Kepercayaan dan Hati Nurani, Kunci Awal Bros Group Hadapi Krisis

Arfan Awaloeddin, CEO Awal Bros Group dalam webinar yang diselenggarakan oleh SWA bertajuk Leadership Wisdom: Resilience and Agility in Good Times and Bad Time (Foto: Vina/Swa)

Sebagai perusahaan yang telah lama berdiri, Grup Awal Bros cukup kenyang menghadapi krisis. Bahkan, jaringan rumah sakit ini justru lahir saat situasi ekonomi sedang sulit yakni pada krisis moneter 1998. Namun, berbagai tekanan yang datang tidak menghentikan niat Awal Bros untuk turut berpartisipasi dalam meningkatkan pelayanan kesehatan di Indonesia.

"Ide untuk mendirikan rumah sakit ini awalnya dari almarhum ayah saya H. Awaloeddin. Beliau adalah seorang veteran yang memiliki berbagai macam bisnis dari tahun 50-an. Tahun 1996, beliau menginginkan adanya sebuah rumah sakit, karena beliau percaya sebuah bangsa akan bagus jika pendidikan dan kesehatannya juga bagus. Kami sebagai anak-anaknya diminta beliau untuk mewujudkan hal tersebut," ujar Arfan Awaloeddin, CEO Awal Bros Group dalam webinar yang diselenggarakan oleh SWA bertajuk' Leadership Wisdom: Resilience and Agility in Good Times and Bad Times', Rabu (27/10/2021).

Sebagai generasi kedua, Arfan menyadari bahwa sudah kewajibannya untuk mewujudkan mimpi sang ayah meski ketika itu kondisi tidak memungkinkan untuk melanjutkan pembangunan rumah sakit. Rupiah yang terdepresiasi dari Rp2.500 menjadi Rp16.000 ditambah suku bunga pinjaman yang tinggi membuat mereka kewalahan.

"Sebenarnya tahun ‘97 akhir kami sudah menyampaikan kepada beliau bahwa kondisi tidak memungkinkan untuk melanjutkan pembangunan rumah sakit karena barang-barangnya impor, project cost-nya pun sudah terbalik. Dulunya kami berharap 30% equity dari kami dan 70% dari bank, tapi kenyataannya terbalik," cerita Arfan.

Lantas apa yang dilakukan Arfan? Arfan ingat betul ketika itu ayahnya menyampaikan bahwa mengembangkan bisnis harus berbasis kepercayaan. Filosofi ini selalu ditanamkan sang ayah baik dalam pekerjaan maupun keluarga. Dan hal itu terbukti ketika perbankan setuju untuk menyesuaikan suku bunga pinjaman.

"Dulu belum ada orang membuat rumah sakit yayasan dibiayai oleh perbankan, tetapi kami dibiayai karena kami mendapat kepercayaan dari bank. Salah satu alasannya karena Pak Haji sudah sangat lama berbisnis sehingga dipercaya oleh bank. Saya melakukan negosiasi kepada perbankan dan perbankan setuju untuk menyesuaikan suku bunganya. Akhirnya rumah sakit bisa berjalan kembali dan kami bersyukur didukung oleh berbagai institusi pendidikan yang mengirim dokter dan tenaga medis lainnya," lanjut dia.

Selain kepercayaan, menurut Arfan, ayahnya juga memiliki filosofi bahwa dalam menjalankan bisnis kita harus terus mendengarkan hati nurani. Maksudnya, berbisnis hendaknya bukan semata mengejar kekayaan melainkan menjadi sarana membantu sesama, apalagi rumah sakit adalah bisnis jasa.

"Menurut beliau, jadi pedagang maupun dokter itu baik, tapi jadi dokter yang pedagang itu tidak baik. Kalau saya sebagai dokter dan juga sebagai pedagang pasti yang saya pikirkan adalah hutang bank dan bagaimana caranya agar untung sebesar-besarnya dengan memberdayakan pasien. Itu kurang etis," kata Arfan menegaskan.

Nilai-nilai inilah yang akhirnya juga diterapkan Arfan ketika menghadapi krisis pandemi Covid-19. Ia mengatakan, ketika pandemi melanda Indonesia, bisnis rumah sakit yang digelutinya sempat mengalami kelesuan. Tidak hanya karena pengurangan mobilitas penduduk, tapi diperparah dengan image yang terbangun di benak masyarakat bahwa rumah sakit adalah tempat berkumpulnya orang sakit sehingga merupakan salah satu area rentan paparan Covid-19 yang perlu dijauhi.

"Jangankan pasien, dokter dan tenaga medis lainnya juga ketakutan. Bahkan, kami di manajemen juga takut mendatangi rumah sakit," ujar Arfan. Kondisi ini menuntut manajemen rumah sakit untuk berbenah dan berinovasi pada area layanannya. Hal ini dilakukan untuk mengembalikan kepercayaan pasien maupun tenaga medis bahwa RS Awal Bros aman.

