Inovasi Len Industri Sudah Diakui Negara Lain

Di era VUCA (Volatile Uncertainty Complexity Ambiguity), kunci bisnis berkelanjutan adalah inovasi. Namun di sisi lain, tidak banyak yang tahu bahwa di Indonesia, ada satu BUMN yang banyak menelurkan inovasi-inovasi hebat. Bahkan inovasi dan teknologinya telah digunakan negara lain.

Len Industri berkarya dalam senyap selama 53 tahun berdiri (27 tahun sebagai BUMN), mencetak inovasi-inovasi yang bisa menjadi kebanggaan bangsa ini. BUMN ini  berada di balik perubahan besar transportasi perkeretaapian di Indonesia dalam 7 tahun terakhir. Perseroan dipercaya pemerintah menggarap proyek-proyek prestisius urban transport sejak 2016 hingga sekarang. Perusahaan asal Bandung inilah yang menggarap Skytrain atau APMS (Automatic People Mover System) Bandara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta, Light Rail Transit (LRT) Sumatera Selatan, LRT Jakarta dan  LRT Jabodetabek. Bahkan di tahun ini, Len Industri berhasil mengekspor produk persinyalan KA dan modifikasi sistem persinyalan ke Bangladesh.

Proyek Palapa Ring Paket Tengah pada 2016 pun merupakan garapan anak usaha perusahaan ini di bawah bendera PT Len Telekomunikasi Indonesia. Anak usaha ini memang dipercaya mengelola pembangunan konstruksi jaringan satuan elektrikal dan telekomunikasi lainnya, penyelenggara jaringan tetap yang terintegrasi dan jasa telekomunikasi.

Ada lima lini bisnis berbasis teknologi yang digeluti, yakni elektronika pertahanan, transportasi perkeretaapian, energi terbarukan, ICT dan sistem navigasi. Di bidang energi terbarukan, Len Industri merupakan perusahaan pertama di Indonesia yang memproduksi modul tenaga surya pada 1998. Hingga kini, PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) sudah dibangun di hampir setiap pelosok Indonesia. Di bidang pertahanan, perusahaan ini memiliki produk andalan radio komunikasi militer dan sistem radar yang digunakan untuk menjaga keamanan dan keutuhan NKRI.

Bertepatan dengan 27 tahun Len Industri menjadi bagian dari BUMN, pada bulan Oktober 2018 ini, Len Industri melalui anak perusahaannya, PT Surya Energi Indotama (SEI), memenangkan penghargaan Solar Power Portal Award 2018 untuk kategori Community Solar Installation of the Year 2018 di Hilton Metropole NEC, Birmingham, United Kingdom (17/10/2018). Ajang internasional bergengsi ini merupakan ajang internasional PV Installation yang ke-6 kalinya diselenggarakan oleh Solar Media, di mana 150 lebih peserta nominasi memperebutkan 16 kategori pemenang.

Penghargaan tersebut berhasil diraih berkat kerja sama PT Surya Energi Indotama (SEI) dan Proinso dari UK membangun Off-Grid PLTS berkapasitas 492 KWp di Sumba Timur. PLTS tersebut berhasil melistriki 852 rumah dan 57 fasilitas publik di area-area terpencil di lintasan sepanjang 48 km. Desain unik sistem memanfaatkan tiang-tiang yang dapat membangkitkan listrik menggunakan panel surya yang dipasang di atasnya. Dengan desain ini maka tidak lagi diperlukan lahan yang luas seperti halnya pada PLTS konvensional. Program bantuan ini menjadi penting karena di daerah-daerah terpencil yang tidak terjangkau PLN, penggunaan PLTS akan mengatasi masalah ketersediaan listrik dengan biaya yang relatif terjangkau bagi masyarakat pedalaman dibandingkan menggunakan BBM.

