Jiwasraya Tetap Berusaha Growing Meski Telah 157 Tahun

Direktur Utama Jiwasraya, Hendrisman Rahim.

Satu-satunya perusahaan asuransi berumur lebih dari satu abad, tepatnya 157 tahun, PT Asuransi Jiwasraya (Persero) masih eksis hingga saat ini. Sebutan legendaris patut disematkan pada perusahaan asuransi BUMN itu.

Di semester 1 tahun 2017 ini, Jiwasraya berhasil mengantongi premi sebesar Rp11 triliun. Angka ini naik dibanding dengan periode semester I tahun lalu yang berada di kisaran Rp8 triliun. Tercatat, pertumbuhan premi Jiwasraya sekitar 37,5% year on year. Kontribusi jenis produk tradisional masih mendominasi bisnis Jiwasraya dengan menyumbang 90% dari total premi yang didapat oleh perusahaan.

Eksistensinya di tengah terpaan kondisi ekonomi yang fluktuatif menjawab keputusan yang cukup kuat sebagai perusahaan asuransi. Menurut Direktur Utama Jiwasraya, Hendrisman Rahim, hal ini dikarenakan Jiwasraya dijalankan oleh orang-orang yang memiliki tekad dan sense of belonging pada perusahaan. Ini menjadi modal untuk mempertahankan brand yang dimiliki. Kini Jiwasraya telah memiliki kantor cabang yang tersebar di seluruh Indonesia. “Pengoptimalan cabang dilakukan di setiap daerah dan memberikan edukasi dan masukan pada masyarakat luas,” ujarnya.

Pasar asuransi jiwa masih besar potensinya di Indonesia. Hendrisman melihat kecenderungan orang Indonesia memang masih belum berani membeli produk yang berisiko lebih besar. “Sebagian besar masyarakat masih menggunakan sistem tradisional. Banyak masyarakat belum sampai pada tingkat ada keinginan untuk investasi,” ungkapnya. Ini yang sekarang terus digalakkan Jiwasraya melalui produk tradisionalnya di semua lini. Hal itu yang menjadikan growing Jiwasraya cepat dari tahun ke tahun. Tak pelak status BUMN memberikan kepercayaan kepada masyarakat bahwa perusahaan ini akan tetap survive.

Efisiensi dan inovasi perusahaan dilakukan seiring kemajuan teknologi. Jiwasraya berusaha memberikan cost yang lebih rendah dengan margin yang lebih tinggi dengan cara meningkatkan kompetensi SDM dan investasi di sisi teknologi. “Database kami telah tersistem, tersambung dengan seluruh kantor di semua daerah,  sudah memiliki dashboard dan real-time. Teknologi juga telah menjadi bagian dalam bisnis Jiwasraya,” tambah Hendrisman. Jiwasraya juga perlahan masuk di industri e-insurance meskipun secara hukum belum mapan. “Kami saat ini banyak spend dana di teknologi. Namun saya yakin, dana yang sudah dikeluarkan itu akan kembali dalam waktu 2-3 tahun dengan efisiensi,” ujarnya.

Melewati momentum besar di era 2000-an, ketika memiliki utang Rp6,7 triliun, 6 kali bangkrut, namun dalam jangka waktu 3 tahun Jiwasraya dapat bertahan dan memperbaiki diri. “Kami berhasil mengisi minus Rp6,7 triliun. Hingga saat ini kami membawa kereta untuk berjalan dengan cepat,” jelasnya.

Ke depan, Jiwasraya berusaha untuk tetap growing dalam 10 tahun mendatang dan menciptakan skala penetrasi yang lebih besar dibanding saat ini yang hanya 1,7%. Hal ini menjadi peluang besar yang dapat dimanfaatkan Jiwasraya.

Reportase: Anastasia Anggoro Sukmonowati

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)