Jurus Dokter Darma Membesarkan DNI Skin Centre

Dr. dr. I Gusti Nyoman Darmaputra, Sp.K.K.Layanan perawatan kulit (skin care) selama ini masih dianggap sebagai layanan yang elitis. Pasalnya, hanya mereka yang berkocek tebal yang dianggap bisa menikmati layanan perawatan ini.

Anggapan itu tidak salah. Sebab, tak sedikit klinik kecantikan dan perawatan kulit yang memang mematok tarif biaya perawatan jutaan rupiah, bahkan puluhan juta rupiah, untuk sekali treatment perawatan.

Praktik bisnis kecantikan kulit yang terasa mahal itulah yang tampaknya hendak didisrupsi oleh DNI Skin Centre. Di klinik kecantikan dan perawatan kulit yang didirikan oleh Dr. dr. I Gusti Nyoman Darmaputra, Sp.K.K. ini, aneka layanan perawatan kulit umumnya --misalnya: peeling, penanganan bekas jerawat, penanganan flek di wajah, terapi varises, dan operasi pembuangan tahi lalat-- bisa diperoleh dengan biaya yang relatif terjangkau, umumnya di bawah Rp 1 juta.

Layanan peeling yang merupakan layanan terlaris hanya dipatok Rp 110 ribu. Suntik menghilangkan flek dan kerut di wajah berbiaya Rp 500 ribu. DNI juga menjual produk perawatan kulit yang bisa dipakai hingga dua bulan seharga Rp 250 ribu. Tentu, ada juga treatment yang biayanya jutaan rupiah, seperti operasi kantong mata dan operasi sedot lemak. Yang termahal adalah operasi sedot lemak, dengan biaya Rp 10 juta. “Tapi, di Indonesia itu (sedot lemak) sudah termasuk harga yang paling terjangkau,” kata Dokter Darma, sapaan sang pendiri DNI Skin Centre, kepada Chandra Maulana dari SWA.

Klinik kecantikan kulit dengan harga terjangkau tampaknya memang menjadi positioning DNI. Menurut Darma, klinik yang dikembangkannya ini mengusung konsep Beauty for Everyone. “Maksudnya, semua orang bisa tampil cantik, dengan layanan yang berharga terjangkau namun tidak murahan,” kata dokter kelahiran 1980 ini. Selain treatment dan harga obat-obatan yang terjangkau, kelebihan lain klinik DNI ini adalah menyediakan layanan konsultasi dokter secara gratis. “Kami juga punya keunggulan, produk yang disediakan hasil formulasi saya sendiri yang aman dan research-based,” ia mengklaim.

Pria yang meraih gelar dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Udayana dan mengambil Spesialisasi Kulit & Kelamin di FK Universitas Airlangga ini mendirikan DNI Skin Centre pada 2011. Dengan modal kurang-lebih Rp 200 juta --di luar biaya bangunan yang dibayar dengan angsuran kredit-- ia memulai bisnis klinik kecantikan ini di Denpasar, Bali. “Saya nekat mengambil tempat yang agak besar, supaya dipercaya orang dulu. Interior yang lengkap pun dipinjamkan oleh si pemilik,” ungkapnya. Pada saat itu, karena cicilannya lumayan besar, ia belum berinvestasi alat-alat canggih, sehingga banyak treatment yang dilakukan dengan keterampilan tangan.

Yang mendorong saya mendirikan klinik ini, saya melihat banyak pasien yang telat berobat karena rata-rata biaya perawatannya mahal-mahal,” kata Darma. Agar bisa menawarkan perawatan kulit dengan harga terjangkau dan tepat sasaran, ia mengaku mengembangkan formula sendiri. Dari segi kompetensi dan keterampilan, selain menjalani pendidikan formal-akademik hingga jenjang S-3 (di FK Universitas Airlangga), ia pun merasa perlu mengikuti kursus bedah kosmetik di Tongji University, Shanghai.

Kehadiran DNI, Darma mengklaim, diterima baik oleh masyarakat. “Orang-orang yang berobat ke klinik saya umumnya orang-orang yang belum pernah berobat ke klinik kecantikan sebelumnya,” ujarnya. Kendati begitu, menurutnya, selain masyarakat umum, sekarang sejumlah public figure juga sudah menjadi pelanggannya, seperti kliniknya di Bintaro yang sudah disambangi sejumlah artis, atau klinik-kliniknya di Bali yang mempunyai pelanggan sejumlah kepala daerah dan petinggi aparatur negara.

