KAI Dorong Digitalisasi dan Maksimalkan Angkutan Barang untuk Dongkrak Kinerja Bisnis

Pembatasan aktivitas masyarakat untuk mengurangi dampak pandemi Covid-19 membuat PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengalami penurunan penumpang hingga 93% per akhir Mei 2020. Pendapatan harian perseroan pun menurun.

Jika pada hari normal volume penumpang bisa mencapai 900 ribu hingga 1 juta per harinya, dalam kondisi wabah Covid-19 jumlah penumpang hanya berkisar 180 ribu penumpang. Hal ini diutarakan oleh Didiek Hartantyo, Direktur Utama PT KAI pada kunjungannya ke kantor Majalah SWA.

“Kami merasakan sekali dampak dari pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Volume penumpang mengalami penurunan hingga 10% pada akhir Maret dan mencapai 93% di akhir Mei 2020,” kata dia menjelaskan. Sementara untuk pendapatan, perseroan kehilangan pendapatan hingga 93% dari lini angkutan penumpang. Artinya, pendapatan perusahaan dari penumpang hanya berkisar di angka 7 - 10% dari Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP).

Didiek juga mengatakan, dalam kondisi normal, perusahaan bisa mencatatkan pendapatan sebesar Rp20 miliar hingga Rp25 miliar dalam sehari untuk angkutan penumpang. Terlebih di hari besar dan libur nasional, angkanya bisa mencapai Rp39 miliar per hari. Namun, setelah adanya larangan mudik Idul Fitri 1441 H dan PSBB, perseroan hanya mencatatkan pendapatan sebesar Rp400 juta per hari.

“Adanya himbauan Work From Home (WFH) dari Kementerian PAN-RB sejak akhir Maret membuat pendapatan kami sepanjang April 2020 hanya sebesar Rp32 miliar,” ujarnya. Tidak hanya untuk angkutan penumpang, penurunan pun terjadi di sektor angkutan barang yakni sebesar 30%.

Untuk angkutan logistik, ada beberapa area yang mendapatkan kestabilan yakni di sektor angkutan kontainer dan BBM. Namun, di sektor batubara kinerjanya mengalami penurunan yang cukup signifikan. Hal ini disebabkan adanya penurunan konsumsi listrik industri akibat pembatasan aktivitas pabrik, industri, dan mal. “Oleh karena itu, kami harus melakukan evaluasi dari mulai tata kelola keuangan, operasional, dan SDM untuk mengatasi tantangan ini," dia menegaskan.

Didiek menambahkan, akibat krisis ini, pihaknya kini mulai menyusun struktur biaya dengan lebih baik. Sehingga, perusahaan lebih siap dan dapat merespon dengan cepat, serta agile ketika harus dihadapkan lagi dengan krisis. Sementara, dari segi SDM, KAI melakukan efisiensi dengan melakukan perbaikan human capital dengan lebih menyeluruh. Sehingga, SDM akan dapat lebih disiplin dan repsonsif.

Ke depan, KAI akan membangun lini bisnis baru yang dapat mendorong kinerja bisnis perusahaan secara keseluruhan. Langkah yang akan ditempuh adalah dengan mengembangkan sektor angkutan barang yang ditargetkan akan tumbuh sebesar 20% setiap tahunnya.

Selain itu, BUMN transportasi ini juga akan memaksimalkan peran Information Technology (IT) di semua lini baik pada sektor administratif bisnis maupun operasional. “Kami juga akan menguatkan digitalisasi. Karena kita ingin mendorong operasional excellence di semua lini dengan bantuan IT,” kata Didiek. Dengan transformasi digital yang dilakukan, perusahaan optimistis akan mencetak pendapatan sebesar Rp44 triliun pada tahun 2024 mendatang.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)