Proyek ini merupakan program “The Renewable Energy Grant for Community” yang bertujuan untuk memfasilitasi warga lokal di daerah terpencil/pedalaman yang tidak memiliki akses listrik. Nantinya fasilitas ini akan dimiliki, dikelola, dan dipelihara oleh warga desa melalui BUMDes. Selama proyek berlangsung, pelatihan dan mentoring di bidang manajemen dan kewirahusahaan juga diberikan bagi lebih dari 250 warga di desa-desa terkait. Pelatihan dimaksudkan untuk meningkatkan tingkat ekonomi masyarakat sehingga mereka bisa membayar pemakaian listrik dimana dana tersebut dapat dikelola sebagai biaya operasional pemeliharaan PLTS untuk jangka panjang.

“Penghargaan ini menjadi salah satu wujud komitmen  Len Industri dengan anak-anak perusahaannya untuk mengoptimalkan kemampuan anak bangsa menuju industri teknologi kelas dunia. Dalam waktu dekat ini, kami juga akan meluncurkan produk inovasi terbaru PT Surya Energi Indotama (SEI), Len Solar., yaitu produk pemanfaatan PLTS yang dapat dinikmati oleh kalangan rumah tangga maupun perkantoran,” ujar Ir.Zakky Gamal Yasin MM, Direktur Utama PT Len Industri (Persero) melalui siaran pers (23/10/2018).

Untuk diketahui di tahun ini juga Menteri BUMN Rini M. Soemarno meresmikan BTS Tenaga Surya (Base Transceiver Station) untuk sistem telekomunikasi Pulau Terdepan Indonesia Timur di Desa Oebela, Pulau Rote, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur pada hari Senin (13/08/2018). Len telah membangun perangkat BTS Tenaga Surya sebanyak 383 unit melalui anak perusahaannya, PT Surya Energi Indotama (SEI). Sebanyak 317 unit dibangun dalam kurun waktu tahun 2016-2017. Sedangkan di tahun 2018 ini, SEI telah membangun 7 unit on air untuk melayani pelanggan. Serta 59 sudah siap integrasi dengan ViSat dan BTS, dan 3 dalam proses pembangunan.

Lebih jauh, karya-karya Len Industri yang menonjol dimulai pada 2011 dan 2012. Produk persinyalan KA SIL-02, yang merupakan sistem Interlocking Len Industri yang terus digunakan hingga kini. Produk persinyalan KA SIL-02 ini selain mendapat sertifikasi dari Departemen Perhubungan, juga mendapat penghargaan dari pemerintah dalam ajang Rintisan Teknologi Industri 2012, Anugerah BUMN 2012, BUMN Innovation Award 2013, Anugerah IPTEK 2017 dan terbaru saat ini masuk dalam nominasi ASEAN Engineering Award 2018 yang akan diumumkan November mendatang.

Pada 2013, produk di bidang pertahanannya sudah diakui industri pertahanan internasional sebagai mitra strategis. Selain itu di tahun yang sama, Len Industri mulai memasuki pasar LTE (Long Therm Evolution) dan Pemancar TV Digital untuk bisnis ICT, Double-Double Track dan Urban Transport untuk bisnis perkeretaapian. Sebagai informasi, Len Industri adalah penggagas dibentuknya Organisasi International IRSE (Institution of Railway Signal Engineers) Indonesia Section pertama di Asia Tenggara.

Selanjutnya  tahun 2014 Len Industri telah memulai bisnis investasinya di lini bisnis renewable energy dengan membangun IPP (Independent Power Producer) PLTS. Yakni pembangunan IPP PLTS di Kupang sebesar 5 MWp. Proyek ini merupakan IPP pertama dan PLTS terbesar di Indonesia saat itu yang diresmikan oleh Presiden RI Joko Widodo pada 27 Desember 2015.

Tahun tersebut, juga merupakan perwujudan ambisi Len Industri dalam melakukan realisasi pengembangan pertama yaitu pembangunan Len Technopark di lahan seluas kurang lebih 10 hektar di Subang, Jawa Barat. Dalam pembangunan tahap pertama Len Technopark ini akan dibangun fasilitas produksi untuk pengerjaan Proyek Pertahanan Udara Rudal Starstreak (Multiyears).

