Konsumen Indonesia Lebih Optimistis pada Makroekonomi Negara

McKinsey and Company belum lama ini memaparkan hasil riset tentang 'Implikasi Covid-19 terhadap Ritel dan Consumer Goods di Indonesia'. Menurut Ali Potia, Partner di McKinsey & Company Singapura yang memaparkan hasil riset tersebut, banyak temuan menarik dari survei yang dilakukan di Indonesia 25 - 26 April 2020.

“Kami telah melakukan 5 survei di Indonesia sejak pertengahan Maret. Semua ini telah dilakukan secara digital dan dengan sampel representatif dari orang dewasa berusia 18-65 tahun, di seluruh tingkat pendapatan dan di 36 kota dan seluruh provinsi --pengambilan sampel disesuaikan dengan distribusi pada populasi umum,” terang Ali melalui jawaban surel yang dikirim ke SWA Online.

Ia menjelaskan survei pertama adalah untuk lebih memahami bagaimana COVID-19 yang memengaruhi konsumen dalam perilaku belanja makanan, pengeluaran, dan harapan untuk ritel makanan. Survei ini dilakukan pada pertengahan Maret, dengan sampel  kurang lebih 1.200 responden.

Ia menjelaskan untuk 4 survei sisanya dilakukan dengan sekitar 700 responden sekitar setiap dua minggu, dengan yang terbaru berakhir pada 25-26 April 2020. Masing-masing survei ini dirancang untuk mengambil sentimen konsumen dan untuk memahami perubahan perilaku yang muncul (misalnya, konsumsi media, penggunaan digital) terkait Covid-19.

Simon Wintels, Partner di McKinsey & Company Singapura, mengungkapkan pada riset terlihat ini menariknya, konsumen Indonesia lebih optimistis tentang pandangan makroekonomi negara, tetapi khawatir tentang keuangan pribadi mereka. “Secara umum, kita telah melihat perilaku yang serupa yang telah kita lihat di pasar lain,” imbuhnya.

Dari hasil riset tersebut terlihat 45% konsumen Indonesia mengungkapkan optimismenya bahwa ekonomi negara ini akan rebound dalam 2-3 bulan ke depan dan akan sama kuatnya seperti sebelum Covid-19. Persentase tersebut lebih tinggi dibanding Amerika (33%), Meksiko (30%), Brasil (23%), Jerman (22%), Inggris (18%) dan Perancis (12%). Sedangkan China dan India, mereka memang 57% lebih optimis konsumennya dibanding Indonesia.

“Indonesia umumnya lebih optimis daripada pasar lainnya, dan sejalan dengan China, India. Dasar fundamental pertumbuhan ekonomi Indonesia pada umumnya memberikan optimisme yang lebih, misalnya Jepang atau sebagian besar pasar Eropa di mana pertumbuhan ekonomi sudah lebih menantang. Namun, orang Indonesia masih khawatir tentang keuangan pribadi mereka dan berhati-hati tentang bagaimana mereka menghabiskan uang mereka,” terangnya.

Riset McKinsey and Company

Hal ini memengaruhi keputusan pembelian mereka, bahwa 82% responden menyatakan jadi lebih berhati-hati dalam pengeluaran akibat tidak percaya diri pada kondisi keuangan pribadinya. Sekitar 67% responden merasa tidak aman dengan pekerjaannya akibat pandemi ini dan berimbas pada pendapatannya (62%). Untuk itu sekitar 67-68% memutuskan mengurangi berbagai pengeluaran rutinnya juga dalam hal berinvestasi.

Perilaku apa yang menarik berubah akibat pandemi Covid-19 dari hasil riset tersebut? Simon menjelaskan bahwa mereka melihat perubahan yang signifikan untuk online, lebih banyak memasak di rumah dan pengiriman menggantikan kesempatan makan di restoran, penundaan pengeluaran untuk hal-hal yang tidak penting, lebih banyak perhatian yang dibayarkan untuk kesehatan, keamanan dan kebersihan, dan kebiasaan digital baru mulai berlaku.

Simon melihat pandemi Covid-19 ini mendorong kemajuan dalam kebiasaan digital dalam banyak aspek: lebih banyak pembayaran digital, lebih banyak pemesanan makanan dan bahan makanan, lebih banyak konsumsi media digital, lebih banyak telemedicine, dan lainnya. “Mungkin ini akan turun sedikit ketika pembatasan dihentikan, tetapi akan sangat nyata lebih tinggi dari sebelum Covid-19,” ungkapnya.

Jadi sebelum pandami Covid-19 lanskap konsumen Indonesia itu 68% lebih sering, 17% kadang-kadang, 12% jarang dan 3% tidak pernah berbelanja di toko-toko tradisional; 67% sering belanja 24% kadang-kadang, 8% jarang dan 1% tidak pernah belanja di convinience store; 54% sering, 21% kadang-kadang, 18% jarang, dan 8% tidak pernah belanja di pasar basah. Dan hanya 24% menyatakan sering berbelanja di aplikasi belanja grosir dan belanja di marketplace online (25%).

Memasuki masa pandemi, semua kondisi tersebut berubah drastis, sekitar 40% menyatakan sering belanja di marketplace online untuk kebutuhan sehari-hari dan 36% sering menggunakan aplikasi belanja grosir. Hanya 6% menyatakan masih sering belanja di pasar, 11% sering ke convinience store dan 10% mengaku sering ke toko tradisional.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)