IPA Convex 2019 Tingkatkan Sinergi Semua Pihak Terkait

Ignasius Jonan Menteri ESDM RI saat memberikan sambutan pada IPA Convex 2019 ke-43 di JCC Senayan Jakarta

Industri migas masih menghadapi masa-masa berat. Sejak 2012 kondisinya harga minyak bumi, belum kembali ke harga US$ 100 per barel. Hal ini memaksa para pelaku bisnisnya terus meningkatkan efisiensi dan melakukan langkah-langkah strategis guna menjaga kesehatan bisnis dan tersedianya pasokan minyak bumi.

Dibutuhkan kolaborasi dan sinergi antara pemerintah, pelaku industri dan pemangku kepentingan dalam menghadapi tantangan ini. ”Semua memahami bahwa kita dalam periode decline, jika tidak melakukan apa-apa penurunan ini decline mencapai 20%. Makanya penting tingkatkan produktivitas, komitmen pada rencana kerja dan sinergi,” kata Dwi Soetjipto, Kepala SKK Migas di JCC Senayan Jakarta disela-sela IPA Convention and Exhibition 2019 (IPA Convex 2019).

Gelaran akbar migas ke-43 ini diselenggarakan Indonesian Petroleum Association (IPA) pada 4-6 September 2019 juga dalam upaya mencari solusi bersama berbagai tantangan dan bagaimana para pelaku bisa berkolaborasi lebih luas ke depan di industri ini.

Walau demikian Dwi meyakini, potensi investasi di industri migas di Indonesia masih besar. Sebab dari 128 cekungan di Indonesia yang sudah dieksplorasi baru 54 cekungan. Dan dari 54 ccekungan itu baru 18 cekungan yang aktif berproduksi.

Senada dengan Dwi, Vice President IPA Louise M McKenzie yang juga dari ExxonMobil Cepu Ltd .,melihat secara geologikal, Indonesia masih sangat potensial cadangan migasnya. Dalam sambutan saat pembukaan IPA Convex 2019 ia juga mengatakan IPA telah bekerja samma dengan pemerintah agar investasi industri migas di Indonesia lebih menarik.

“Industri ini membuka lapangan kerja, mendorong pertumbuhan ekonomi. Pada IPA Convex 2019 ini kami terus mendorong kolaborasi agar lebih menarik untuk. Investasi industri minyak dan gas khususnya di upstream. Dengan harga minyak yang akan makin baik diharapkan semakin banyak yang investasi di Indonesia. Kami harap 2019 banyak yang lakukan eksplorasi,” ujarnya (04/09/2019).

Dwi berpendapat dengan kondisi tantangan di industri ini yang makin besar, dibutuhkan kekutan investasi, terlebih banyak sumber migas posisinya jauh dari fasilitas infrastruktur namun di sisi lain, kita harus tingkatkan produktivitas. “Kami mendorong investasi di mana bisa menciptakan provitabilitas. Sinergi ini penting, antara kontraktor, investor, kluster, dan pemangku kepentingan di sekitarnya. Ada 6-7 kluster di Indonesia, antar kluster bisa kerja sama, jangan membuat sendiri-sendiri dalam hal infrastruktur. Open access harus didorong di bisnis migas,” tandasnya.

Louise mengatakan bahwa pemerintah Indonesia saat ini telah menunjukan perhatian besar di migas, IPA siap bekerja sama guna meningkatkan produktivitas migas nasional. “Kita merasakan banyak capaian dari Pemerintah Indonesia, mulai dari kemudahan berbisnis, kebijakan fiskal yang pro-pertumbuhan, serta fokus yang baik pada kebijakan di bidang migas oleh Kementerian ESDM,” imbuhnya.

