JFFF, Upaya Dongkrak Citra Fashion dan Kuliner UKM di Indonesia

Salah satu peserta kuliner di JFFF (foto : dok)

Beragam cara untuk meningkatkan peran UKM di Indonesia. Salah satu cara yang dilakukan PT Summarecon Agung Tbk. dengan menggelar Jakarta Fashion & Food Festival (JFFF) 2019. Acara ini merupakan program tahunan hasil kerjasama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta bersama Summarecon.

JFFF bertujuan mengangkat citra, harkat dan martabat bangsa Indonesia melalui industri yang berbasis budaya dengan membuat sebuah wadah tempat berkumpulnya produk mode dan kuliner Indonesia berkualitas internasional.

Menurut Tommy L, Deputy Chairman JFFF 2019, acara pesta kuliner nusantara ini diikuti oleh lebih dari 100 pedagang makanan terpilih, dan 60% diantaranya adalah pelaku UKM. Para pecinta kuliner Jakarta kembali dimanjakan dengan hadirnya Kampoeng Tempo Doeloe (KTD), sebagai bagian dari rangkaian acara Food Festival dalam program Jakarta Fashion & Food Festival (JFFF) 2019 yang digelar di La Piazza, Kelapa Gading, (7 Agustus-8 September 2019).

Untuk memeriahkan penutupan JFFF tanggal 7 dan 8 September 2019, akan dimeriahkan beragam kuliner Bandung dan Cirebon diwakili oleh Kupat Tahu Gempol 1965, Batagor Abun, Ayam Madu Sibangkong, Es Duren Sakinah Pak Aip, Iga Bakar Si Jangkung, Nasi Jamblang Mang Dul, Mie Koclok Edi, Empal Gentong Mang Darma Asli dan Kerupuk Sambal.

Sebelumnya, juga telah hadir kuliner legendaris Jakarta yang diwakili oleh Soto Tangkar Tanah Tinggi 1946, Bakmi Amoy Gang Gloria Kota Glodok 1980, nasi Uduk kebon Kacang, Rujak Shanghai Encim 1950, Ketan Susu Kemayoran, Pempek Megaria 1989, Es Teler sari Mulia Megaria, Soto Betawi H. Ma’Ruf Sejak 1940.

Selain itu, hadir juga legendaris dari Bogor dan Sukabumi, seperti Soto Kuning Pak Aming, Cungkring Pak Jumat, Martabak Air Mancur, Es Bir Kotjok Si Abah Sejak 1965, Toko Asinan “Asli Bogor” Sejak 1967, Asinan Jagung Bakar Pak Sabur Sejak 1968, Bubur Ayam Bunut Siliwangi Sukabumi.

Sedangkan kuliner legendaris Jawa, dari kota Semarang, Yogyakarta, Solo, dan Surabaya diwakili oleh Mangut Kepala Manyung Bu Fat, Asem-Asem Daging Koh Liem Semarang, Lunpia Super Cik Yoen, Semarang, Tahu Lek Telor Cak Kahar Surabaya, Nasi Liwet Bu Wongso Lemu, Pisang Goreng Madu Bu Nanik, dan Gudeg Sagan Yogyakarta.

Diakui Tommy, seluruh rangkaian acara JFFF, termasuk Kampoeng Tempo Doeloe di dalamnya merupakan wujud nyata kepedulian JFFF terhadap perkembangan industri lokal berbasis budaya. Kepedulian terhadap UKM juga menjadi bagian yang penting, terlihat dari banyaknya jumlah UKM yang terlibat dalam event ini. "Diharapkan melalui acara ini, KTD akan membawa banyak manfaat dan kemajuan bagi industri kuliner tanah air, yang pada akhirnya turut menggerakan perekenomian bangsa," kata Tommy.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)