Kisah Om Pink Raih Omset Jutaan Lewat Bukalapak

Dari seorang station manajer di sebuah radio, Muhammad Syafril akhirnya banting setir memulai wirausaha. Selama ini, ia merasa selalu mengerjakan sesuatu untuk orang lain. Untuk itu,  ia bertekad ingin membangun usaha sendiri.

Berbagai bisnis sudah digelutinya sejak tahun 2012, mulai dari usaha warnet hingga berjualan pempek. Setelah bertahun-tahun menggeluti usahanya, ia berpikir mengenalkan konten lokal budaya Pontianak ke seluruh Indonesia melalui produknya. Om Pink begitu sapaan pria paruh baya itu, memutuskan untuk berjualan tanjak.

Tanjak merupakan simbol adat yang dipakai sebagai ikat kepala, biasanya digunakan oleh kaum lelaki di daratan Melayu. Menurutnya, kini tanjak menjadi tren kembali di masyarakat, mulai dari pejabat, pemuka agama hingga anak muda kembali gemar memakai tanjak. Melihat peluang tersebut ia yakin, tak hanya dari segi bisnis akan berkembang namun ikut serta melestarikan budaya bangsa.

Bermodalkan Rp 500 ribu, Om Pink membeli tanjak terlebih dahulu. Dari tanjak yang dibeli mulai mempelajari cara membuatnya hingga mencari tahu lebih dalam mengenai sejarahnya dari tetua adat. Awal membuat tanjak, ia hanya membuat 5 buah, kemudian dipasarkan di kalangan pemuka agama, di tempat ia aktif dalam berdakwah.

Seiring berjalannya waktu, tanjak buatannya makin laris dan terkenal di Pontiank. Tak jarang, pemerintah kota setempat juga ikut memesannya. Jumlahnya tidak sedikit, misalnya saat perayaan ulang tahun Pontianak, ia kebanjiran order hingga 500 buah tanjak.

Beberapa tahun melakukan aktivitas jual beli, ia mulai terpikir untuk mencoba berjualan secara online. Tahun 2016 Om Pink mengenal situs jual beli Bukalapak. Sejak saat itu, tanjak yang dijual mulai harga Rp 150 ribu itu, penjualannya berkembang pesat. Bahkan kini, ia sudah mengembangkan produknya dengan membuat baju kemeja corak insang, yang merupakan khas Pontianak. Juga, dikembangkan menjual celana sarung khas Kalbar dengan corak dayak dan insang.

Jangkauan penjualan untuk wilayahnya juga semakin luas, pesananan berdatangan dari berbagai wilayah seperti Medan, Jakarta Palembang hingga Irian Jaya. Selain itu, menurutnya berjualan di Bukalapak, ia mendapatkan kemudahan dalam bertransaksi.

“Waktu itu saya masih gagap teknologi, kemudian saya belajar berjualan online menggunakan Bukalapak. Saya memilih Bukalapak karena jika ada transaksi uang dari konsumen di tahan dulu oleh pihak Bukalapak, kemudian setelah adanya konfirmasi barang diterima baru dicairkan uangnya ke pejual, sehingga saya tidak takut dan merasa aman,” ujarnya bercerita.

Berbagai fitur juga disediakan Bukalapak untuk meningkatkan penjualan para pelapak. Misalnya ada fitur diskon, push, restur, quick buy dan lainnya. Untuk menggenjot penjualan di Bukalapak, Om Pink selalu menggunakan fitur Push. Alasannya, fitur ini bisa meletakkan produk tertentu agar terpajang di ajajaran halaman terdepan. Setiap bulannya ia menghabiskan biaya sekitar Rp 200 ribu untuk menggunakan fitur tersebut.

Seiring pertumbuhan tingkat transaksi di Bukalapak yang mencapai Rp 320 ribu  per harinya. Ia berharap omset yang saat ini sudah mencapai jutaan rupiah per bulannya akan ikut tumbuh pesat. “Saya juga berharap Bukalapak sering membuat promosi untuk biaya pengirimaan supaya jadi ringan,” ujarnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)