Kesiapan Human Resources di Era dan Generasi Baru

Priyantomo Rudito Pengamat dan Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang Manajemen Strategis, Branding & Penanggung Jawab Pasar Australia, Priyantono Rudito.

Era disruptif menjadi fenomoena tersendiri yang harus dihadapi oleh perusahaan. Mereka memerlukan suatu hal besar untuk melakukan transformasi digital di sektor usahanya. Menurut Pengamat dan Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang Manajemen Strategis, Branding & Penanggung Jawab Pasar Australia, Priyantono Rudito, digital disruption  merupakan suatu transformasi dari kondisi best practices menjadi next practices yang harapannya dapat menjadi next best practices. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri untuk melakukan self disruption.

“Disrupsi muncul karena adanya ide bisnis yang berbeda dengan model bisnis yang telah dipahami. Ada logika bisnis yang bergeser, self disruption sifatnya multi dimensional yaitu transformasi teknologi, sistem prosedur, organisasi, model bisnis dll, namun core-nya adalah human capital,” ungkapnya.

Pergeseran ini mengharuskan Human Resources (HR) mempersiapkan kompetensi baru untuk calon karyawannya. Ke depan, diperlukan kompetensi agility, flexibility, experimental, innovativeness, dan open mindset. Selain itu, dilakukan pengembangan talent sebagai upaya menciptakan talent poll pada perusahaan. “Kini pendekatan terhadap talent banyak dilakukan dengan coaching, team building, booth camp, yang di dalamnya lagi menggunakan pendekatan scrumb,” ujarnya. Baginya, HR tak lagi didrive berdasarkan hirarki, namun oleh inovasi dan kreativitas.

Generasi milenial memandang dunia dan persoalan di organisasi perusahaan dengan prespektif yang berbeda, terkadang sulit dipahami oleh generasi sebelumnya. Contohnya, bisnis transportasi saat ini yang tak memerlukan investasi kendaraan. Ini tak dibayangkan oleh generasi lama , namun ide ini menjelma menjadi layanan transportasi yang cepat dan  dipakai oleh banyak orang. “Yang harus dilakukan adalah berkolaborasi antar generasi, milenial dengan ide-idenya yang inovatif dan radikal dan generasi sebelumnya bisa memberikan suntikan investasi kepada milenial dalam bentuk sumber daya yang dibutuhkan dan anggaran,” ujar Priyatono

Managing and developing HR di era sekarang harus megikuti pergeseran pardigma baru. Ada empat dimensi yaitu shifting progresif, shifting paradigm, shifting vertical move, dan orientation moveShifting progresif yaitu dari yang dulunya hanya terkait administrasi kepegawaian, di era sekarang menjadi bisnis partner. Sedangkan shifting paradigm ditandai dengan gerak literal yaitu membangun sistem nilai atau values center. Kemudian shifting vertical move, awalnya HR dianggap sebagai less priority, sekarang menjadi prioritas pertama dan utama yang tugasnya adalah membangun pusat keunggulan. Terakhir, orientation move dimana HR harus dapat predict the future.

Menurut riset, perusahaan besar dunia yang telah berhasil bertransformasi ke arah digital, mereka membangun sistemnya dulu. Karena untuk membangun mindset yang baru diperlukan iklim yang baru, yang tidak sama dengan sebelumnya. HR harus memiliki kompetensi untuk talent developing yang ada di perusahaanya untuk masa depan. Lebih jauh lagi HR melakukan prediksi terhadap struktur organisasi, struktur bisnis, menyusun QPA dan remunerasi yang tepat.

 

Reportase: Anastasia Anggoro Suksmonowati

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!