Kesan Fasilitasi Kegiatan Ibadah Santri dalam Aplikasi

(ke-1 dari kanan) Hamdan Hamedan, CEO Kesan

Menurut Kementerian Agama RI, jumlah santri aktif di Indonesia mencapai 4 juta jiwa. Sementara itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika RI menyatakan bahwa total santri aktif dan yang sudah lulus mencapai 40 juta jiwa.

Hal itu diungkapkan oleh Hamdan Hamedan, CEO PT Kesan Digital Nusantara (Kesan) di Jakarta, Jumat (3/5/2019) dan menjadi salah satu latarbelakang ia membangun aplikasi khusus santri. “Kami para santri punya masalah sama. Begitu keluar pesantren, tantangannya adalah tetap mengamalkan ibadah selepas keluar pesantren,” tambahnya.

Hamdan menceritakan pengalamannya menjadi santri, bahwa saat di pesantren, santri kerapkali diingatkan untuk beribadah dari lingkungannya. Saat keluar, tidak ada lagi yang mengajak. Melalui aplikasi Kesan, Hamdan berusaha membuat pengingat dan pengajak ibadah online bagi para santri.

Lantas, fitur apa saja yang ditawarkan kesan? Hamdan menemukan dalam riset pasarnya bahwa kendati sudah banyak aplikasi Islam, belum ada satu aplikasi yang komprehensif. “Jawaban teratas santri mengenai aplikasi yang mereka inginkan adalah yang tanpa iklan dan lengkap.”

Mendengar jawaban itu, Kesan kemudian ia rancang sedemikian rupa untuk memenuhinya. Fitur yang hadir di dalam kesan di antaranya; fitur pengingat (nudging) ibadah, kalender hijriah, jadwal salat dan puasa, kitab kuning, doa, salawat, hadis, hingga paduan haji dan umrah. Selain itu, aplikasi juga menawarkan fitur Feed, di mana pengguna bisa membagikan karya tulisannya kepada pengguna lain.

“Setiap jam 9 pagi kami akan mengirimkan Hadis hari ini. Dalam fitur doa dan shalawat, kami punya 19 jenis doa dan saya lihat di aplikasi lain ini tidak ada. Juga setiap entri shalawat kami ada terjemahan bahasa Indonesia dan tiap doa ada penjelasannya yang disusun editor Kesan. Jadi pengguna dari bangun sampai tidur kembali terbantu oleh aplikasi,” ujar Hamdan.

Hamdan menyampaikan, tujuan Kesan adalah untuk menggaet audience sebanyak-banyaknya. Ia ingin Kesan seperti “pasta gigi”, yang dipakai setidaknya dua kali setiap hari.

“Saya percaya monetisasi itu berasal dari user. Kalau komunitasnya banyak, mereka akan memberikan kesan. Itu lebih bagus daripada sekadar menawarkan produk. Saya pikir lebih baik bangun audience dulu, biarkan mereka berkembang, dan biarkan pengguna memutuskan apa yang cocok untuk monetisasi,” ujar Hamdan.

Editor: Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)