Kesiapan IPB University Menjadi Kampus Socio-Technopreneur

Rektor IPB University, Prof. Arif Satria (tengah) memaparkan konsep dan progres socio-techopreneur dalam forum silaturahmi alumni IPB.

IPB University mengundang para alumninya yang bergiat di bidang media dan medsos dalam sebuah silaturahmi. Acara tersebut digelar secara offline, bertempat di ICC IPB, Baranangsiang Bogor, serta ditayangkan secara virtual via Zoom.

Pertemuan ini di hadiri langsung oleh Rektor IPB Prof. Arif Satria, Sekretaris IPB Dr. Aceng Hidayat, dan Sekjen HA IPB , Walneg S. Jas. Hadir sejumlah alumni IPB yang bergiat di media - ada yang secara offline maupun online.

Dalam kesempatan itu , Rektor IPB menyampaikan penjelasan tentang visi IPB untuk menjadi Techno-Sociopreneurial University. Menurut Prof. Arif, konsep ini lebih dari sekadar memadukan unsur teaching dan entrepreneurship, namun lebih jauh lagi memadukan unsur riset, inovasi dan enterpreneurship. Di antara modal pentingnya , mengutip data dari Business Innovation Center (BIC), IPB merupakan penyumbang inovasi paling prospektif terbanyak di Indonesia dari periode tahun 2008 - 2019, yakni 501 inovasi dari total 1.226 inovasi ( 39,57%).

Untuk perwujudan Technopreneurship, IPB sudah membangun Science Techno Park (STP) yang antara lain berperan mengembangkan teknologi dan R&D hingga komersialisasi inovasi. STP ini akan bekerja sama dengan industri untuk pengembangan bisnis dan licencing. Juga sudah mengembangkan gerai ritel hasil kemitraan dengan para petani yang diberi nama Serambi Botani, dan kini sudah ada 15 gerai di Indonesia , plus di terminal 3 Bandara Soetta.

Sedangkan dalam praktik Socio-preneurship, IPB sudah membangun Agro-Technologi Park, yang menghubungakan para petani dengan supermarket modern seperti Hero, Ranch Market, Yogya, Total Buah Segar, dan sebagainya.

Dalam program Socio-preneurship ini , IPB menjalankan Young Agripreneur dan One Village One CEO (untuk memimpin BUMDes). Selain itu, IPB juga sudah menggandeng Astra International (program Satu Indonesia) untuk mengembangkan BUMDes di berbagai kota (tahap awal di Bandung, Cianjur dan Garut), yang menghubungkan para perani dengan pasar potensial.

Editor : Joko Sugiarsono

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)