Ketika Hollywood Mulai Lirik Pasar Indonesia

Sheila Timothy Sheila Timothy, Produser film Wiro Sableng

Jika tidak meleset, pada 2018 film Wiro Sableng 212 yang dibintangi Vino Bastian sebagai Wiro Sableng dan Sherina sebagai Anggini siap ditayangkan. Film yang disutradarai Angga Dwimas Sasongko, sutradara kenamaan dengan karya fenomenalnya: Filosofi Kopi, ini telah diancangkan sejak dua tahun lalu. Diakui Sheila Timothy, produser film Wiro Sableng, film yang diambil dari komik legendaris Wiro Sableng ini membutuhkan perencanaan matang karena diperkirakan menjadi tonggak penting bagi dunia perfilman Indonesia.

Ya, Wiro Sableng 212 dipastikan akan mengawali kerjasama Indonesia dengan Hollywood. Penggarapan film ini tidak hanya menjanjikan karena mengangkat karakter ikonik yang melegenda, tetapi juga menjadi kolaborasi pertama rumah produksi Indonesia LifeLike Pictures dengan Fox International Productions (FIP), divisi salah satu studio besar Hollywood, 20th Century Fox Film Corporation.

Dalam pertemuan dengan media awal Februari lalu, Presiden FIP Tomas Jegeus dan Produser Eksekutif Michael Werner mengaku tertarik menjalin kerjasama dengan rumah produksi Indonesia karena beberapa hal. Pertama, setelah bernegosiasi dengan mengirim ratusan surat elektronik dan conference call, Tomas terkesan dengan antusiasme Sheila mewujudkan impiannya. “Saya kagum dengan visinya, juga profesionalisme dan kreativitasnya. Kala bertemu dengan kru, sutradara, dan pemain Wiro Sableng, saya makin terkesan,” ungkapnya.

Yang kedua, dengan dibukanya regulasi --film dihapus dari Daftar Negatif Investasi (DNI) agar masuk modal dan teknologi dari nol menjadi 100%--- menurut Tomas, pihaknya bisa mengeksplorasi kreativitas film Indonesia. Ia berharap, kerjasama ini bukan hanya untuk satu proyek film, melainkan bisa berkelanjutan dalam jangka panjang. "Saya yakin ini akan menjadi kerjasama berkelanjutan. Bukan hanya sekuel, tetapi juga banyak cerita lain yang akan kami eksplor, mungkin aspek budaya dan kultur," katanya.

Sheila, selaku produser film dari LifeLike Pictures, mengaku bangga berhasil menggandeng Fox Internasional yang kini diakuisisi Disney. Ini sekaligus menjadi pembuka jalan bagi industri perfilman Tanah Air berkolaborasi penuh dengan pihak asing. Wanita kelahiran 1971 yang merupakan menantu pengusaha Sofyan Wanandi itu meyakini, sebagai pasar yang besar dan potensial, Indonesia akan mendapatkan manfaat besar dari kerjasama ini.

Mengapa Wiro Sableng 212 yang dipilih untuk kolaborasi perdananya? Hal itu, menurut Lala, demikian sapaan Sheila, karena kebetulan saja. Adik ipar Vino G. Bastian itu menceritakan, Bastian Tito, ahli waris cerita Wiro Sableng yang ditulis mendiang ayahnya, menawarkan karya ayahandanya itu. Merasa tertarik, Lala kemudian menghubungi Michael, konsultan FIP Asia, untuk kemungkinan bekerjasama. “Yang kami cari bukan hanya finansial, tapi juga untuk pascaproduksi karena film laga ini berbeda, tingkat kesulitannya tinggi, ada CGI untuk jurus tenaga dalam, juga sling,” katanya dalam pertemuan dengan media.

Lala menegaskan, ia tidak main-main dengan kesempatan baik ini. Yang diinvestasikan di film tersebut bukan hanya uangnya sendiri, ada juga uang orang lain. Sehingga, selain menggunakan kacamata kreatif, kacamata bisnis pun harus digunakan.

