Jurus Rijel Memasarkan Fashion Ulikids Saat Pandemi

Mendapatkan pakaian anak dengan kualitas standar mall di toko daring, namun dengan harga yang tetap kompetitif, bisa dibilang susah-susah gampang. Kebanyakan toko masih menomorsatukan harga murah. Kualitas menjadi nomor dua. “Padahal pakaian anak itu harus mengedepankan kualitas. Bahannya mesti nyaman saat dikenakan, bisa menonjolkan ciri khas mereka sebagai anak-anak, dan modelnya pun jangan begitu-begitu saja,” kata Rijel Simanulang, Pemilik Ulikids Indonesia, produsen pakaian anak usia 1-12 tahun.

Cute, fashionable, cocok untuk aktivitas anak, bahan berkualitas tinggi, sehingga aman dan nyaman dikenakan anak adalah pertimbangan Rijel dalam memproduksi pakaian anak. Dia juga bermain dengan variasi design printing dan bordir, sehingga pakaian-pakaian buatan Ulikids menjadi unik, lucu, dan menggemaskan. 

Rijel sebetulnya sudah lama memproduksi pakaian anak, namun baru setahun lalu dia membuka toko daringnya. Awalnya, dia ogah melirik bisnis daring yang dianggapnya ribet ini. Dia  lebih menyukai cara konvensional, yakni memasarkan lewat toko offline. Bisnis offline termasuk melayani maklon dari merek-merek ternama yang masuk ke mall-mall besar.

Namun krisis akibat pandemi memukul usahanya. Satu per satu pelanggannya menyetop pembelian. Reseller-reseller-nya dari luar kota tak lagi mengambil barang darinya. Omzet dari maklon pun menurun seiring dengan seretnya penjualan merek-merek kliennya.  Kondisi mal-mal pun sepi.

Barang-barang produksi Rijel kian menumpuk di gudang. Saat itulah dia mulai mempertimbangkan pemasaran secara daring. Awal Maret 2020, hanya beberapa minggu menjelang bulan puasa dan Lebaran, Rijel mulai memasarkan pakaian anak produksinya via marketplace. “Hasilnya tak disangka-sangka. Dalam waktu dua bulan saja, kami berhasil meraup omzet hingga Rp 1 miliar. Memang lebih kecil kalau dibandingkan dengan penjualan offline dulu, tapi pencapaian ini membuat saya berpikir, bahwa bisnis daring ini layak untuk diseriusi,” kata Rijel.

Rijel pun mematenkan Ulikids sebagai mereknya untuk pakaian anak. Kini, Ulikids memiliki toko resmi di sejumlah marketplace. Juga, melakukan promosi dan pemasaran melalui Instagram.

Rijel, yang juga arsitek, mendesain dan memproduksi sendiri pakaian anak di Ulikids. Dibantu timnya, Rejal memproduksi hingga ribuan potong per bulan. Saat ini, Ulikids baru membuat pakaian untuk anak perempuan, seperti dress dan gamis, namun dalam waktu dekat akan diluncurkan pula lini pakaian untuk anak laki-laki.

“Saya punya banyak keponakan perempuan. Merekalah salah satu sumber inspirasi saya dalam mendesain. Setiap mereka ulang tahun, saya selalu menghadiahi mereka dengan pakaian produksi saya sendiri. Saya juga selalu memantau tren fashion anak di Indonesia,” kata Rijel.

Tak hanya menjual pakaian ready stock, Ulikids juga melayani pesanan custom. Pelanggan boleh memesan untuk dibuatkan pakaian anak sesuai dengan keinginan masing-masing. “Kami akan tawarkan dulu beberapa option pakaian yang ready stock, tapi kalau masih belum sreg juga, baru kami tawarkan untuk pesan custom. Bahannya bisa dari kami, bisa juga dari mereka,” tuturnya.

Rijel menyadari, meski secara omzet bagus, Ulikids terbilang merek baru, sehingga masih perlu menggenjot promosi. Oleh karena itu, target terdekat Rijel saat ini adalah memperkuat branding Ulikids sebagai pakaian anak berkualitas premium.  “Dalam waktu dekat, kami akan menggelar flash sale besar-besaran sebagai upaya branding Ulikids. Momennya, juga tepat, mendekati Learan,” dia menekankan.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)