Sebagai bukti animo masyarakat lainnya, dari semula hanya satu gerai, hingga saat ini sudah ada 20 gerai DNI Skin Centre, terdiri dari 16 gerai milik Dokter Darma sendiri, dua gerai waralaba (franchise), dan dua gerai hasil kemitraan (partnership) dengan rekan-rekannya di HIPMI. Ke-20 gerai itu tersebar di Bali (13 gerai) dan lainnya di Bintaro, Tangerang, Makassar, Malang, Gresik, Banyuwangi, dan Lombok. Total karyawannya 100-150 orang, termasuk yang bekerja di gerai waralaba dan kemitraan. Penghargaan dari pihak eksternal yang sudah didapatkan DNI adalah Bali Best Brand Award kategori Best Beauty Clinic selama tiga tahun berturut-turut.

Namun, Darma mengaku pihaknya sebenarnya lebih memanfaatkan promosi dari mulut ke mulut (word of mouth) serta media sosial seperti Facebook dan Instragram yang diisi dengan konten-konten yang menarik. “Kami belum banyak mengalokasikan anggaran untuk promosi,” ujarnya. Kalaupun ada promo, berupa pembagian 100 produk dan vocer layanan pada setiap pembukaan gerai klinik baru. “Pendekatan kami lebih ke arah menolong pasien, sehingga mereka akhirnya menjadi loyal customer kami,” ujarnya lagi.

Bagi R.A. Helmi Ginanti, salah seorang pelanggan DNI Skin Centre, layanan yang diberikan klinik ini sudah sangat bernilai (worth it). Ia mengaku cukup membayar Rp 500 ribu saja sudah bisa memperoleh suntikan anti-flek. Sebagai pemain layang-layang internasional dan aktif berolahraga seperti golf dan memanah, Helmi memang mengaku membutuhkan layanan ini. “Lokasi kliniknya di daerah yang strategis, kliniknya bagus, dan paramedisnya pun ramah-ramah,” katanya memuji. “Teman-teman saya banyak yang kaget ketika saya ceritakan harganya yang murah dan bisa menyembuhkan juga,” ujarnya memberikan testimoni.

Kendati begitu, sebagai salah satu pelanggan loyal, Helmi memberikan saran agar DNI bisa memperbarui lagi alat-alat medisnya. “Tapi, dipertahankan saja dari segi harga dan kualitasnya,” ujarnya. Ia juga menyarankan agar layanan konsultasi gratis bisa terus disediakan agar mempermudah klien mendapatkan informasi dan produk yang dibutuhkan.

Menurut Darma, pertumbuhan bisnis kliniknya saat ini 20-30%. Dari segi omset per bulan, besaran pemasukan tiap gerai berbeda-beda, tergantung pada ukuran klinik. Ia memperkirakan, omset klinik kecil Rp 100 jutaan, klinik menengah Rp 180 juta-250 juta, dan yang relatif besar Rp 300 juta-400 juta. “Karena profitnya tidak banyak, kami sedang bekerja keras untuk menambah gerai lagi,” katanya.

Ke depan, Darma mengaku akan terus menjalankan tiga jalur pengembangan bisnis kliniknya ini. Yakni, dengan membangun tim inti di kantor pusat yang akan mendukung ekspansi menggunakan modal sendiri, meningkatkan pertumbuhan klinik dengan jalur waralaba, dan mengembangkan sistem kemitraan dengan memanfaatkan jejaring yang telah terbangun. Untuk sistem waralaba, menurut Darma, peminat harus menyediakan modal sekitar Rp 350 juta di luar penyediaan tempat. “Kami yang akan menangani operasionalnya, namun pewaralaba akan tetap bisa melihat laporan kinerja bisnisnya,” katanya. Adapun untuk sistem kemitraan, modalnya antara Rp 800 juta dan Rp 1 miliar, dan Darma akan ikut menanam modal.

Selain gerai fisik, DNI juga masih merancang konsep untuk melengkapinya dengan bisnis online. Dengan demikian, pelanggan bisa berkonsultasi gratis ataupun membeli produk DNI secara online. Untuk perawatan atau treatment, tentu pelanggan tetap harus datang ke gerai klinik. (*)

Joko Sugiarsono dan Chandra Maulana

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)