Kolaborasi Rans Entertainment dan Dio Living Dukung Perfilman Indonesia

Ilustrasi Dio Living X Rans. (dok. Dio Living)

Sebagai produsen furnitur lokal yang terinspirasi dari kekayaan Indonesia, Dio Living mengajak masyarakat Indonesia untuk kembali mengingat dan mengapresiasi keanggunan Indonesia melalui karya video pendek 60 detik. Program ini diselenggarakan dan dipromosikan bersama RANS, perusahaan entertaiment milik Raffi Ahmad dan Nagita Slavina.

Sayembara yang diadakan oleh Dio Living X Rans Entertainment dengan tema 'Aku dan Indonesia' secara daring di media sosial Instagram sejak tanggal 1 Maret 2022 lalu dilaksanakan dengan harapan dapat mengangkat kesadaran masyarakat akan menghargai karya anak bangsa dalam bidang perfilman Indonesia.

Selama sayembara berlangsung, terdapat 189 partisipan yang ikut andil menghasilkan sebuah karya video singkat secara kreatif dalam memperlihatkan kebudayaan dan keindahan Indonesia. Hal ini merupakan bukti dari antusiasme masyarakat dalam mendukung kemajuan perfilman Indonesia. Dari seluruh peserta, Dio Living memilih tiga pemenang dengan karya terbaik untuk menerima uang tunai dan produk furnitur Dio Living sebagai tanda dukungan dan apresiasi hasil video singkat karya anak bangsa.

Terlebih dari itu, RANS Entertainment dikabarkan akan merambah ke dalam dunia furnitur dan berencana berkolaborasi dengan Dio Living. “Dio Living memiliki konsep yang bagus (dalam) mencakup nusantara dan kebudayaan Indonesia. RANS Entertainment (merasa), jika ingin membuat hotel, apartemen dan lainnya harus menggunakan furnitur Dio Living yang merupakan furnitur produk lokal kebanggaan Indonesia.” ketika Raffi.

Kolaborasi ini dimulai dengan partisipasi Raffi dalam Sayembara Karya Anak Bangsa yang saat ini sedang berlangsung. Dalam merayakan Hari Film Nasional, Raffi menjadi juri untuk pengumuman pemenang melalui Instagram Live pada Rabu, 30 Maret 2022.

Tanggal 30 Maret merupakan hari bersejarah bagi komunitas perfilman Indonesia. Hari tersebut merupakan hari pertama produksi film Darah dan Doa (Long March of Siliwangi) karya Bapak Perfilman Indonesia Usmar Ismail, dimulai tahun 1950. Film tersebut merupakan film Indonesia pertama yang secara resmi diproduksi oleh Indonesia sebagai negara bebas oleh Pusat Film Nasional Indonesia. Sejak itu, Hari Film Nasional selalu dirayakan pada tanggal 30 Maret untuk mengingat karya anak bangsa dalam dunia layar lebar dengan harapan dapat memperkuat nilai budaya Indonesia yang kaya.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemenbudristek) Hilmar Farid menyatakan dalam ajang Festival Film Indonesia bahwa perfilman Indonesia dari tahun ke tahun telah mengalami peningkatan, meski terimbas pandemi Covid-19.

Hilmar juga mengapresiasi keterlibatan pemerintah daerah dan seluruh masyarakat atas upaya mereka memajukan perfilman Indonesia dalam wujud penguatan pendidikan dan literasi, demi menumbuhkan semangat cinta tanah air, pembangunan karakter bangsa, serta peningkatan nilai-nilai budaya. “Melalui Kemendikbudristek, pemerintah turut mengambil peran serta dalam pemajuan perfilman nasional khususnya pada masa pandemi Covid-19,” ujarnya.

Ahmad Mahendra sebagai Direktur Perfilman, Musik, dan Media Baru menambahkan bahwa Hari Film Nasional merupakan hari bersejarah yang diperingati oleh seluruh masyarakat, yang sepatutnya mendapat dorongan agar film-film dengan nilai pendidikan dan budaya yang beragam dalam negeri dapat terus berkembang. “Kemajuan perfilman Indonesia menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat Indonesia,” jelasnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)