Kolaborasi Multistakeholder Kunci untuk Tingkatkan Ekspor Nasional

Dalam mewujudkan akselerasi peningkatan ekspor nasional diperlukan kolaborasi antara Kementerian/Lembaga dengan berbagai pihak. Antara lain, Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI), Gabungan Perusahaan Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO), Indonesia E-Commerce Association (idEA), Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Sekolah Ekspor, hingga Kadin Indonesia.

Oleh karena itu, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi bersama Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki hari ini meresmikan Program Kolaborasi Akselerasi Mencetak 500K Eksportir Baru di 2030. Peresmian ditandai dengan penandatangan Nota Kesepahaman Kolaborasi oleh Benny Soetrisno Ketum GPEI, Adhi Lukman Ketum GAPMMI, Roy Mandey Ketum APRINDO yang diwakili Rudy Sumampouw, Bima Laga Ketum idEA, Alphonzus Widjaja Ketum APPBI dan Dr. Handito Joewono Kepala Sekolah Ekspor.

Menkop UKM menuturkan, saat ini kontribusi UMKM terhadap ekspor memang masih terbilang rendah yaitu berkisar di angka 14,37%, lumayan tertinggal dari negara-negara APEC lain yang sudah mencapai 35%. Di Indonesia, mayoritas 86% pelaku ekspor adalah usaha besar.

"UKM masih sulit menembus pasar ekspor, karena minimnya informasi pasar, dokumen persyaratan, kualitas produk yang tidak konsisten, kapasitas produksi, biaya sertifikasi yang tidak murah, hingga kendala logistik," papar Teten pada peresmian program Kolaborasi Akselerasi Mencetak 500 Ribu Eksportir Baru di 2030 secara virtual, Rabu (17/2/2021).

Padahal, lanjut Teten, sebagai satu negara agraris terbesar, Indonesia memiliki keunggulan komparatif dibanding negara pesaing. Indonesia bisa menangkap peluang pasar global melalui produk potensial ekspor UKM Indonesia antara lain pertanian, perikanan, furniture home decor, kosmetik, herbal product, indigenous product, serta muslim fashion.

Dengan adanya program ini, diharapkan UKM akan berhasil on-boarding di marketplace internasional, masuk ke jaringan peritel dan pusat perbelanjaan nasional dan internasional, serta melakukan ekspor secara berkelanjutan. "Saya meyakini, bersama-sama kita mampu meningkatkan daya saing UKM untuk menembus pasar internasional," ungkap Teten.

Nantinya program ini dilakukan melalui pelatihan dan pendampingan secara daring dan luring. Dalam tiga tahun pertama sampai akhir 2023 diharapkan setidaknya tercetak 100.000 eksportir baru yang mampu melakukan ekspor secara luring dan daring.

"Kami akan melakukan berbagai langkah strategis dan praktis untuk menyiapkan UKM memasuki persaingan global. Salah satunya melalui pengembangan produk berkualitas, dan mengoptimalkan akses pasar online, ritel, serta pusat perbelanjaan di dalam dan luar negeri yang sejalan dengan program UKM Go Ritel Go Digital Go Global," ujar Handito.

Pada kesempatan yang sama, diresmikan pula Sekolah Ekspor UKM dan Ekonomi Kreatif yang merupakan kerjasama antara Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) dan Yayasan Sekolah Ekspor Nasional yang mengelola Sekolah Ekspor. Sekolah ini akan menyelenggarakan pelatihan ekspor berjenjang dan bersertifikasi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) bagi peserta yang sudah memenuhi persyaratan. Tersedia tiga jenjang yaitu level pengenalan ekspor, level ekspor dasar, dan level ekspor lanjutan.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)