Inovasi jadi Kunci Bukit Muria Jaya untuk Ekspor Kertas Rokok

Kantor BMJ di kawasan Karawang, Jawa Barat.

Ekspor produk utama PT Bukit Muria Jaya (BMJ) berupa paper dan packaging produk. Packaging yang ditawarkan adalah untuk keperluan rokok, pembungkus filter rokok, sedangkan kertas produksinya dipergunakan sebagai kertas injil (bible).

Regulasi mengenai rokok menjadi tantangan tersendiri bagi BMJ. Iklan rokok yang dibatasi, pajak tinggi, impor duty yang dibatasi menjadi persoalan yang mau tidak mau mempengaruhi salah satu bisnis ekspor BMJ. Menurut Head of Supply Chain PT Bukit Muria Jaya, Fadjar Andi Wibowo, secara grafik konsumsi rokok di seluruh dunia sedang declining. “Jadi memang tantangan kami cukup banyak, pasar yang makin menyusut, pajak yang tinggi dan regulasi anti rokok semakin kencang,” tambahnya.

BMJ berusaha menghadapi tantangan dengan menerapkan strategi-strategi tertentu, salah satunya mengubah struktur organisasi pada sales dan marketing yang lebih fokus pada kebutuhan customer. Terbukti, di tahun 2017 kinerja ekspor BMJ mengalami kenaikan sekitas 2-5% untuk nilai dan volumenya. “Hal ini dikarenakan kami menerapkan pendekatan dengan customer yang cukup intens. Kami merespon dengan cepat setiap order yang datang dan ini menjadi salah satu keunggulan BMJ,” ugkapnya. Selain itu BMJ juga aktif mengikuti pameran terkait industri rokok. Supply chain dilakukan improvisasi dengan menyediakan semacam buffer stock untuk kebutuhan order yang mendadak.

Negara yang telah menjadi tujuan ekspor BMJ ada 57 negara dan tetap akan menjajaki market baru di Afrika Selatan, Amerika Selatan dan Eropa Timur. “Ada 20-30 calon customer baru yang sedang dalam proses develop. Untuk Asia Pasifik, market share kami cukup tinggi, 50% ekspor kami keempat negera ASEAN yaitu Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam,” jelasnya. Tak hanya menggarap pasar ekspor, BMJ juga berkonsentrasi pada kebutuhan perusahaan domestik. Gunanya sebagai penyeimbang jika pasar ekspor turun akibat regulasi yang ada sehingga secara langsung bisa saling mengisi.

Untuk raw material, BMJ menggunakan kombinasi bahan lokal dan impor. Bahan yang masih di impor adalah pulp dari kayu serat panjang yang hanya di dapat dari tumbuhan non-tropis. Indonesia sebagai negara tropis memiliki pulp dengan serat pendek. Untuk inovasi yang dilakukan BMJ yaitu security cigarate paper, barier co-tape placrape yang merupakan rokok dengan kapsul minyak menthol di dalamnya sehingga minyaknya tidak mudah rusak atau bocor. “Permintaan dari pasar luar negeri begitu beragam, ada juga kertas rokok beraroma seperti flavour vanila, fruity, dan strawberry. Untuk itu BMJ melakukan hire seorang lip-scientist untuk R&D-nya,” ujarnya. Inovasi ini dilakukan untuk dapat bersaing denngan pasar dan memperkuat R&D, laboratorium BMJ.

Nilai ekspor BMJ untuk tahun 2015 tercatat nilai revenue naik 10%, sedangkan di tahun 2016 naik 14% YoY. Di tahun ini, BMJ masih mengalami kenaikan namun tidak sebesar tahun sebelumnya. Hal ini dikarenakan secara total global ada penurunan permintaan di pasar. Konsumsi rokok turun dan regulasi yang makin ketat, dan tax dibeberapa negara yang semakin tinggi untuk rokok. Itu semua membuat kencenderungan konsumsi rokok turun diseluruh dunia. Kondisi ini tidak menyurutkan BMJ untuk tetap berada di bisnis ini. “Bagaimana cara mempertahankannya adalah dengan berinovasi tadi. Lebih banyak, range juga lebih luas. Lalu secara market kami lebih fokus, mapping sales people juga semakin fokus,” jelasnya. BMJ juga sedang menjajaki join venture dengan perusahaan sejenis lainnya di India dan Bangladesh.

 

Reportase: Arie Liliyah

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)