Kibar Dukung Gerakan 1.000 Startup Digital

Membuat usaha di era digital, kini semakin mudah. Meski begitu, para pebisnis membutuhkan banyak bantuan, salah satunya adalah mentor. Hal ini diungkapkan Yansen Kamto selaku CEO Kibar. Keberadaan mentor sangat penting bagi para pelaku bisnis, terutama anak-anak muda yang membuat usaha berbasis digital atau startup. Hal ini dia tekankan dalam gerakan nasional 1.000 Startup Digital. Gerakan ini diinisiasi oleh Kibar dan didukung 150 startup seluruh Indonesia.

Kibar

Gerakan ini akan melalui 5 tahap yang dimulai dengan ignition, yaitu tahapan pembuka dari rangkaian program 1.000 startup di tahun 2020. Kegiatannya berupa seminar yang menghadirkan pembicara-pembicara seperti Co-Founder Tokopedia, Leontinus Alpha Edison, CEO HijUP Diajeng Lestari, Co-Founder Makedonia, Dina Kosasih, dll.

Ignitiaton ini pertama kali dilakukan di Universitas Trisakti Jakarta dan Yansen mengaku puas dengan antusiasme pengunjung. Dari 200 kursi yang tersedia ada 1.000 orang yang telah mendaftar. Meski begitu, workshop tersebut tidak hanya akan dilakukan di Jakarta saja melainkan di 9 kota lainnya.

“Kami ingin membangkitkan ekosistem startup dan kami tidak mau hanya di Jakarta saja, nanti akan ada beberapa kota lain dan kami sudah bekerjasama dengan universitas-universitas seperti Gajah Mada dan ITB,” jelasnya. Ke sembilan kota lainnya adalah Bandung, Surabaya, Semarang, Malang, Yogya, Medan, Pontianak, Denpasar, dan Makasar.

Ia dan bersama pendiri startup yang lain, akan berkeliling Indonesia dan menyasar anak-anak muda usia kuliah dan yang ingin memulai startup. Oleh karena itu pembicara tidak hanya startup dari Jakarta saja, namun juga dari luar daerah. Harapannya, komunitas startup bisa semakin terbangun sehingga mereka bisa saling bantu-membantu.

Modal menjadi seorang entrepreneur tidak hanya materi tetapi juga mindset dan mental anak-anak muda tersebut. Ia mengungkapkan bagaimana dukungan nonmateri dari pemerintah bisa bermanfaat banyak bagi startup. ”DI Surabaya itu ada startup namanya reblood, yang membantu donasi darah. Mereka tidak membutuhkan modal yang besar melainkan akses ke PMI. Bu Risma cukup aktif membantu untuk hal tersebut.”

Kedepannya, ia ingin agar pemerintah dan startup bisa saling membantu untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Kemunculan sebuah startup haruslah dibarengi dengan penyelesaian sebuah masalah, bukannya mencari keuntungan semata.

Ia sangat optimis bahwa gerakan tersebut akan disambut positif banyak pihak, mengingat gerakan ini baru pertama kali dilakukan di Indonesia. Ia mengaku tak ada referensi atau contoh untuk melakukan gerakan tersebut. Ia ingin membuat suatu jaringan besar yang terkoneksi dalam satu negara kesatuan, sementara jaringan seperti silicon valey hanya terkoneksi di satu titik saja yaitu San Fransisco.

Oleh karena itu, ia sengaja mengajak kerja sama berbagai startup dari daerah-daerah di Indonesia seperti reblood, angkuts, dll, untuk ambil bagian dalam program ini. Untuk mencapai keinginan tersebut, gerakan 1.000 startup mulai membuat koneksi melalui workshop. Setelah ignition nantinya akan ada 4 tahapan lagi hingga mencapai inkubasi.

Dalam setiap tahapan mereka akan melakukan seleksi pada setiap ide yang akan berkembang menjadi sebuah startup baru. Di setiap kota akan dipilih 100 startup sehingga mampu mencapai 1.000 startup pada 2020. Setiap tahapan tersebut tentunya tidak akan dimulai secara berbarengan, melainkan dilakukan dalam beberapa tahun. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)