Pertama-tama, Lala bersama tim pemasaran membaca beberapa buku Wiro Sableng. Ternyata ditemukan ada intelectual property (IP) yang bisa di-monetize besar. IP Wiro Sableng tidak hanya di filmnya, tetapi banyak turunan lain, selain sekuel, merchandise, dan komik. “Setelah saya lihat dan tertarik, lalu mengumpulkan data, cerita Wiro Sableng ini punya karakter tidak hanya satu, tapi tiga ratus karakter dengan beragam senjata, fisik dan jurus sangat spesifik. Ini menarik sekali, bisa jadi seperti film-film Marvel,” tuturnya. Dari analisis SWOT, ditemukan kekuatan pada IP yang kaya itu dengan kemungkinan monetizing yang luas. Dan, ini bisa diraih jika bisa menggandeng produser berskala internasional.

Namun, tentu tidak mudah mendapat kepercayaan mitra berkelas dunia. Berkali-kali Lala harus melakukan presentasi dan riset mendalam tentang segmen pasar, berapa banyak captive market, pengembalian modal seperti apa, peluang IP yang bisa dikembangkan seberapa besar, dan seterusnya. “Prosesnya cukup panjang, hampir 1,5 tahun. Yang paling lama proses legal, negosiasi, dan sebagainya. Hingga Februari 2017 akhirnya LifeLike menandatangani kerjasama dengan Fox,” katanya.

Kerjasama film itu ada dua bagian, produksi dan distribusi. Distribusi untuk lokal termasuk marketing, itu kami yang handle, seperti sponsor dan mencari windows untuk menjual film ini di sini. Tapi kalau distribusi internasional yang handle Fox,” kata Lala. Ia memastikan film ini akan ditayangkan di negara-negara lain.

Demi mendapatkan hasil maksimal, Lala sengaja membangun sistem baru untuk pembuatan film ini. Bersama line production dan chief department membuat sistem kerja baru. “Kami tidak menggunakan sistem hierarki seperti biasanya,” ujarnya. Ia menempatkan sutradara berada di posisi teratas dan memutuskan semua. Film ini dibangun dengan sistem perusahaan modern, dengan Matrix System. Jadi, semuanya saling terkoordinasi, tidak ada keputusan yang datang dari satu orang.

Kalau film lain dengan hanya story board dan syuting, tahapan film ini banyak sekali: mulai dari skrip, reading, story board, pre-visualisation moving to the animation, hingga video board. Jadi, setiap action yang ada di film sudah di-syut dulu dengan video board. Lalu, ini dipecah-pecah menjadi grip yang akan digunakan oleh asisten sutradara untuk merencanakan syuting nantinya. Hal seperti itu sudah ada yang melakukan. Lala belajar dari Gareth Evans yang menyutradarai film The Raid.

Lala memahami proses kerja seperti itu memang tidak biasa. Sebagai produser, ia memegang kendali dalam pemilihan sutradara, kepala departemen, dan sebagainya. “Produser seperti pemain catur, bagaimana memilih orang-orang terbaik dan mau memberikan hasil terbaik, tapi juga mau bekerjasama. Itulah kerjasama, memilih komposisi kru terbaik. Saya pitching sutradara untuk film ini,” paparnya. Ia menargetkan film ini bisa menyedot 2,5 juta-4 juta penonton.

Seiring dengan berjalannya proses film, kini LifeLike juga sedang menyiapkan sekuel kedua dan ketiga, bahkan digital series-nya pula. Fox tetap akan terlibat dalam sekuel film Wiro Sableng. Ini sesuai dengan logo LifeLike, yang berupa visual khusus pohon trembesi yang berakar kuat, terus berkembang, dan mengikat air sehingga memberikan kehidupan kepada sekitarnya. “Kami ingin seperti itu, terus berkembang, kuat, dan memberikan kebaikan kepada sekitar,” kata Sheila. (Reportase: Herning Banirestu)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)