Kedai Havelaar Dekatkan Masyarakat dengan Masakan Khas Indonesia

Kedai Havelaar terinspirasi dari sejarah perjuangan Multatuli—nama Indonesia dari Max Havelaar—pahlawan berdarah Belanda yang berjasa membangkitkan kesadaran nasionalisme. Berlatar kepedulian pada sejarah dan hobi masak masakan Indonesia mendorong pemiliknya membuka Kedai Havelaar. 

Kedai ini menyediakan masakan khas Indonesia, utamanya saat ini masakan khas Jawa. “Saya sebenarnya lulusan Akuntansi, suami yang pendidikannya Sejarah. Karena saya hobi masak dan katanya enak, saya branding Indonesia melalui kuliner dengan kedai yang sarat dengan pesan-pesan kebangsaan,” ujar Yosephine Dwi Sulistyowati di Kedai Havelaar Jalan Boulevard Utara Kelapa Gading Jakarta (17/08/2018). 

Tidak heran ada menu brongkos, tongseng, rawon, lodeh, sate ayam/kambing,  dan soto ayam, Sate Kambing menjadi menu andalan kedai ini. Di tengah ramainya resto luar negeri seperti resto Korea dan Jepang, Kedai ini seperti oase untuk penggemar masakan Indonesia. “Menu-menu tradisional agak tergusur oleh makanan kekinian,” imbuh wanita yang akrab disapa Lis. Ia menambahkan restonya ini tidak menggunakan kaldu instan, tapi kaldu ayam asli. “Ayam pun kami pakai ayam kampung,” imbuhnya. 

Sambil menikmati hidangan, pengunjung bisa mendengarkan musik lagu-lagu nasional, mendapatkan informasi sejarah nasional meskipun sangat terbatas. Kedai Havelaar turut menjaga NKRI, Pancasila, dan Bhinneka Tunggal Ika itu berdiri kokoh untuk selamanya di kedai yang menempati ruko empat lantai ini. 

“Kedai Havelaar terinspirasi dan kami mengambil filosofi dalam novel Max Havelaar. Di sini, Multatuli sungguh sangat menghargai karya masyarakat pribumi Indonesia. Kami pun menjual produk-produk makanan tradisional Jawa. Maka dari itu menu-menu makanan yang kami sajikan adalah menu-menu makanan yang sangat disukai oleh para pejuang kemerdekaan dan masyarakat pada umumnya,” ujar Lis. 

Contohnya, Bung Karno sangat menyukai sayur lodeh, tempe goreng, rawon, dan sate. Bung Hatta menyukai sayur buncis dan sate. Sudirman sangat menyukai minum teh, Sri Sultan HB IX sangat menyukai sate kambing. Sutan Syahrir kesukaannya juga sate kambing.

“Melalui Kedai Havelaar ini kami coba mengingatkan kembali sejarah bangsa ini agar kecintaan rakyatnya pada negerinya terus tumbuh dan terjaga selama-lamanya. Kedai Havelaar menjadikan sebagian makanan dan minuman tradisional khas Jawa yang kaya akan bumbu rempah ini menjadi menu pilihan,” tuturnya.

Kedai ini ingin menginformasikan dan edukasi makanan masakan tradisional Indonesia. “Kedai Havelaar ini konsepnya menu kebangsaan. Di meja makan ada alas kain yang menggambarkan sejarah Indonesia selain tentu diinformasikan di menu-menu. Menghiasi Kedai Havelaar dengan kutipan-kutipan para Pahlawan Indonesia. Resto juga dihiasi dengan properti yang instagramable,” katanya.

Memperingati HUT RI 17 Agustus yang sekaligus menandai relaunch kedai ini, diadakan program diskon 17% untuk menu di hari kemerdekaan ini, juga ada menu-menu dengan diskon khusus 17%+8%. “Yang datang dihibur dengan musik dengan lagu-lagu nasional,” katanya. Mengundang komunitas muda fotografi makanan, lukisan, sepeda dan sebagainya. Juga mengadakan diskusi-diskusi kebangsaan. Lis akan membuka gerai kedua tahun depan di daerah Godean Yogja. 

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)