Strategi yang dibuat Awal Bros adalah pertama meyakinkan dokter dan tenaga kesehatan bahwa manajemen menjamin keselamatan mereka dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat sesuai standar WHO. Setelah itu, pihaknya mengedukasi masyarakat bahwa RS Awal Bros melakukan segregasi atau pemisahan antara pasien covid dan non-covid mulai dari ruang emergency. Sebagai jaminan akan pasien safety dan quality, sejak 2015, RS Awal Bros juga sudah terakreditasi Nasional oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) dan Internasional oleh Joint Commission International (JCI).

"Kita beri semangat dan motivasi kepada para dokter dan seluruh tenaga medis lainnya bahwa kita akan mengutamakan keselamatan mereka. Ayo mari kita bersama-sama, tunjukkan kemanusiaan kita. Kalau bukan kita siapa lagi yang akan menyelamatkan masyarakat yang terpapar," tutur Arfan.

Arfan yakin adanya kepercayaan tenaga medis, pasien dan seluruh stakeholder lain dapat mendorong bisnis rumah sakit kembali tumbuh meski dalam kondisi krisis akibat pandemi Covid-19. "Bila masyarakat percaya pada rumah sakit maka kami akan tetap punya peluang tumbuh, bahkan dalam kondisi krisis seperti saat ini, karena rumah sakit adalah bisnis kepercayaan," ujar Arfan.

Sebagai leader, Arfan juga menyadari bahwa ia harus lebih kreatif dan meyakinkan karyawan bahwa krisis ini pasti berlalu. Ia tetap optimistis dan tidak mengeluh, karena ia yakin di balik kegelapan pasti ada sisi terang. "Jika saya sebagai leader galau maka bawahannya juga pasti galau. Makanya sebagai pemimpin kita harus yakin dan memiliki optimisme yang kuat sehingga aura positifnya akan keluar, jika aura tersebut keluar maka kita akan lebih kreatif," imbuhnya.

Terbukti, meski pandemi melanda RS Awal Bros tetap bisa menciptakan produk dan layanan baru. Arfan memakai strategi DAMO (Discovery, Adventure, Momentum, dan Outlook). Dengan melihat dan meneropong apa momentum bisnis dari pandemi ini, apa yang dibutuhkan masyarakat saat ini? PCR. "Awalnya kami tidak punya PCR, dan waktu itu saya masih ragu karena izinnya susah. Namun, Pak Doni Monardo mengatakan dalam kondisi pandemi seperti ini bisa menggunakan UU darurat, sehingga kami pun adakan untuk membantu masyarakat," cerita Arfan.

Di samping itu, RS Awal Bros juga merenovasi ruangan agar sesuai dengan protokol kesehatan sehingga bisa menampung pasien covid. Dan ia bersyukur, pihaknya telah memulai digitalisasi sejak lima tahun lalu sehingga ketika pandemi datang membuat mereka cepat beradaptasi.

"Di 2016-2017 itu kami memprediksi bahwa digitalisasi akan full di tahun 2025, semua orang mengatakan begitu. Tapi kami tetap memulai, karena jika tidak dimulai kapan lagi. Akhirnya Alhamdulillah saat situasi sekarang yang mengharuskan semuanya digital kami tidak kaget. Sekarang kami banyak paperless, karena kertas ini bisa menjadi sumber penularan," jelas Arfan yang mengatakan seluruh rumah sakitnya sudah menerapkan digitalisasi seperti telemedicine, laporan keuangan, pemesanan ke vendor, hingga tenaga medis sudah memakai iPad untuk mencatat medical report. Kesalahan secara manual pun sudah banyak berkurang.

"Mengubah habit orang kan perlu waktu, misalnya mencatat medical report. Bagaimana dokter senior mau ngetik itu. Tetapi kita sudah mulai duluan sehingga kita bisa beradaptasi. Di 2019 bisa dikatakan kami sudah 80-90% sudah serba digital. Begitu ada covid ini lebih memacu kami karena perubahan itu datangnya lebih cepat," ujarnya lagi.

Menurutnya, pelajaran yang bisa diambil dari pandemi Covid-19 adalah momentum bagi industri kesehatan untuk berbenah dan tumbuh. Jangan melihat pandemi hanya dari sisi gelapnya saja, tetapi juga harus dilihat sisi terangnya dan kita harus memanfaatkan momentum untuk terus berinovasi.

"Kita harus memanfaatkan peluang ini untuk terus berinovasi, jangan banyak merenungkan nasib. Itu yang kami tularkan kepada yang muda-muda. Kita harus berfikirnya ke depan, boleh lihat ke belakang tetapi hanya sebagai cerminan. Kita harus terus berinovasi dan berharap peluang itu pasti ada," pesan Arfan.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)