Jurus Pemimpin Dorong Cara Kerja Baru Era New Normal

CEO Daya Qarsa, Apung Sumengkar saat memberikan pelatihan ke para peserta

Beberapa hari lagi kita akan melalui genap sebulan fase Pembatasan Sosial Berskala Besar transisi menuju tahap new normal. Saat ini, di berbagai tempat kita sudah menyaksikan baik secara langsung maupun melalui pemberitaan media massa kembali ramainya pusat perbelanjaan, hotel dan tempat wisata. Meskipun belum beroperasi secara penuh, namun kita sudah dapat menyaksikan bahwa segala sesuatunya telah berubah. Mengenakan masker, mencuci tangan dengan sabun, menggunakan hand sanitizer, thermo gun, pembatasan pengunjung, pembatasan kontak fisik dengan produk atau jasa menjadi norma baru yang wajib diiikuti kala memasuki berbagai lokasi layanan bisnis. Memang, berbagai kondisi baru itu wajib dipatuhi demi memutus rantai penyebaran Covid-19 dengan lebih cepat.

Di sisi lain, meskipun sebagian bisnis kembali dapat menarik nafas lega dengan diberikannya kembali izin membuka usaha, namun tak bisa dipungkiri semua pihak masih meraba-raba. Bagaimana cara melakukan bisnis di era new normal? Apakah langkah yang ditempuh sudah tepat? Bagaimana mengukur ketepatan itu? Apakah cara baru ini akan mengembalikan bisnis kembali ke jalur semula, atau bahkan melejitkannya? Ataukah justru menjerumuskannya ke dalam jurang kehancuran?

Itulah pertanyaan-pertanyaan yang terus berkecamuk di benak para pemimpin bisnis saat ini. Meski demikian, pendiri dan CEO Daya Qarsa, Apung Sumengkar memaparkan, apapun dilema yang dirasakan oleh para pemimpin, pantang untuk diperlihatkan di hadapan timnya. “Karena menunjukkan keraguan di tengah ketidakpastian dapat berujung bencana. Seorang pemimpin harus menunjukkan keyakinan akan setiap gerak langkah yang akan ditempuh perusahaan. Karena keyakinan adalah separuh keberhasilan," ujar Apung yang perusahaannya berfokus pada konsultansi transformasi bisnis holistik itu.

Karena itu tidak ada waktu yang lebih krusial dibandingkan saat ini bagi seorang pemimpin untuk memimpin timnya dalam menempuh beragam cara baru dalam berbisnis. Apung melanjutkan, pada skenario new normal yang telah disusun oleh Daya Qarsa, dunia usaha layaknya memutar kembali roda bisnisnya dari ground zero, titik nol. “Penting di saat seperti ini bagi pemimpin untuk menuntun timnya agar sigap berinovasi, aktif memimpin perubahan, meluaskan jejaring dan kemitraan dengan cara yang berbeda serta mendorong pencapaian hasil yang optimum," tegas Apung yang telah berkarier lebih dari 15 tahun di perusahaan konsultan global seperti McKinsey &a Company, dan Deloitte Consulting, serta menangani klien di Asia Tenggara, Jepang dan Eropa itu.

Pria yang menyelesaikan MBA Manajemen Strategi dari RSM Erasmus University, Belanda dan kandidat PhD Manajemen Strategis Universitas Indonesia itu lebih lanjut memaparkan, terdapat sejumlah langkah yang bisa ditempuh bagi para pemimpin untuk menerapkan strategi di atas. Pertama, mendorong inovasi dengan menciptakan lingkungan yang menginspirasi untuk menghasilkan solusi baru. Kedua, mendorong eksperimen dengan cara-cara baru untuk memecahkan masalah yang muncul dan meraih peluang yang menghasilkan solusi unik dan berbeda. Ketiga, memimpin perubahan dengan mendorong perubahan organisasi untuk mencapai tujuan strategis dalam masa krisis. Berikutnya, pemimpin dapat mengkatalisasi pendekatan baru untuk meningkatkan hasil dengan mentransformasi budaya organisasi, system atau produk/layanan. Tak ketinggalan, pemimpin dapat membantu anggota organisasi untuk mengatasi penolakan terhadap perubahan. Selanjutnya dalam meluaskan jejaring dan kemitraan, pemimpin dapat mendorong dengan memulai dan memelihara hubungan strategis dengan stakeholders dan mitra potensial seperti pelanggan, rekan kerja, mitra lintas divisi, vendor dan sebagainya yang bersedia dan mampu memberikan informasi ide keahlian dan atau pengaruh yang diperlukan untuk membantu keberlangsungan bisnis dalam masa krisis.

Terakhir, dalam mendorong pencapaian hasil, pemimpin dapat menetapkan target ambisius bagi pribadi dan organisasi di tengah masa krisis. “Selanjutnya, pemimpin harus secara rutin memantau kemajuan pencapaian target dan bekerja dengan gigih untuk mendorong pencapaian yang sanggup melampaui target yang ditetapkan sambil mendapatkan kepuasan dari pencapaian dan pengembangan berkelanjutan tersebut," jelasnya.

Kemampuan pemimpin dalam menavigasi bisnis dan timnya melalui masa krisis ini dengan berbagai langkah di atas akan memberikan sinyal apakah pemimpin tersebut merupakan sosok yang memiliki visionary leadership. Pemimpin yang visioner adalah sosok pemimpin yang mampu menggambarkan strategi dan visi organisasi dengan bersemangat di tengah masa krisis. Serta menciptakan gambaran yang jelas tentang masa depan organisasi dengan membantu orang lain memahami dan merasakan bagaimana hal-hal akan berubah saat visi tercapai. “Hanya dengan demikian, seorang pemimpin akan mampu menggerakkan organisasinya, bersama meraih masa depan yang dicita-citakan, Apung memungkas penjelasannya.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)