Ipsos Paparkan Studi Indonesia Flair 2018

Ipsos Indonesia yang memulai kegiatannya sejak tahun 2008, mengukuhkan keberadaannya di industri riset pemasaran, survei dan polling di Indonesia.

Salah satunya, Ipsos Indonesia memperkenalkan hasil studi terbaru yang diberi nama Indonesia Flair kepada media. Riset ini menampilkan penelitian dan pengamatan dari perspektif dan spektrum yang luas untuk menggambarkan kondisi sebuah negara.

Acara pemaparan studi dihadiri oleh Prime Secretary dari Kedutaan Perancis untuk Indonesia, Quentin Biehler; Soeprapto Tan, Managing Director Ipsos Indonesia, dan para spesialis di Ipsos Indonesia yang terlibat dalam pembuatan Indonesia Flair, serta seorang penggiat kuliner khas Indonesia dan ketua Aku Cinta Makanan Indonesia, Santhi Serad.

Ipsos Flair pertamakali diperkenalkan pada 2005 di Perancis, di mana kantor pusatnya beroperasi sejak40 tahun lalu. Nama IpsosFlair dipilih, karena kata ‘Flair’ bisa diartikan sebagai insting, atau intuisi. Flair adalah kemampuan untuk menangkap situasi, untuk mengenali langkah yang tepat, dan tahu saat yang tepat untuk bertindak dan mengambil keputusan.

“Tahun ini, Ipsos Indonesia telah merampungkan studi Ipsos Flair yang memfokuskan diri pada beragam hal tentang Indonesia,” ungkap Soeprapto. Indonesia Flair merupakan rangkuman dari pengetahuan dan hasil pengamatan para spesialis kami, di Indonesia seputar aspek moneter, bisnis, pemasaran, pola penggunaan media massa, kebudayaan, hiburan, tayangan di media massa, pariwisata, telekomunikasi serta otomotif, dan ketenagakerjaan.

“Banyak temuan menarik dalam studi yang mengamati berbagai aspek ini, yang menggambarkan banyak hal yang serba paradoks atau berlawanan, tengah terjadi di Indonesia, sehingga kami mengambil tema Dealing with The Opposites, untuk Indonesia Flair ini,’” tambah Soeprapto.

Menurutnya, salah satu hasil pengamatan Ipsos, Indonesia belum berada di posisi yang kuat, meskipun pembangunan infrastruktur terus berlangsung, dan pertumbuhan ekonomi secara positf juga berhasil dicatat. Saat ini, Indonesia berhasil mencatat 40% dari Gross Domestic Product (GDP) di ASEAN, dengan angka kelas menengah yang diharapkan akan semakin bertambah pada tahun 2030.

GDP per kapita berada di urutan ke-107 di dunia, dengan 100 juta dari 260 juta hidup pada atau di bawah garis kemiskinan. Namun, seperti yang ramai dibicarakan di media sosial, jumlah kekayaan empat orang terkaya di Indonesia, ternyata melebihi kekayaan 100 Juta orang termiskin di Indonesia.

Selain itu, menurut pengamatan Ipsos, Indonesia terus bergerak maju. Demand akan apartemen lebih tinggi dibandingkan rumah bagi keluarga muda. Ini untuk pertama kalinya di Indonesia, seiring dengan meningkatnya gaya hidup kaum milenial. Angka penjualan kendaraan juga meningkat, seperti di lima negara lainnya di Asia Tenggara (Thailand, Malaysia, Filipina, Vietnam dan Singapura).

Namun, pada saat bersamaan, pengelolaan waktu dan dinamika kehidupan di Indonesia juga semakin berubah. Perempuan Indonesia diharapkan untuk dapat beradaptasi dengan bijaksana, untuk dapat memberikan yang terbaik bagi keluarganya. Jika diamati, banyak program TV yang membantu mereka untuk memutuskan makanan apa yang harus disajikan untuk keluarganya, maupun untuk dinikmati oleh dirinya sendiri. Program TV tidak saja menampilkan cara memasak masakan favorit, tetapi juga menampilkan pengalaman menikmati tempat makan dengan menu yang menggoda.

Mengenai bagaimana orang-orang Indonesia menikmati kuliner dan beragam sajian hidangan yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, Santhi Serad mengungkapkan “Saat ini lebih banyak orang Indonesia menghargai keberagaman pangan lokal dan lebih mau mengenal Indigineous food dengan mengeksplorasi melalui culinary trip ke berbagai daerah di Indonesia, di tengah gempuran restoran dengan franchise dari luar negeri.”

”Taste, knowledge dan experience dalam menikmati makanan lokal sesuai adat istiadat setempat menjadi daya tarik bagi mereka. Di Jakarta dan Bali, banyak bermunculan resto Indonesia yang inovatif, ini artinya konsumen tertarik untuk kembali ke selera asal atau tradisional, budaya ‘on the go’ semakin meningkat,” jelasnya.

Saat ini kesadaran hidup sehat di masyarakat makin meningkat, sehingga bermunculan produk berbahan natural dan menyehatkan. Mencari tahu informasi mengenai resto baru atau jenis makanan tertentu banyak melalui sosial media. Street food legendaris yang ada di kota-kota besar, mulai bermunculan kembali karena terbantu dengan adanya transportasi online.

www.swa.co.id30

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!