Jukajo dan Tiga Bidan Siap Pasarkan Jus Kacang Ijo Plus Daun Adas

Raja Fauzi Hariansyah, CEO Jukajo (ke-2 dr kiri) berbincang dengan 3 bidan

Menutup tahun 2017, produk jus kacang dalam kemasan botol merek Jukajo akan merilis ke pasar varian baru, yaitu Kacang Ijo Plus Daun Adas.

Sebelum produk anyar itu dilempar ke pasar, manajemen Jukajo (PT Jukajo Sukses Mulia) menggandeng tiga bidan untuk melakukan penelitian selama setahun. Tiga orang bidan itu adalah Catur E Suksesty, Marthia Ikhlasiah, dan Azimatudar. Penelitian ini diklaim mereka yang pertama kali di Indonesia dilakukan oleh para bidan dan menjadikan hasil risetnya sebagai satu produk massal di pabrik. Target pasar produk baru ini adalah ibu hamil dan ibu menyusui.

Raja Fauzi Hariansyah, CEO Jukajo, mengatakan, “Peranan tiga bidan yang telah melakukan penelitian bersama kami sangatlah di luar prediksi. Hasil penilitian ini kami sampaikan kepada publik dalam rangka untuk memberikan informasi bahwa Jukajo adalah produsen minuman yang selalu concern terhadap pembuatan produksi dengan melalui proses riset dan penelitaan panjang hingga akhirnya diproduksi dan dikonsumsi oleh publik.”

Latar belakang penelitian ini dilakukan dipicu oleh beberapa faktor. Salah satunya, angka pemberian ASI eksklusif secara global masih sangat rendah yaitu sebesar 40%. Organisasi kesehatan dunia (WHO) merekomendasikan beberapa hal tentang pemberian nutrisi pada bayi yaitu; bayi mulai menyusu dalam satu jam kehidupan, memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan, pengenalan tepat waktu makanan padat dan ketepatan dalam memberikan makanan pendamping serta terus menyusui hingga dua tahun atau lebih.

Seperti yang kita ketahui, ASI adalah salah satu cara yang paling efektif untuk menjamin kesehatan dan kelangsungan hidup anak. Sekitar 800 ribu jiwa anak akan diselamatkan setiap tahun, jika mereka disusui dalam waktu satu jam kelahiran, kemudian hanya diberikan ASI selama enam bulan pertama kehidupan, dan terus menyusui sampai usia dua tahun.

Menurut Riskesdas, proses mulai menyusui terbanyak terjadi pada 1-6 jam setelah kelahiran (35,2%) dan kurang dari 1 jam (inisiasi menyusui dini) sebesar 34,5%. Sedangkan proses mulai menyusui terendah terjadi pada 7-23 jam setelah kelahiran yaitu sebesar 3,7%. Mengacu pada target renstra pada tahun 2015 yang sebesar 39%, maka secara nasional cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi usia kurang dari enam bulan sebesar 55,7% telah mencapai target. Sementara menurut provinsi, kisaran cakupan ASI eksklusif pada bayi umur 0-6 bulan antara 26,3% (Sulawesi Utara) sampai 86,9% (Nusa Tenggara Barat). Dari 33 provinsi yang melapor, sebanyak 29 di antaranya (88%) berhasil mencapai target renstra 2015. Namun pemberian ASI eksklusif pada provinsi Banten naru mencapai 47,9%. Perlu dilakukannya upaya agar provinsi yang masih di bawah angka nasional agar dapat meningkatkan cakupan ASI eksklusif.

Pemberian ASI masih rendah dikarenakan tantangan yang terjadi pada sebagian ibu adalah persepsi bahwa pasokan ASI ibu yang tidak mencukupi sehingga menyebabkan ibu menghentikan pemberian ASI dan hal ini merupakan alasan utama untuk berhenti memberikan ASI yang terjadi 1-4 minggu postpartum. Di seluruh dunia, prevalensi dari persepsi ibu bahwa produksi ASInya tidak mencukupi tidak diketahui secara tepat, tetapi telah dilaporkan antara sebesar 30% dan 80%. Faktor-faktor yang mempengaruhi ASI salah satunya adalah makanan.

Makanan yang dimakan seorang ibu yang sedang dalam masa menyusui tidak secara langsung memengaruhi mutu ataupun jumlah air susu yang dihasilkan. Dalam tubuh terdapat cadangan berbagai zat gizi yang dapat digunakan bila sewaktu-waktu diperlukan. Akan tetapi, jika makanan ibu terus menerus tidak mengandung cukup zat gizi yang diperlukan tentu pada akhirnya kelenjar-kelenjar pembuat air susu dalam buah dada ibu tidak akan dapat bekerja dengan sempurna, dan akhirnya akan berpengaruh terhadap produksi ASI. Karena makanan memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan manusia. Oleh karena itu, tubuh yang sehat harus mengkonsumsi makanan yang aman dan bergizi. Makanan yang bergizi dapat memberikan sumber energi dan peningkatan sekresi air susu.