Dalam bidang renewable energy, Len Technopark merupakan pengembangan fasilitas produksi panel surya dari yang sudah ada di Len Industri saat ini dengan kapasitas produksi  45 MWp per tahun dan ditargetkan menjadi  350MWp  per tahun. Diproyeksikan, selain memiliki nilai industri, Len Technopark ini juga akan menjadi kawasan wisata teknologi.

Lalu di lini bisnis perkeretaapian pada 2014, Len Industri sukses merampungkan proyek Double Track Lintas Utara Pulau Jawa sepanjang 435 km yang melintasi kurang lebih 55 stasiun dan sekitar 20 Intermediate Block yang juga dilengkapi dengan perangkat telekomunikasi berbasis serat optik.

Di tahun yang sama, tepatnya pada 8 Mei 2014, Len Industri mencatatkan sejarah penting dengan melakukan Switch Over sepanjang 60 km di jalur lintas utara secara serentak. Transportasi massal modern merupakan kunci sebuah negara maju. Peran Len Industri terlihat dalam mendorong kemajuan transportasi massal di Indonesia, terutama di infrastruktur perkeretaapian, utamanya dalam bidang persinyalan.

Pengembangan Energi Terbarukan

Pada 2015, Presiden RI Joko Widodo meresmikan Independent Power Producer Pembangkit Listrik Tenaga Surya (IPP PLTS), yang merupakan terobosan PT Len Industri (Persero) dalam melakukan bisnis investasi. Pembangkit listrik terbarukan ini berkapasitas 5MWp berlokasi di Kupang NTT yang merupakan IPP PLTS dengan kapasitas terbesar yang pernah dibangun di Indonesia saat itu.

Produk panel surya besutan perusahaan di Bandung itu pun telah digunakan di hampir seluruh pelosok Indonesia. Kali pertama penggunaan panel surya produksi Len Industri adalah dalam program 1 juta rumah berpanel surya. Proyek yang didanai Bank Dunia, AUSAID dan lembaga internasional lainnya itu bertujuan untuk menerangi masyarakat pedesaan. Proyek yang kemudian berhenti itu belakangan ‘dilanjutkan’ dengan model yang berbeda.

Dulu panel surya dipasang secara terpisah, di setiap rumah. Namun kini, panel surya dibangun tersentralisasi, menjadi semacam gardu pembangkit listrik tenaga surya. Pendanaan dunia ini dilanjutkan oleh Kementerian ESDM melalui Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi (LPE) untuk menjalankan proyek di daerah yang belum ada listrik.

Dua daerah yang dipasang panel surya Len Industri di tahun tersebut adalah di Nusa Tenggara Timur dan Papua. Di kedua daerah tersebut pembangunan PLTS dikelola oleh PT Surya Energi Indotama (SEI), anak usaha Len Industri yang khusus menangani tender dan instalasi PLTS. Ada perbedaan signifikan dalam proyek PLTS di Kupang dan Papua. Perbedaannya, IPP PLTS Len di Kupang dibangun dengan skema Independent Power Producer (IPP) dengan dana investasi. Sementara di Papua menggunakan dana dari APBN melalui Kementerian ESDM.

Proyek di Kupang menjadi IPP PLTS yang pertama dan terbesar di Indonesia yang menerapkan konsep investasi oleh Len Industri. Jangka waktu balik modalnya diperkirakan mencapai 8-9 tahun dengan perjanjian kerja sama jual beli (PPA) listrik selama 20 tahun dengan PLN. PLTS Len Industri di Kupang sekaligus memberi sumbangan daya yang cukup signifikan untuk kota yang hanya memiliki daya listrik efektif sebesar 68 MWp tersebut.

Sementara di Papua, proyek PLTS Len Industri terdapat di dua kawasan. Yang pertama pembangunan 8 PLTS di Kabupaten Keerom, sebesar 145 kilowatt peak (KWp) yang telah diresmikan pada 10 Maret tahun 2017. Kedua PLTS di Kabupaten Manokwari dengan daya 2 MWp telah beroperasi. Dalam satu desa bisa mendapat daya 15 hingga 30 KWp tergantung jumlah penduduknya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)