Inovasi Teknologi Perusahaan-perusahaan Indonesia di Masa Krisis

Di era digital ini, literasi digital menjadi suatu keniscayaan. Semua pihak dalam organisasi atau perusahaan bekerja sama demi terwujudnya integrasi data dalam proses bisnis. Demikian benang merah dalam ajang Tableau Live Asia Pacific (11/5/2021) yang dipandu oleh Suhendra Tandera, Senior Manager Solution Engineer Tableau dengan pembicara dari PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk., PT Central Proteina Prima Tbk dan PT MRT Jakarta.

I Gede Kukuh Adi Perdana, Head of Data and Analitycs PT Bank Rakyat Indonesia, Tbk.menjelaskan, di BRI Divisi Enterprises Data Management yang baru dibangun Juli 2020 di mana dia bertugas, difokuskan secara independen untuk mengelola data secara end- to-end process dari sisi technical hingga ke governance. Sehingga seluruh data di BRI bisa dikelola di satu tempat dan akuntabilitasnya jelas.

“Transformasi digital di BRI sudah berjalan sejak 2018. Sehingga Ketika kami menghadapi pandemi, tidak terlalu kaget. Menurut kami transformasi digital itu memberikan dampak yang sangat luas di dalam kehidupan manusia, tak terkecuali di perbankan.Kami di BRI dituntut untuk terus berinovasi dan berkolaborasi untuk mempersiapkan diri menghadapi peluang-peluang baru di pasar akibat adanya transformasi digital,” ujar Kukuh.

Tantangan utama dalam transformasi digital ini khususnya di area BRI adalah  berhadapan dengan berbagai jenis data. Data-data ini tidak bisa diabaikan. Tentunya dalam proses penghimpunan dan pengolahan data perlu dipikirkan strateginya dengan jelas.  Setelah data bisa dikumpulkan, perlu dipikirkan bagaimana memanfaatkannya. Nah untuk mempersiapkan era digital ini, BRI memiliki aspirasi untuk menjadi organisasi yang berbasiskan data atau data-driven organization. Sehingga di tahun 2022  bisa menjadi worldclass data company.

Salah satu caranya adalah BRI menjalankan data literacy.  BRI mengajak seluruh stakeholder untuk mengenal data yang awalnya dulu hanya orang IT yang

mengerjakan. “ Dengan program data literacy, kami ajak mereka untuk berperan aktif dalam melakukan analisa data. Tentu tantangannya adalah penggunaan platform. Kami di BRI sudah menggunakan Tableau di dalam proses penyajian data itu. Dalam program data literacy kami ajak teman-teman di bagian bisnis bagaimana caranya belajar menggunakan Tableau, bagaimana menggunakan datanya, bagaimana menyajikan datanya. Sekarang tinggal drag and drop saja, sudah keluar hasilnya. Setelah diajarkan, mereka selanjutnya diajarkan bagaimana data presentasinya. Dengan cara melakukan storytelling. Kami membantu mereka menyampaikan ide dan opini dalam bentuk data kepada pimpinan terkait hingga ke BOD,” ungkap Kukuh lagi.

Di BRI Divisi  Enterprises Data Management percaya bahwa ketika kita ingin membangun budaya sadar akan data, itu bukanlah sebuah proyek, melainkan sebuah journey. Membangun budaya sadar akan data itu mau tidak mau harus dilalui, dari membangun awareness di teman-teman bisnis, membangun kapabilitas di teman-teman bisnis, itu harus melibatkan seluruh stakeholder. Goal-nya adalah masuk ke dalam proses pengambilan keputusan, di mana semua pengambilan keputusan selalu mengandalkan data.

Sementara itu, Yanto Yulianto, Division Head Information System and Technology PT MRT Jakarta, mengungkapkan, pPendapatan MRT Jakarta bergantung pada berapa banyak penumpang yang diangkut dari titik A ke B. Selama pandemi ini dan dengan pembatasan sosial skala besar, jumlah penumpang yang diangkut jauh lebih rendah. Ini menjadi masalah besar.

Sementara itu, sebagai perusahaan transportasi, MRT Jakarta harus memainkan peran dalam mengangkut orang. Di sisi lain, seluruh dunia telah diinstruksikan untuk tinggal di

rumah. Ini adalah bisnis yang rumit bagi perusahaan transportasi. “Oleh karena itu, kami harus membuat pola bisnis baru yang dituntut inovatif. Berubah dari perusahaan transportasi menjadi perusahaan transformatif. Kami harus bertransformasi ke skema bisnis lain supaya survive,” jelAs Yanto menguraikan.

Dari sisi manajemen, MRT Jakarta memiliki beberapa portofolio transformasi. Dimulai dari konsep bisnis beyond ridership, beyond physical mobility, karena orang tidak diperbolehkan bepergian, dan terakhir, beyond jaringan transportasi. “Dengan kondisi ini kita harus kreatif. ApAlagi yang harus kita olah untuk survive. Kami memiliki data loyalis pelanggan. Kami memiliki data penumpang selama dua tahun operasi. Data will become new oil right? Kami akan mengalirkan data mereka menjadi sesuatu yang dapat memonetisasinya. Tentu saja kami harus menjaga privasi para pengguna. Jangan sampai datanya data mentah kami beri kepada pelanggan yang akan mengolah data kami,” kata Yanto.

Ada beberapa proses yang harus dilakukan MRT Jakarta terlebih dulu untuk memastikan tidak melanggar privasi pengguna. Contohnya, di sekitar stasiun MRT ada banyak mall. MRT memiliki banyak calon pengiklan. Salah satu data yang dimiliki  misalnya, di Stasiun Blok M atau di Stasiun Bundaran HI, itu mayoritas yang menggunakan adalah wanita pekerja. Akan paling banyak di working hour jam berapa sampai jam berapa. Mungkin data spesifik itu yang kami jual. Yang pas untuk menampilkan iklan parfum atau iklan yang cocok untuk working ladies adalah di jam yang tahu peaknya sedang bagus. Sedangkan untuk bisnis lainnya, di stasiun mana saja yang banyak penumpang turun,  misalnya untuk berolahraga di Senayan. Kebanyakan mereka datang pada hari Sabtu dan Minggu maka iklan yang paling tepat adalah memasang iklan sepatu adalah di jam ini dan hari ini, dan viewer-nya sesuai.

Cerita lain diungkapkan oleh Ivan Wibowo Hudyana, Chief Information Officer PT Central Proteina Prima Tbk. “ Continuous improvement atau iteration itu adalah kunci untuk memasuki data culture enterprise atau data culture organization. Sebab kita sharing saja, semua data warehouse  atau analytic itu adalah 100 persen cloud-based. Kalau mau dapat real time data, cost untuk biaya ekstraksi data itu meningkat secara signifikan,” jelasnya. Pendidikan adalah kuncinya. Karena mereka secara default menyukai datanya. Tetapi mereka terikat pada kebebasan menyebar spreadsheet yang kita tahu bahwa pada tingkat tertentu spreadsheet tidak dapat berkembang dan tidak bisa dipercaya. Bagaimana mengubah manajemen dan literasi berkelanjutan adalah kuncinya.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)