Kiprah 4 Tahun Grab di Bisnis Transportasi Online Indonesia

Direktur Pengelola Grab Indonesia, Ridzki Kramadibrata.

Telah melayani konsumen Indonesia sejak 2014, Grab memberikan angin segar pada industri transportasi daring di Tanah Air. Perusahaan yang didirikan oleh pria asal Malaysia bernama Anthony Tan ini telah diunduh lebih dari 50 juta pengguna.

Masuknya Grab ke Indonesia bersinergi dengan pihak pemerintah dalam mengatasi berbagai tatanan transportasi di Indonesia. Mereka berhasil memberikan rangkaian layanan transportasi yang lengkap dengan inovasi teknologi. Menurut Direktur Pengelola Grab Indonesia, Ridzki Kramadibrata, pihaknya telah berevolusi dari aplikasi sederhana untuk pemesanan taksi menjadi perusahaan penyedia layanan transportasi darat terbesar di Asia Tenggara.

Secara global, Grab telah mengoperasikan layanan transportasinya di kawasan regional ASEAN. Di Indonesia, Grab berkembang pesat dengan masifnya ekspansi yang dilakukan ke berbagai kota. “Hingga saat ini Grab berhasil menghadirkan layanannya ke lebih dari 100 kota di Indonesia sepanjang tahun 2017. Momen ini mengukuhkan posisi kami sebagai ​platform ​dengan wilayah layanan terluas dan pertama yang melayani masyarakat Indonesia mulai dari Aceh hingga Papua,” ungkapnya.

Grab di Asia Tenggara telah memiliki 2,3 juta mitra pengemudi di 8 negara, dengan jumlah perjalanan mencapai 3,5 juta per hari. Beberapa negara yang dijangkau layanan Grab adalah Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, dan Indonesia. Ridzki juga menyampaikan hasil riset dari TNS, firma riset pemasaran global, yang mengungkapkan bahwa Grab adalah ​brand yang paling sering digunakan di Indonesia dibandingkan dengan aplikasi ​ride-hailing ​lainnya.

Keberhasilan tersebut menjadi bukti pertumbuhan perusahaan yang cukup signifikan dan wujud komitmennya sebagai penyedia pelayanan transportasi daring terbaik di pasarnya. “Prestasi ini disambut Grab Indonesia dengan mewujudkan komitmen masterplan ‘Grab 4 Indonesia 2020’ melalui pembangunan kapabilitas teknologi yang nyata,” ujarnya. Grab Indonesia berusaha tidak sekadar menjadi perusahaan ride-hailling, namun juga mendorong terciptanya masyarakat non-tunai melalui sektor pembayaran yang merupakan bagian dari ekonomi digital.

Masuknya Grab dengan GrabPay untuk sektor pembayaran didorong oleh dampak dan perubahan yang dapat ditimbulkan terhadap gaya hidup masyarakat. “Hal ini memungkinkan kami untuk menjangkau dan menyediakan akses kepada masyarakat yang tidak/belum memiliki akses terhadap layanan perbankan,” ungkap Ridzki. Edukasi ini terus dilakukan bekerja sama dengan sektor publik maupun swasta. Sekarang, Grab telah bekerja sama dengan lebih dari 60 rekanan dalam layanan keuangan dan terdapat 160 rekanan dalam program GrabRewards.

“Kini platform pembayaran mobile GrabPay telah berintegrasi dengan fitur pembayaran Kudo. Grab telah mengakuisisi startup Kudo yang juga menyediakan perdagangan online to offline (O2O),” ungkapnya. Integrasi Grab dengan Kudo sebagai bagian dari komitmen masterplan ‘Grab 4 Indonesia 2020.’ Selain itu, prioritas Grab adalah memastikan bahwa para penumpang memiliki akses untuk memilih jenis moda transportasi yang mereka inginkan, mulai dari GrabBike, GrabCar, GrabTaxi maupun GrabHitch. Begitupun saat mereka membutuhkan layanan kurir dan pemesanan makanan yaitu GrabParcel, GrabExpress, dan GrabFood.

Pada Mei 2017, Grab Indonesia secara resmi membuka pusat R&D di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta. Pusat R&D Grab Indonesia terbaru ini melengkapi jaringan pusat R&D global yang terletak di Bangalore, Beijing, Ho Chi Minh City, Seattle, dan Singapura. “Dibangunnya R&D di Indonesia memberikan kesempatan para engineer dalam negeri untuk menciptakan inovasi yang memiliki taste hyperlocal,” jelasnya. Upaya ini untuk menghadirkan talenta global terbaik di seluruh dunia demi memecahkan beberapa tantangan lokal terbesar di Asia Tenggara.

Grab secara global  telah mendapatkan pendanan sekitar US$4 miliar dalam lima tahun terakhir. Investor tersebut antara lain Vertex Ventures Holding (Temasek); CGV Capital & Qunar (US$15 juta); Tiger Golbal & Hillhouse Capital (US$65 juta); SoftBank (US$250 juta di 2014); China Investment Corporation, Didi Chuxing & Coatue (US$350 juta); SoftBank (US$750 juta di 2016); SoftBank & Didi Chuxing (sekitar US$2,5 miliar di 2017 dan US$700 juta dalam bentuk fasilitas hutang.

 

Reportase: Sri Niken Handayani

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)