Louise mengungkapkan, terbitnya keputusan Pemerintah tentang persetujuan revisi POD Blok Masela dan perpanjangan kontrak Blok Corridor menjadi sinyal yang baik bagi para investor. Selain itu, Pemerintah juga diketahui telah melakukan berbagai upaya dalam rangka meningkatkan daya saing Indonesia. “Regulasi dan perizinan yang semakin sederhana dan pembukaan akses data migas, serta insentif perpajakan merupakan keberlanjutan langkah Pemerintah menuju arah yang tepat,” katanya.  

Ignasius Jonan,Menteri ESDM yang hadir menyampaikan sambutan di IPA Convex 2019, mengatakan bahwa pemerrintah terus mencari cara dan langkah guna meningkatkan efisensi di industri ini. “Tidak ada yang bisa menjamin cadangan migas di dunia ini. Teknologi pun tidak selalu bisa mendorong efisiensi. Kami mendorong industru ini sekompetitif mungkin di kancah global. Tidak pernah tahu krisis migas akan sampai kapan, bisa jadi tahun depan akan ada peningkatan ekonomi global dan oil price. Maka itu harus didorong regulasi baru, data policy,” ujarnya.

Dwi memandang beberapa langkah strategis bisa diterapkan dalam upaya meningkatkan efisiensi dan produktivitas di industri migas. Pertama, Pengadaan bersama, menurutnya, membeli sedikit akan lebih mahal, dibanding membeli banyak. “Artinya kebutuhan-kebutuhan kontraktor per kluster sebenarnya bisa dikonsolidasikan,” terangnya. Misal untuk alat beratnya, menyewa per 6 bulan dan jangka panjang tentu lebih murah jang jangka panjang.

Kedua, Teknologi harus diterapkan yang terbaik, produktivitas akan lebih baik dan ini bisa meningkatkan misalnya lifting migas kita. Ketiga membuat investor tertarik eksplorasi di Indonesia, melalui perbaikan kebijakan di industri ini. Dalam 2 tahun terakhir terlihat peningkatan, pada 2018 nilainya U$ 11 juta dolar lebih, tahun ini diharapkan meningkat menjadi Rp 14,79 juta.

Diharapkan, penyelenggaraan IPA Convex 2019 dapat memberikan kontribusi positif bagi kemajuan industri migas nasional dan peningkatan produksi nasional pada khususnya serta berdampak pada pertumbuhan perekonomian dan ketahanan energi di masa mendatang. 

Selain mendukung ketahanan energi, industri migas nasional juga berdampak besar pada peningkatan sumber daya manusia Indonesia khususnya tenaga kerja yang terampil dan berbakat di seluruh wilayah Indonesia. Sudah banyak putra-putri terbaik Indonesia yang bekerja di industri migas nasional dan duduk pada posisi-posisi strategis dan pengambil kebijakan. Hal ini merupakan salah satu efek berganda yang muncul atas berkelanjutannya industri migas nasional. 

Gelaran IPA Convex ini mengambil tema “Driving Exploration and Optimizing Existing Production for Long Term Energy Security”. Selama 3 hari penyelenggaran, ada berbagai diskusi, mendengar pandangan para ahli dari Indonesia dan mancanegara. Diikuti oleh 119 perusahaan peserta pameran, IPA Convex 2019 menargetkan untuk dikunjungi oleh lebih dari 20.000 pengunjung serta 1.700 orang peserta konvensi. Pada sesi teknis diikuti sekitar 120 presentasi dan 60 presentasi poster. Mereka terdiri dari pekerja profesional di industri migas dan para mahasiswa. 

Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, IPA Convex 2019 juga mengadakan sesi Teknologi, IPA Voice, Best Booth Contest, PetroChallenge. Namun ada hal baru yang diadakan pada penyelenggaraan IPA Convex tahun ini, yaitu Jam Session. Ada dua sesi Jam Session yang akan diadakan selama tiga hari pelaksanaan acara. Pada Jam Session nanti akan membahas mengenai pentingnya kontribusi generasi muda terhadap industri hulu migas Indonesia. 

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)