Iruna Siap 'Mendisrupsi' Industri Logistik Indonesia

Yan Hendry Jauwena, CEO PT Jasa Digital Nusantara yang menaungi Iruna E-Logistics

Iruna eLogistics adalah perusahaan penyedia solusi logistik berbasis digital karya anak bangsa di bawah bendera PT Jasa Digital Nusantara. Perusahaan yang didirikan Yan Hendry Jauwena bersama rekan-rekannya pada awal 2017 lalu itu memberikan layanan sistem warehousing yang terintegrasi, foto produk dan pengiriman ke pelanggan.

Yan yang memiliki pengalaman karier di dunia logistik (PT DHL Global Forwarding Indonesia dan PT Pos Logistics Indonesia) juga telah merancang sebuah sistem yang menjadi ciri khas layanan Iruna, yakni Spiderloop System. Bersama timnya, mereka meyakini sistem tersebut akan mendisrupsi industri logistik tanah air lantaran mampu memangkas separuh dari biaya logistik konvensional. Apa dan bagaimana sistem ini bekerja ? Berikut wawancara SWA Online dengan CEO Iruna Logistics itu.

Seperti apa sistem spiderloop itu ? 

Ini adalah pola operasi yang bisa membuat biaya pengiriman menjadi 50% lebih murah dari yang konvensional. Selain itu juga akan lebih cepat. Jadi kalau pola kurir tradisional itu kan pakai pola hub and spoke (pengumpul dan pengumpan), nah dari tiap cabang hub and spoke itu akan bercabang lagi ke ranting-ranting, begitu terus sampai ke titik terdekat alamat customer, baru kemudian paket diantar. Nah pola ini membuat pelaku logistik membutuhkan banyak sekali tempat transit, memakan waktu dan biaya. Jadi mengganggu kualitas layanan.

Pola itu yang kami hapus, dan kami ganti dengan moving hub. Kami sudah determine titik-titiknya. Jadi kami punya mobil van yang keliling yang gunanya sebagai mobile hub atau transit point yang sifatnya tidak permanen, sehingga kami bisa punya cost yang jauh lebih efisien, bisa punya waktu kirim yang jauh lebih cepat, dan kualitas barang lebih baik karena barang tidak ditumpuk-tumpuk dalam waktu lama.

Ini lebih menguntungkan buat klien kami dan buat kami sendiri sebagai operator. Ini didukung teknologi digital yang mumpuni. Nah, natinya barang yang ada di mobil van itu akan dijemput oleh para rider kami (menggunakan motor roda dua) di titik-titik transit sementara itu. Si rider yang kemudian akan membawa ke alamat yang dituju. mereka inilah yang ibaratnya menjadi kaki-kakinya laba-laba (spider). Inilah kenapa disebut spiderloop.

Klien kami, contohnya seperti Blibli.com, harus mengubah SOP di gudangnya karena mobil van kami datang mengambil barang setiap 30 menit sekali, beda dengan sistem tradisional barang diambil setiap jam empat sore.

Seperti apa teknologi yang bergerak untuk dukung pola moving hub ini ?

Kami menyebutnya Power Seller, ini adalah sebuah aplikasi mobile yang didesain untuk menjadi dasbor bisnis bagi pelanggan. Mecakup sistem pelayanan end-to-end dari Iruna, mulai dari layanan channel management, fulfillment center dan last mile delivery. Semua dapat dipantau melalui satu aplikasi.

Selain itu ada teknologi Leanbox, yang terdiri dari tiga sistem utama, yakni Warehouse Management System, Transport Management System, dan Rider Application yang dilengkapi denga e-signature dan visual receiver image capturing function.

Jadi dengan model spiderloop atau moving hub ini biaya yang dipangkas apa saja ?

Biaya handling, biaya penumpukannya. Kalau pola kurir tradional biaya handling itu dua kali in and out di setiap titik transit. Kedua, storage, tidak diperlukan lagi, cukup satu gudang utama disetiap kota, karena barang di mobil van itu saja terus keliling dari titik ke titik “ngetem”-nya. Jadi tidak perlu sewa tempat dan tenaga tambahan untuk di setiap titik transit. Nah yang seperti yang disruptif.

Kliennya siapa saja ?

Beberapa e-commerce seperti Blibli.com, Lazada, Blanja, akulaku, dan sebentar lagi Tokpedia akan resmi bergabung. Lalu yang korporat ada Pertamina. Sisanya lebih banyak UKM.

Layanannya sudah ada di kota mana saja ?

Kami sekarang baru melayani di Jabodetabek dan Surabaya. Tahun depan segera akan kami buka di Denpasar, Makassar dan beberapa kota di Sumatera.

Berapa target pertumbuhan tahun depan ?

Target kami bisa tumbuh lebih dari 400%, secara revenue dan volume. Di 2017 pertumbuhan kami secara revenue-nya memang masih single digit, itu karena sebenarnya kami baru bisa benar-benar fokus jalan itu di enam bulan terakhir, sebab enam bulan awal kami masih disibukkan dengan mengelola internal perusahaan.

Maka tahun 2018 nanti kami optimistis  tumbuh double digit, nah itu kalau dikonversi ke persentase jadi 400%. Memang pertumbuhannya startup company selalu begini. Nanti pada saat masuk di tahun kedua dan ketiga eksponennya akan tumbuh normal.

Apa saja rencana di tahun 2018 nanti ?

Kami masih akan ekspansi, karena memang kami baru masuk ke tahap itu. Tahun pertama, kami sudah melayani lebih dari 50 klien dari industri fashion, consumer goods, accesoris, food, frozen product, FMCG. Ke depannya apa yang kami lakukan adalah tentunya kalau bertumbuh, di kami yang menjadi concern adalah kualitas operasional dan teknologi.

Kami harus semakin kuat tapi bukan berarti jadi kaku, tetap fleksibel. Jadi kapabilitas dan fleksibilitas teknologi kami bertumbuh dan berkembang dengan begitu klien bisa kami fasilitasi untuk berbagai macam strategi yang mereka miliki. Jadi rencananya kami kedepan bisa customized untuk menjembatani pertumbuhan di 2018 yang sangat agresif.

Selain itu, kami sedang menjajaki untuk bisa bekerja sama dengan Bluebird, rencananya kami akan menggunakan bagasi taksi-nya yang seringkali kosong untuk mengirim barang. Dan ada beberapa rencana lainnya masih dengan prinsip sharing ecoonomy dan digital minded.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.Swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!