Kemendikbud Paparkan Capaian Program 2018

Muhadjir Effendy paparkan pencapaian program Kemendikbud tahun 2018 kepada Forum Pemimpin Redaksi.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia menggelar acara silaturahmi dengan media masa yang tergabung dalam Forum Pemimpin Redaksi di Jakarta (23/1/2019).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, mengatakan, ada 4 fokus yang dijalankan selama menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, yakni percepatan dan penyelesaian Kartu Indonesia Pintar (KIP), revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), penguatan pendidikan karakter, dan pembangunan pendidikan di wilayah 3 T (Terluar, Terdepan & Tertinggal).

Pertama, Program KIP. Muhadjir menjelaskan, survei terakhir menunjukkan bahwa pelayanan pendidikan melalui KIP dianggap memuaskan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. KIP menjadi program yang paling memuaskan setelah Kartu Indonesia Sehat (KIS). Adapun saat ini, KIP disalurkan dalam bentuk non tunai berbentuk ATM yang telah disalurkan ke lebih dari 17 ribu penduduk dari total 21 juta penduduk. Dimana sekitar 4 ribu sisanya, menurutnya, dibagiakan melalui lembaga-lembaga di bawah nauangan kementrian agama.

“Pada prinsipnya, penerima KIP adalah keluarga miskin yang terdata di kementrian. Kami menyalurkan dana hampir Rp10 triliun untuk program ini,” kata dia. Ke depan, Kemendikbud akan berkoordinasi dengan Kemenetrian Keuangan untuk menaikkan nilai bantuan per penerima KIP. “Sampai saat ini masih kita diskusikan dengan kementrian keuangan,” ujarnya.

Program kedua, revitalisasi SMK yang meliputi perbaikan kulitas guru, kurikulum, dan sarana dan prasarana. Muhadjir mengatakan, revitalisasi SMK dilakukan untuk menyongsong era bonus demografi yang diperkirakan akan mencapai puncaknya pada tahun 2030.

Program revitalisasi ini dilakukan untuk meningkatkan nilai produktif siswa SMK. Untuk diketahui, saat ini jumlah sekolah SMK sebanyak 14 ribu dengan jumlah siswa sekitar 10 juta. Hal ini mengindikasikan sekolah SMK saat ini banyak yang tidak memenuhi standar, dimana banyak sekolah memiliki siswa di bawah 100 orang. Kondisi ini menurutnya, tidak memenuhi syarat sebagai suatu lembaga baik dari kualitas guru maupun sarana prasarana.

Keadaan ini ditambah dengan kebijakan pemerintah untuk mempercepat transformasi SMA menjadi SMK, sehingga memengaruhi sumber daya guru yang tersedia. Percepatan ini membuat banyak daerah mengejar target untuk mengganti SMA menjadi SMK. Akhirnya banyak guru yang tidak memiliki keahlian dan berdampak terhadap lulusan. Untuk mengatasi gap keahlian ini, Kemendikbud telah memberikan pendidikan kepada guru yang memiliki bidang keahlian umum seperti kewarganegaraan, untuk mengambil bidang yang cocok dengan keahlian yang dibutuhkan sekolah. Sampai saat ini, ada 15 ribu guru yang telah diberikan pelatihan dari target 20 ribu guru selama tahun 2017-2018 lalu.

Pages: 1 2 3

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)