Kepemimpinan Nasional Harus Siap Hadapi Tantangan Global

Integritas sebagian pemimpin di negara kita banyak diragukan. Maklum satu per satu pemimpin kita banyak tersandung masalah korupsi, narkoba, gratifikasi atau pornografi. Ujung-ujungnya sel penjara tak pernah sepi kedatangan penghuni baru dari kalangan pemimpin, mulai dari pemimpin organisasi, desa, kabupaten, gubernur, kementerian, bahkan pemimpin perusahaan.

Kondisi ini sungguh memprihatinkan. Kalangan akademisi seperti Universitas Prasetiya Mulya (Prasmul) juga prihatin dengan tumpulnya jiwa kepemimpinan nasional yang berintegritas tinggi. Untuk itu, Prasmul menggelar sarasehan nasional dengan tema “Kepemimpinan Nasional Menyegarkan Potensi Kebangsaan untuk Menghadapi Tantangan Masyarakat Global” yang diadakan di Kampus Universitas Prasetiya Mulya di Cilandak, Jakarta Selatan (11/10/2016).

Hadir dalam seminar yang digelar dua sesi dari jam 10.00 -15.00 WIB adalah beberapa pakar sebagai pembicara. Ada Azyumardi Azra, Yanuar Nughroho, J.Kristiadi, Sammy Kristamuljana dan Destry Damayanti.

prasmuleko

“Banyak pemimpin kita yang rajin beribadah, tapi korupsi juga. Pemimpin ini percaya pada Tuhan YME, tapi kok mencuri, padahal kan malaikat yang mencatat perbuatan kita ada di kiri dan kanan,” jelas Prof Azyumardi Azra, CBE dalam paparannya yang berjudul “Kepemimpinan Nasional: Peningkatan Kapasitas Negara”.

Azyumardi mengatakan, idealnya pemimpin nasional itu memenuhi 9 kriteria, yaitu, Pancasilais, integritas, inspiring, demakratis, adil, problem solver, solidaity maker, tegas dan teguh, serta global outlook.

Dalam kesempatan yang sama, Yanuar Nughroho, Deputy Kepala Staf Kepresidenan RI Joko Widodo, menjelaskan, menjadi pemimpin negara harus siap dinilai berbagai pihak. Rapor pemerintahan dianggap berhasil atau tidak dikur dari 5 aspek: inflasi, pertumbuhan ekonomi, kesenjangan, pengangguran dan kemsikinan.

Sementara itu, Harry Tjan Silalahi, budayawan dan pendiri CSIS, mengatakan, sebagai dasar negara, Pancasila merupakan filosofi dasar kehidupan berkebangsaan Indonesia, yang dalam konteks kepemimpinan organisasi seharusnya menjadi darah-biru yang mengalir normal pada setiap pemimpin di negeri ini. Darah Pancasila itulah yang seharusnya menjadi pemacu jantung kepemimpinan yang menyebarkannya ke sendi-sendi tubuh organisasi mana pun, khususnya Indonesia ini.

"Sebagai darah yang seharusnya terus mengalir menjamin nafas kehidupan bangsa, Pancasila seharusnya mewarnai segala sendi kehidupan politik-ekonomi-sosial-budaya di negara kita," ujar Harry ketika menjadi pembicara kunci sarasehan nasional di kampus Prasmul.

Harry meyakini di tengah hiruk-pikuk perpolitikan dan kehidupan sosial-kemasyarakatan kita saat ini, Pancasila dapat menjadi pondasi perilaku kepemimpinan bagi siapa pun yang menjadi pemimpin di negeri ini. "Bicara membangun bersama bangsa ini bukan bicara bicara bangsa secara nasional tidak mempertimbangkan politik, etnis apalagi agama," katanya.

Dalam hal kemanusiaan yang adil dan beradab, ia menyebut terungkap jelas dengan sebuah kisah yang terlukis pada relief Candi Mendut, tentang seekor burung berkepala dua. Alkisah burung yang satu ketika kepala bagian bawah memakan racun karena putus asa ketika berulangkali permintaannya untuk sesekali turut merasakan apa yang dimakan kepala bagian atas tidak pernah dikabulkan. "Protesnya pada ketidakadilan yang diterimanya berujung pada kematian yang menimpa seluruh tubuh," katanya.

Dalam konteks kepemimpinan, jelas sikap manusiawi yang adil itu bukan filsafat perilaku kosong yang tak bernilai. "Sebaliknya Pancasilais merupakan prinsip yang harus diterapkan dalam cakupan yang menyeluruh di sebuah organisasi yang berkelanjutan, bersikap adil sesuai peradaban yang baik pada sesama dalam sebuah organisasi," katanya.

Magister Manajemen Prasetiya Mulya

Selain pedulli dengan isu-isu kepemimpinan atau leadership, sejatinya Universitas Prasetiya Mulya sudah lama dikenal dekat dengan dunia bisnis. Dalam perkuliahan senantiasa membahas kasus-kasus nyata di perusahaan atau organisasi untuk metode pembelajaran. Bahkan, bisa didiskusikan solusinya seperti apa dari kacamata dunia akademis.

“Untuk tugas akhir di Univeritas Prasetya Mulya adalah membuat business plan, sedangkan di univeritas lain biasanya skripsi. Business plan itu diuji oleh dosen internal dan pihak yang kompeten dari luar. Isi business plan harus mengacu pada people, profil dan planet,” ungkap Dr Indria Handoko, Director of Graduate Program Universitas Prasetiya Mulya kepada pers usai seminar.

Saat ini jumlah mahasiswa Magister Manajemen Univesritas Prasetiya Mulya berjumlah 500 orang, sedangkan mahasiswa S1 ada 3.000 orang. Setiap ajaran baru menerima 100 – 200 mahasiwa baru. “Dalam setahun, kami menerima dua kali pendaftaran mahasiwa baru untuk Magister Manajemen,” jelas Indria. Adapun total biaya kuliah MM regular Rp120 juta, MM Bisnis Manajemen Rp140 juta dan MM Strategi Rp160 juta.

“ Tahun depan, kami harapkan jumlah mahasiswa MM Univeritas Prasetiya Mulya meningkat. Namun, biasanya untuk level MM cenderung stagnan, karena disesuaikan dengan jumlah dosen dan kapasitas ruangan. Tapi kalau S1 selalu naik jumlah mahasiswanya tiap tahun,” ucap Indria menegaskan. (***)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)