Karya Seni Epik Ukuran Gigantik di dalam Gedung Sarinah

Menteri BUMN Erick Thohir didampingi Fetty Kwartati Direktur Utama PT Sarinah, Agung Budi Waskito Direktur Utama PT Wijaya Karya dan Asikin Ahli Cagar Budaya, melihat patung relief di lantai dasar Sarinah (Foto: Kementerian BUMN).

Ketika mengunjungi Sarinah untuk melihat langsung perkembangan pemugaran Gedung Sarinah di Jalan Thamrin, Jakarta, pada 15 Januari 2020, Menteri BUMN Erick Thohir juga melihat patung relief di lantai dasar Sarinah. Menteri Erick yang mengagumi maha karya ini mengatakan bahwa bangsa besar adalah bangsa yang mengenal sejarahnya. Erick meminta agar karya ini direstorasi dan sedapat-dapatnya bisa kembali seperti sedia kala. Erick juga berpesan agar saat Sarinah kembali dibuka pada akhir tahun ini, relief tersebut dapat dipamerkan kepada publik.

Fetty Kwartati Direktur Utama PT Sarinah (Persero), Agung Budi Waskito Direktur Utama PT Wijaya Karya (Persero) dan Asikin Ahli Cagar Budaya yang mendampingi Erick menjelaskan bahwa proses pemugaran gedung Sarinah secara prinsip masih on track dan on schedule walau ditengah-tengah pandemi Covid-19. Pekerjaan renovasi secara progresif dapat dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Juga karena sektor konstruksi termasuk yang mendapat izin untuk beroperasi secara full scale.

Dijelaskan juga oleh Fetty bahwa Sarinah sebagai gedung dengan predikat cagar budaya juga memiliki sebuah karya seni rupa patung relief yang juga ditinjau oleh Menteri. Relief ini melambangkan kegiatan ekonomi rakyat jelata yang pada saat itu bertumpu pada hasil pertanian, perkebunan, perikan dan kerajinan. Selaku proklamator dan presiden pertama Indonesia, Bung Karno adalah seorang seniman dan yang mencetuskan pembuatan karya seni ini. Keberpihakan kepada ekonomi kerakyatan sudah merupakan semangat para pendiri bangsa ini.



Menurut Asikin, salah seorang tokoh dan anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) karya seni ini ukurannya sangat epik serta gigantik. Bahkan pada saat dibuat sudah menggunakan teknologi pengecoran panel tunggal modern. Demikian pula saat Sarinah dibangun sebagai perwujudan modernisasi yang pada masanya adalah mercu suar kebangkitan ekonomi bangsa yang unggul yang berpihak pada ekonomi rakyat yang istilahnya saat ini adalah UMKM. Relief ini juga terus mengingatkan amanah Sarinah untuk membesarkan mereka.

Sarinah pada tahun 80’an pernah terbakar. Lalu, ketika dibangun kembali ada pelebaran koridor pengunjung. Relief itu pun dipindahkan dan disimpan di lantai dasar. Berkenaan dengan transfornamasi dan renovasi Gedung Sarinah, maka relief ini akan direstorasi dan dipamerkan saat pemugaran usai dan Sarinah beroperasi kembali.

Relief ini menurut catatan beberapa ahli sejarah dan seni rupa nasional, dibuat oleh kelompok seniman Yogyakarta pada masa konstruksi (1962-1966) yang menampilkan para penjaja dan pelapak yang melambangkan perjuangan rakyat kecil mencari nafkah. Menurut catatan, pembuat relief ini adalah kelompok pematung dan pelukis dari Yogyakarta. Siapa desainer dan seperti apa blueprint patung ini masih ditelusuri. Karena ini penting untuk pekerjaan restorasi.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)