Kementerian BUMN Bentuk Tim Percepatan Pengembangan Tenaga Surya

Kementerian BUMN membentuk tim Percepatan Pengembangan dan Pemanfaatan Energi Surya. Tim tersebut diketuai oleh Erick Thohir, serta tim kerja yang terdiri dari Direktur Operasi I PT Len Industri, Direktur Strategi, Portofolio dan Pengembangan Usaha PT Pertamina, Direktur Mega Project PT PLN, Direktur Niaga & Manajemen Pelanggan PT PLN, dan Chief Executive Officer Subholding Power and New Renewable Energy PT Pertamina.

Pembentukan tim ini merupakan tindak lanjut dari penandatanganan Head of Agreement (HOA) tentang kerja sama Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) antara 3 BUMN yakni PT LEN, PT PLN, dan PT Pertamina pada awal Oktober 2019 lalu.

“Indonesia memiliki potensi energi alternatif tenaga matahari yang sangat besar. Sayang jika dibiarkan begitu saja. Apalagi saat ini pemakainnya masih minim,” ujar Linus Andor M. Sijabat, Direktur Operasi I PT Len Industri yang juga merupakan Ketua Tim Kerja proyek ini.

BUMN akan menjadi inisiator untuk mengejar target energi bauran tahun 2025. Selain itu, BUMN juga diharapkan dapat menjadi role model bagi implementasi green energy di Indonesia dan membantu mengurangi emisi gas rumah kaca.

Sebagai tambahan, pemerintah melalui Perpres No.79 tahun 2014 menyatakan bahwa target bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 23% atau sebesar 49,2 Giga Watt pada tahun 2025 dan paling sedikit mencapai 31% di tahun 2050. Dari total bauran EBT tersebut, target penyediaan kapasitas PLTS adalah sebesar 6,5 Giga Watt pada tahun 2025 dan sebesar 45 Giga Watt di tahun 2050.

Indonesia terletak di sepanjang garis khatulistiwa dengan radiasi energi matahari rata-rata sebesar 4,80 kWh/m2/ hari. Kondisi ini membuat energi matahari menjadi alternatif sumber energi. Namun ironisnya, menurut data kementerian ESDM tahun 2019, pemanfaatan PLTS masih sangat kurang yakni hanya sebesar 200 Mega Watt dari total 207,8 Giga Watt potensi yang dimiliki.

“Jika semua perusahaan BUMN memanfaatkan PLTS, potensinya diperkirakan sebesar 1,4 Giga Watt peak (GWp) dengan biaya investasi kurang lebih Rp15 triliun,” kata Linus menambahkan. Energi tersebut nantinya bisa dimanfaatkan di ruang-ruang publik seperti jalan tol, bandara, SPBU, stasiun, pertambangan, pabrik, kantor, perkebunan, tambang, dan lainnya.

Len Industri menjadi BUMN yang memiliki kompetensi dan pengalaman di bidang energi terbarukan, khususnya PLTS. Sementara, PLN akan menjadi penyedia listrik, dan Pertamina akan menjadi pengembang pembangkit listrik tenaga surya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)