Jurus Teh Pucuk Harum untuk Survive

Booth Teh Pucuk Harum di Jakarta Fair 2017. (foto: tehpucukharum.com)

Produk kategori RTDT (Ready To Drink Tea) keluaran PT Mayora Tbk., Teh Pucuk Harum, mampu bersaing dalam kompetisi beverages di tahun 2017 ini. Industri F&B dirasa cukup menarik karena menjadi kebutuhan bagi khalayak ramai. Menurut Manager Marketing RTDT (Ready To Drink Tea) & Juice PT Mayora Tbk, Erick Harijanto, kini konsumen memiliki adjusment dalam hal daya belinya. Semakin selektif dan membatasi daya belinya, khususnya untuk minuman kemasan, dengan memilih brand yang telah kenal.

Melihat kondisi tersebut dan antisipasinya dalam kompetisi ini senantiasa dilakukan Mayora dalam memasarkan Teh Pucuk Harum. “Walaupun growth belum semaksimal yang diharapkan, namun Mayora tetap terus masuk ke market untuk menjadi satu-satunya brand yang bisa growing di 2017. Strategi yang Mayora lakukan adalah dengan melakukan research dan observasi baik itu ke market atau konsumen secara reguler,” ujarnya. Bagi Mayora, konsumen menjadi penting karena ingin melihat karakteristik dan behavior mereka.

Sejak awal brand Teh Pucuk Harum dilengkapi dengan berbagai platform komunikasi yang disesuaikan dengan target audience-nya. Karena target Teh Pucuk Harum untuk semua kelas. “Kami memiliki main communication lewat televisi dan hard material yang lain. Era disruptif yang sarat akan digital ini disambut Mayora dengan menyiapkan digital aset yang cukup,” ungkapnya. Channel yang modern digunakan untuk platform digital marketing seperti website, Facebook, Twitter, dan Instagram. Melalui platform tersebut Mayora rajin berinterkasi dengan konsumen sesuai dengan tren saat ini.

Strategi komunikasi yang dilakukan Mayora juga lebih simpel tapi efektif dan friendly. Event yang relevan senantiasa diikuti untuk mengembangkan Teh Pucuk Harum bagi target market-nya. Upaya ini Juga dijadikan kegiatan untuk meningkatkan basis konsumen yang loyal. “We are trying to be relevant with our target audiences dan selalu update dengan tren yang ada. Masing-masing channel pemasaran memiliki role masing-masing. Kami melihatnya bahwa di satu sisi masih butuh media konvesional, tapi juga menyasar digital untuk target anak muda. Lewat keduanya, Mayora berusaha tetap intens berinteraksi,” ceritanya.

Mengahadapi kondisi disrupsi ini, Mayora berusaha menyesuaikan kondisi dengan memperkuat tim dan resources. Menjadikan SDM-nya agar agile, responsif, pandai membaca situasi dan keadaan. Bagi Erick, salah satu kunci Mayora adalah winning people. Mayora memang punya seleksi sendiri dari awal. Adjusment mengikuti perubahan dan needs konsumen yang cepat harus dihadapi oleh Mayora. Mayora berusaha sekeras mungkin untuk selalu mengeksplor how to communicate dengan lebih efektif dan relevan.

Cara-cara itulah yang membuat Mayora dapat survive dengan gempuran efek disrupsi dalam bisnis. Di tengah kondisi pasar yang challenging ini, Mayora sebagai the biggest brand di kategori non-cup dan jasmine tea dengan market share RTDT mencapai 50%. Mayora, such a biggest player for more growing ahead.

 

Reportase: Yosa Maulana

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)