Inovasi Ferron Tembus Pasar Inggris

Pesiden Direktur PT Ferron Par Pharmaceuticals, Krestijanto Pandji saat menerima Primaniyarta 2017.

PT Ferron Par Pharmaceuticals (Ferron) tercatat sebagai perusahaan farmasi pertama asal Indonesia yang berhasil menembus pasar Inggris. Keberhasilannya tak luput dari upaya anak usaha Grup Dexa Medica ini untuk senantiasa berinovasi dan selalu menjaga kualitas terbaik.

Selain itu, Ferron juga berhasil meraih peringkat satu di ajang Outstanding Corporate Innovator (OCI) 2018 untuk kategori Platinum Award. Penghargaan ini membuktikan bahwa inovasi Ferron memiliki dampak signifikan terhadap sisi bisnis dan kehidupan masyarakat luas.

Produk Ferron yang berhasil di ekspor ke pasar Inggris adalah Metformin Sustain Release Glucient SR (Glucient SR). Obat ini diperuntukan bagi pengidap penyakit diabetes dan dikembangkan melalui proses yang kompleks oleh para ilmuwan Indonesia. Nilai lebih Glucient SR adalah dapat larut dalam tubuh secara perlahan dengan aturan konsumsi yang teratur (pagi-siang-malam), mengingat Glucient SR sangat krusial bagi tubuh. 

Pengalaman menembus pasar Inggris di tahun 2007 tidaklah mudah, baru tahun 2010 Glucient SR berhasil mendapatkan otorisasi pemasarannya. “Untuk masuk sangatlah berat, kami harus mendapat sertifikasi izin obat UK dan sekaligus otorisasi pemasarannya,” kenang Presiden Direktur PT Ferron Par Pharmaceuticals, Krestijanto Pandji.

Krestijanto juga berpendapat bahwa kebutuhan masyarakat akan obat ini sangat diperlukan. Oleh karena itu, Ferron menjadikan Glucient SR sebagai obat generik plus. “Secara ilmiah obat ini disebut obat tablet New Drug Delivery System (NDDS) sehingga hanya perlu diminum sekali. Proses hancurnya perlahan diserap di lambung dan usus selama 24 jam, tergantung pada Ph obat. Glucient SR juga bersifat sustain release agar hanya dikonsumsi satu hari sekali,” jelasnya.

Mengikuti standar pasar Inggris, kemasan obat ini dilengkapi dengan huruf braille agar penyandang tuna netra dapat mengetahui informasinya dengan jelas. “Glucient SR di Inggris menguasai pasar nomor dua. Tahun 2016, Glucient SR berhasil mencatatkan pangsa pasar sesear 25-30%. Posisi ini bawah penguasa pasar nomor satu, Merck, sebagai perusahaan farmasi terkuat untuk obat diabetes melitus,” ungkapnya.

Ferron dan Grup Dexa Medica secara luas adalah generic company yang memberikan diferensiasi pada produk yang dihasilkan. Ferron berusaha memproduksi obat-obat generik dengan terus memperbaiki kualitasnya. Posisinya sebagai pemain baru di pasar dunia, memaksa Ferron harus bersaing ketat dengan berbagai pabrikan global seperti Merck dan Teva.

Inovasi lain yang telah dilakukan Ferron antara lain obat injeksi berbentuk liquid. Namun dikarenakan tidak stabil yang menyebabkan perubahan warna akibat kondisi udara, Ferron membuat produk injeksi lyophilized (beku kering) berbentuk powder pada 2006, Teknologi ini merupakan yang pertama di Indonesia dan baru bisa dilakukan oleh tiga perusahaan farmasi, salah satunya Ferron.

Inovasi Ferron lainnya adalah Fast Tab. Obat ini ditujukan untuk konsumen yang susah menelan (orang tua) dan akan meleleh secara perlahan jika ditaruh di bawah lidah karena pengaruh suhu badan kita. “Fast Tab dibuat dengan teknologi baru yang telah kami gunakan pada produk-produk anti mual. Fast Tab dipasarkan di Indonesia dan telah di ekspor ke negara-negara ASEAN dan Eropa seperti ke Inggris dan Jerman,” ungkap Krestijanto.

Industri farmasi yang sarat akan regulasi ini harus memenuhi standar Cara Pembuatan Obat Berstandar (CPOB) dengan menerapkan kualitas mutu yang dapat dipertanggungjawabkan. Tantangan inilah yang dihadapi pelaku industri farmasi agar terus mengacu pada standar kualitas Europian Good Manufacturing Practice.

Dalam menciptakan produk yang inovatif, Ferron tidak dapat lepas dari regulasi dan standar yang ada. Ferron telah berhasil mendapatkan sertifikasi dari GMP Certification dari BPOM RI sejak 2002 dan GMP Certification dari negara-negara lain seperti UK MHRA, Australia TGA, dan RP Jerman.

Ferron juga mengantongi ISO 9001-2000 SGS. “Kami membuat pabrik dengan standar tinggi agar sesuai dengan pasar luar, bukan hanya pasar Indonesia. Ferron juga telah mendapat Cara Pembuatan Bahan Baku Aktif Obat yang Baik (CPBBAOB) dari BPOM RI untuk bahan baku Omeprazole,” jelasnya.

Setelah berhasil menembus pasar Inggris, bagi Krestijanto, tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi ketersediaan produk di pasar dan daya saingnya. Di Inggris, pengguna obat tersebut ada 4 juta orang dan produk Glucient SR Ferron masuk ke dalam National Health Care System UK atau seperti BPJS versi Inggris. “Obat ini merupakan produk farmasi pertama yang masuk dalam BPJS versi Inggris yang kebanyakan didominasi perusahaan farmasi multinasional," bangga Krestijanto.

 

Reportase: Herning Banirestu
www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)