Keseriusan UT CorpU Mencetak Calon-Calon Pemimpin Perusahaan

Kepala Seksi People Development UT CorpU, Asep Suprapto, bersama Tim.

Menjadi salah satu perusahaan yang berhasil menciptakan calon-calon pemimpin di lingkungan Grup Astra, PT United Tractors (UT) Tbk.  menelurkan nama-nama besar yang ditempa melalui United Tractors Corporate University (UT CorpU).

Perusahaan distributor alat-alat berat terbesar di Indonesia ini mampu melakukan pengembangan SDM secara terarah. Konsistensi dan adaptif terhadap kondisi operasional perusahaan, dilakukan guna menciptakan profesionalisme kerja.

Menurut Direktur Human Capital UT, Edhie Sarwono, UT CorpU didesain tidak mengikuti arus besar (mainstream) dunia pendidikan, melainkan menekankan pada desentralisasi sinergi. “Kami petakan soft skill dan hard skill yang dibutuhkan. Di soft skill antara lain diajarkan ilmu kepemimpinan, sedangkan untuk hard skill dijarkan kemampuan teknis,” ungkapnya.

UT sarat dengan technical dan memiliki desain kompetensi. Tidak ada superman, yang ada superteam dalam sebuah perusahaan. Hal senada diungkapkan Endang Tri Handajani, Kepala Divisi Human Capital Management & Corporate University UT. Menurutnya, UT CorpU yang berdiri sejak 2010 merupakan strategi perusahaa untuk menjawab percepatan penyiapan talent pada saat organisasi tumbuh. “Kami bagian dari Grup Astra harus speed up kesiapan talent yang akan menjadi leader di setiap perusahaan,” tambahnya.

UT kini memayungi lima bisnis utama, yakni mesin konstruksi, konstruksi pertambangan, konsesi pertambangan, industri konstruksi, dan energi. UT Memiliki 20 cabang, 22 site support, 14 kantor utama, dan 10 kantor perwakilan. Melalui UT CorpU, fasilitator internal yang berasal dari karyawan hadir dengan jumlah mencapai 100 orang. “Misinya adalah powerful, motivate, attractive, dan uniqueness,” ujar Endang,

Selain itu, UT CorpU jugamenggandeng Rheinald Khasali sebagai fasilitator eksternal untuk membantu memberikan materi. Fasilitaor eksternal diundang untuk memberikan materi seperti kepemimpinan, akutansi, dan keuangan. Tahun lalu, UT berkolaborasi bersama Dunamis untuk mengimplementasikan strategi bisnis UT. Menurut Kepala Seksi People Development UT CorpU,  Asep Suprapto, porsi untuk fasilitator internal sebanyak 70%, eksternal 30% dan kompetensi yang diajarkan adalah leadership & basic management.

Asep juga menambahkan bahwa UT CorpU menjadi center of certification, center of competencies, center of leadership, dan center of culture building. Harapannya, UT CorpU dapat menjadi institus learning untuk alat-alat berat di sektor pertambangan, konstruksi, dan energi.

Metode pembelajaran yang digunakan UT CorpU adalah action learning, blended learning assignment, mentoring, dan e-learning. Pengukurannya dilakukan melalui evaluasi produktivitas, kepuasan pelanggan, revenue, dan pengurangan biaya. Sistem digital learning dilakukan sejak pertengahan Desember 2017 untuk membiasakan pegawai menggunakan sistem digital ini dan gaya belajarnya.

Saat ini UT memiliki generasi milenial yang menggunakan pola pembelajaran Grebek Milenial (Gerakan Ayo Belajar Gaya Milenial). UT CorpU sengaja memilih ini untuk menghindari eksklusivitas yang mengusung konsep metode belajar visual learning dipadukan permainan seperti drone, action cam, dan mirrorles. Metode ini untuk menciptakan cara baru yang tidak konvesional lagi, beradaptasi dengan kebutuhan milenial.

Hingga saat ini UT CorpU harus bisa menghasilkan 18 talent per divisi, jika divisinya besar, bisa mencapai 54 talent. Tiap tahun rata-rata 100-an talent diciptakan oleh UT CorpU. Evaluasi dan profiling karyawan juga dilakukan untuk menilai kompetensi dan performance yang dimasukan dalam Human Asset Value (HAV). “Talent yang memiliki nilai 1 hingga 4 harus di develop oleh leader-nya sendiri. Tugas UT CorpU me-monitoring bahawa tugas tersebut dikerjakan.

Anggaran untuk UT CorpU mencapai Rp7 miliar sebagai bukti keseriusannya dalam pengembangan human capital perusahaan. Tugas besar UT CorpU adalah sebagai change management. “Kami Sudah mmulai memikirkan digitalisasi dan otomatisasi, pengenalan aplikasi. Selain itu, kami memiliki digital corner. Metode pembelajaran juga menggunakan aplikasi untuk membiasakan dan menyiapkan mental mereka,” ungkap Asep.

 

Reportase: Anastasia Anggro Suksmonowati

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)