wadah interaksi dalam ekosistem enterpreneur, di antaranya founders digital start-ups, venture capitalists, perusahaan pendukung digital startup (IT companies, business coaches, financial institutions), pemerintah, profesional perusahaan, dan komunitas,” tegasnya.

Menurut Direktur Program MM Universitas Prasetiya Mulya, Indria Handoko, program NVI dibuat dengan tujuan untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan membangun dan mengembangkan bisnis startup secara eksponensial (scale up).

“NVI merupakan program MM paruh waktu selama 18 bulan, termasuk matrikulasi. Pendekatan yang digunakan adalah kombinasi dari tiga hal utama: pendekatan akademik, praktikal dan ekosistem kewirausahaan. Pendekatan akademik, merupakan pondasi untuk membentuk pola pikir terstruktur yang dibutuhkan khususnya untuk mengambil keputusan stratejik yang cepat dan inovatif dalam bisnis startup,” jelas Indria.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)