Pada penelitian ini dimulai dengan pemilihan kacang ijo (Phaseolus Radiatus) sebagai galactogogue didasarkan pada kandungan nutrisi di antaranya karbohidrat yang merupakan komponen terbesar dari kacang hijau yaitu sebesar 62-63% . Kandungan lemak pada kacang hijau adalah 0,7-1 gr/kg kacang hijau segar yang terdiri atas 73% lemak tak jenuh dan 27% lemak jenuh, sehingga aman dikonsumsi. Berdasarkan jumlahnya, protein merupakan penyusun utama kedua setelah karbohidrat. Kacang hijau mengandung 20-25% protein. Protein pada kacang hijau mentah memiliki daya cerna sekitar 77%. Daya cerna yang tidak terlalu tinggi tersebut disebabkan oleh adanya zat antigizi, seperti antitrypsin dan tanin (polifenol) pada kacang hijau. Pemenuhan nutrisi yang adekuat selama proses laktasi dapat mempengaruhi pengeluaran hormon prolaktin setelah makan.

Selain kacang hijau (Phaseolus Radiatus) yang dapat memicu pengeluaran ASI, tanaman adas (Foenicumum vulgar L.) juga merupakan tumbuhan yang dipercaya masyarakat khususnya di pulau jawa sebagai tanaman yang merangsang produksi ASI. Tanaman adas (Foenicumum vulgar L.) banyak ditanam di Indonesia, India, Eropa dan Jepang karena mempunyai banyak manfaat. Daun adas dipercaya masyarakat sebagai pelancar ASI bagi ibu menyusui. Tanaman adas mengandung flavonoid tinggi yang dapat mempengaruhi sistem endokrin dan fungsi hormon seperti merangsang sekresi air susu.

Ida Rosida, Founder & Commisioner Jukajo, menjelaskan, tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh konsumsi jus campuran kacang hijau (Phaseolus Radiatus) dan daun adas (Foenicumum vulgar L.) pada ibu menyusui berpengaruh terhadap peningkatan hormon prolaktin dan berat badan bayi. Sehingga harapannya dengan hasil penilitian yang sangat ketat dan terarah dapat memberikan hasil maksimal pada jenis varian Jukajo yang akan kami luncurkan akhir tahun 2017.

Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan rancangan post test only with control group design. Sampel dikelompokkan menjadi dua, kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Pada kelompok intervensi diberikan Jus campuran kacang hijau dan daun adas. Pada kelompok kontrol tidak diberikan jus. Samplel pada penelitian ini berjumlah 30 responden yang terdiri dari 15 responden pada kelompok intervensi dan 15 responden pada kelompok kontrol.

Pemilihan subyek dilakukan secara simple random sampling. Randomisasi dilakukan pada ibu hamil yang mempunyai tafsiran persalinan pada bulan Juli 2017 – Agustus 2017 di BPM Kecamatan Neglasari Kota Tangerang. Pemberian jus dilakukan pada hari pertama sampai hari ke-14 postpartum. Dilakukan pemeriksaan kadar hormon prolaktin dan pengukuran berat badan bayi pada hari ke-15 postpartum.

Pemberian jus pada kelompok intervensi memberikan dampak positif terhadap peningkatan volume ASI dan frekuensi menyusi sehingga semakin sering ibu menyusui bayinya maka kadar prolaktin juga akan meningkat. Prolaktin menghasilkan air susu dalam alveolar dan cara kerjanya dipengaruhi oleh lamanya frekuensi pengisapan (suckling). Salah satu faktor yang mempengaruhi sekresi air susu yaitu makanan. Makanan yang dikonsumsi oleh ibu hendaknya memenuhi kandungan gizi seperti adanya sumber protein, mineral, vitamin dan zat gizi lainnya.

Pemilihan kacang hijau dan daun adas sebagai galactogogue didasarkan pada kandungan senyawa aktif, kandungan nutrisi, dan informasi ethnobotanical. Galactogogue digunakan untuk menginduksi, mempertahankan dan meningkatkan produksi ASI yang memediasi proses yang kompleks melibatkan interaksi antara faktor fisik dan fisiologis. Kandungan senyawa aktif polifenol dan flavonoid merangsang prolaktin untuk meningkkatkan produksi air susu dan oksitosin untuk terjadinya proses pengeluaran air susu.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)