Kemenperin Genjot SDM Sektor Olahan Kakao dan Ikan

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI), Eko SA Cahyanto.

Kementerian Perindustrian terus menggenjot kompetensi sumber daya manusia (SDM) di sektor industri pengolahan kakao dan perikanan. Tujuannya untuk memacu kebijakan hilirisasi industri di kedua sektor tersebut, sehingga meningkatkan nilai tambah sumber bahan baku yang dimiliki di dalam negeri.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI), Eko SA Cahyanto, menyampaikan, industri pengolahan kakao di dalam negeri mampu menghasilkan produk yang kompetitif di pasar domestik hingga ekspor. “Produk olahan kakao dari dalam negeri telah diminati pasar global. Bahkan, seiring perkembangan zaman, cokelat menjadi kebutuhan gaya hidup masyarakat saat ini,” katanya di Jakarta, Selasa (27/8/2019).

Potensi pengembangan industri pengolahan kakao di Indonesia pun masih prospektif karena didukung sebagai negara penghasil kakao terbesar ketiga di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Sebanyak 81% produk yang dihasilkan industri olahan kakao di dalam negeri telah diekspor ke berbagai negara berupa produk cocoa liquor, cocoa cake, cocoa butter dan cocoa powder.

Sepanjang 2018, ekspor produk cocoa butter dan cocoa powder, masing-masing mengalami peningkatan sebesar 14,13% dan 12,28% dibanding periode yang sama pada tahun 2017. Neraca perdagangan produk kakao olahan juga masih surplus di tahun 2018 dengan total nilai ekspor menembus angka US$ 1,12 miliar.

“Pengembangan hilirisasi industri pengolahan kakao diarahkan untuk menghasilkan bubuk cokelat, lemak cokelat, makanan dan minuman dari cokelat, suplemen dan pangan fungsional berbasis kakao, serta kebutuhan untuk kosmetik dan farmasi,” sebut Eko.

Sementara itu, menurut Eko, Kemenperin terus mendorong peningkatan utilisasi industri pengolahan hasil perikanan nasional. Adapun kebijakan strategis yang dijalankan di antaranya, menciptakan iklim usaha yang kondusif, serta memfasilitasi kemitraan yang terintegrasi antara hulu dan hilir guna menjaga pasokan bahan baku. Selanjutnya, menerapkan standar dan memanfaatkan teknologi modern melalui bantuan mesin dan peralatan pengolahan hasil laut ke daerah-daerah potensial.

“Upaya yang juga terpenting adalah pengembangan kualitas dan kuantitas SDM industri, melalui pelatihan jaminan mutu dan keamanan produk industri pengolahan hasil laut serta tentang teknologi proses produksinya,” paparnya.

Menurut Eko, pihaknya melalui Balai Diklat Industri (BDI) di Makassar, telah rutin menyelenggarakan Diklat 3 in1 (pelatihan, sertifikasi, dan penempatan) untuk menopang peningkatan produktivitas pelaku industri pengolahan kakao dan perikanan, khususnya di wilayah Sulawesi Selatan. Diklat ini diharapkan dapat mencetak wirausaha baru, termasuk pelaku industri kecil dan menengah (IKM). Peserta Diklat 3 in1 ini juga ditargetkan akan menjadi SDM yang berkualitas dan bisa menjadi pengusaha muda yang nantinya memiliki usaha yang mampu menyerap tenaga kerja baru.

Eko menyampaikan, pada Sabtu (24/8) pekan lalu, dirinya telah melepas sebanyak 150 lulusan Diklat 3 in 1 yang diselenggarakan oleh BDI Makassar. Mereka merupakan peserta Diklat pembuatan aneka olahan berbasis ikan untuk angkatan 25 tahun 2019, kemudian Diklat pembuatan aneka olahan berbasis cokelat untuk angkatan 10, dan Diklat pembuatan desain kemasan produk pangan untuk angkatan 17.

“Kami optimistis, peserta Diklat 3 in 1 tersebut akan berkontribusi untuk mendongkrak kinerja industri pengolahan kakao dan perikanan di dalam negeri, yang sekaligus akan turut mendorong peningkatan kinerja industri makanan dan minuman. Apalagi, industri makanan dan minuman adalah satu dari lima sektor andalan dalam implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0,” tuturnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)