Jurus Tony Arifin Besarkan Toffin

Tony Arifin, Chief Executive Officer PT Toffin IndonesiaSemenjak Coffee Bean dan Starbucks hadir di awal 1990-an, tradisi minum kopi sambil kongko-kongko memang merebak menjadi gaya hidup masyarakat Ibukota. Seperti pepatah “ada gula, ada semut”, lalu menjamurlah kedai kopi atau populer disebut coffee shop di mana-mana. Dan, bisnis yang berhubungan dengan kopi pun terbawa ikut panen raya.

Salah satu yang mendapat berkah adalah bisnis peralatan mesin kopi dan ingredients-nya. Menurut Tony Arifin, Chief Executive Officer PT Toffin Indonesia, distributor berbagai mesin kopi berkelas internasional, sejak pasar kopi berkembang, permintaan mesin kopi dan ingredients-nya pun ikut meningkat. “Diperkirakan pasar tumbuh lebih dari 20%,” ujar Tony yang optimistis akan berkembang lagi karena saat ini kedai kopi masih terkonsentrasi di banyak kota besar.

Tony tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Selain mendirikan Toffin, ia juga menyediakan profesional gourmet beverage dan telah bekerjasama dengan 4 ribu konsumen, mulai dari hotel, restoran, hingga kafe di seluruh Indonesia.

Saat ini Toffin juga telah memiliki Toffin Coffee Showroom yang menampilkan produk andalan, mulai dari mesin roasting, mesin espresso, manual brew, topping, ingredients, water filtration, blender, dan grinder dengan merek Nuova Simonelli, Hario, Victoria Arduino, VBM, BWT Water+More, Toffin Seattle, Compak, Fabbri, VBM, Toper, Vitamix, BlendArt, Zicaffe, serta Comprital. Kini, Toffin membawahkan tujuh anak perusahaan. Sebagai salah satu langkah ekspansi di luar negeri, Toffin mendirikan bisnis yang sama dengan nama Toffin Singapore.

Di bisnis kopi itu, hulunya adalah petani dan hilirnya adalah kafenya. Toffin bergerak di tengah-tengah, dari biji mentah sampai mesin gorengnya, kemudian jual mesin kopinya hingga ingredients-nya,” kata Tony menginformaskan. Kini Toffin memiliki 12 merek untuk mesin kopi dan ingredients-nya. Mayoritas impornya dari Italia, tetapi juga ada beberapa dari Jepang dan untuk gorengan kopi ada yang dari Turki.

Contohnya, untuk merek Simoneli yang mainstream mesin, harganya Rp 20 juta-150 juta. “Yang paling laku adalah Simoneli dengan market share-nya di Indonesia mencapai 70%. Jadi, sebenarnya varian produk kami kan banyak dalam satu brand. Nantinya tergantung pada segmen kafe seperti apa yang kami tuju. Jika untuk segmen kafe A, kami memiliki produknya. Kalau kafe B yang tingkatannya berbeda, kami juga tawarkan dengan produk yang sesuai,” ujarnya. Saat ini, garapan bisnis Toffin masih besar ke arah B2B, tetapi juga ada yang ke ritel karena perusahaan ini ingin masuk ke semua lini.

Saat awal Toffin didirikan pada 2007, bisnisnya baru sebatas menjual ingredients untuk horeka. Kemudian karena melihat permintaan yang tinggi, Toffin mulai masuk ke peralatan kopi seperti mesin espresso dan hand brew dari berbagai merek terkenal di dunia. “Kami menggandeng Simonelli Group dari Italia, Hario dari Jepang, dan Technivorm, Moccamaster dari Belanda sebagai mitra bisnis,” ujar Tony yang sebelum mendirikan Toffin pernah bekerja di sebuah kafe.

Strategi itulah yang membuat bisnis Toffin semakin besar dan Toffin ingin dikenal sebagai trusted and realible company. “Kami juga memosisikan diri sebagai agen atau pemegang merek yang menyediakan banyak variasi produk sehingga bisa masuk ke berbagai segmen pasar, sehingga kami bisa fokus dalam ‘mengampanyekan’ brand-brand yang kami kelola. Memang brand-brand ini sudah terkenal di dunia, tetapi tidak ada salahnya untuk kami kampanyekan di pasar domestik,” kata Tony panjang lebar.

Bentuk kampanye itu, misalnya melalui pameran, product knowledge oleh tim penjualan secara langsung ke mitra, hingga demo produk oleh trainer. Selain itu, masih banyak lagi kampanye dan promosi yang dilakukan Toffin. Misalnya, beriklan above the line di media luar ruang, seperti billboard, yang dilakukan oleh cabang-cabang Toffin di luar daerah, antara lain di Medan. Lalu, menjadi sponsor sebuah kegiatan, serta berkolaborasi dengan komunitas atau top influencer seperti barista tingkat dunia untuk transfer knowledge, sehingga bisa menstimulus untuk mengetahui tren ke depan seperti apa. Dan tentunya, Toffin juga aktif berpromosi melalui media digital.

Selain itu, Toffin juga menawarkan “jaminan” bisnis. Caranya, dengan menyediakan tim teknisi, serta suku cadang untuk perawatan dan perbaikan. Jadi, Toffin tidak hanya menjual mesin dan ingredients tetapi juga memberikan solusi. Contohnya, untuk pengembangan menu, pelatihan barista, hingga konsultasi bisnis kedai kopi.

Dan, yang paling penting agar produknya laku, Toffin lebih selektif dalam memilih merek yang digandeng. Biasanya, Toffin menggandeng merek mapan sehingga di Indonesia akan mudah memolesnya. Misalnya, produk Simoneli yang menjadi nomor dua di dunia. Selain itu, Tony juga akan melihat apakah pada lima tahun ke depan produk tersebut masih bisa digunakan atau tidak. Tak lupa, jaringan distribusi dibuka semakin luas. “Distribusi kami sudah hampir ke seluruh Indonesia dan kami memiliki 16 kantor cabang hampir di seluruh kota besar di Indonesia,” ungkapnya.

Lalu, berapa omset Toffin? “Selama ini penjualan mesin dan ingredients kami cukup menggembirakan. Selalu naik dari tahun ke tahun,” kata Tony. Hingga saat ini, Toffin memimpin pasar penjualan mesin. Pangsa pasanya hingga 85%. “Angka penjualan tahun lalu, kami bisa menjual sekitar 2.000 unit alat kopi,” lanjut Tony yang berharap bisnisnya setiap tahun bisa tumbuh 30%.

Rencananya, Tony akan mencoba digitalisasi layanan Toffin. Saat ini pihaknya sedang membuat aplikasi untuk memudahkan pelanggan membeli produk Toffin. “Ke depannya, kami berharap agar Toffin bisa lebih dikenal masyarakat. Kami juga ingin agar produk kami bisa ditemui di mana saja, baik untuk hotel, kafe, atau rumah-rumah sekalipun,” ungkap Tony tentang obsesinya.(*)

Dede Suryadi dan Sri Niken Handayani

Riset: Elsi Anismar

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)