KPMG: Disrupsi Bisa Menjadi Tantangan Sekaligus Peluang Bisnis

Tahun ini bisnis makin menantang, bisnis tidak bisa lagi dikelola seperti biasa. Hal itu diungkapkan oleh Rakesh Agarwal, Partner and Advisor KPMG Singapura & Indonesia melalui telepon kepada SWA. “Bisnis biasa dianggap mencapai target jika perusahaan bisa meningkatkan angka bottom line, top line, atau mengurangi biaya-biaya. Ini yang normal, tapi bisnis saat ini kondisinya telah berubah,” ungkapnya.

Tantangan mulai dirasakan pada industri finansial dan perbankan yang mendapat tantangan dari perusahaan telekomunikasi dan startup fintech. Lalu consumer goods company yang mendapat tantangan berat dari bisnis e-commerce. Rakesh menambahkan , bukan hanya tantangan, tapi juga ada peluang di sana. “Disrupsi digital yang makin kencang dirasakan mengubah tatatan bisnis. Kondisi ini dapat dilihat sebagai peluang dengan menjadi diferensiasi,” ujarnya.

Tahun lalu KPMG mewawancarai banyak CEO di Asia Pasifik, Amerika dan Eropa. Hasilnya, disrupsi bisa menjadi ancaman, namun di sisi lain bisa juga menjadi peluang baru. Sebagian besar dari mereka terbuka untuk mengubah cara berbisnis perushaaan dan ingin sekali mengetahui bagaimana memulainya agar menjadi disruptor. Menurutnya, industri yang paling menonjol terkena dampak disrupsi adalah banking, ritel, consumer goods dan life sciences.

“Untuk life sciences terdisrupsi karena tuntutan lebih personalisasi, ini juga mempengaruhi penggunaan teknologi dan informasi yang digunakan. Manufaktur juga terdisrupsi tapi lebih pada peralihan yang mengubah cara produksi manufaktur dengan lebih menggunakan mesin otomatis dan robotik,” jelasnya. Rakesh menambahkan disrupsi digital di Indonesia sebenarnya terjadi di sektor mana saja mengikuti kondisi global tahun ini.

Indonesia memiliki potensi pasar orang muda sangat besar. Ini memengaruhi adaptasi teknologi yang digunakan dalam keseharian. “Enterprise atau organisasi di Indonesia masih wait and watch. Sebelum perubahan bisnis benar-benar terjadi, saya melihat beberapa perusahaan telah mulai mempersiapkan diri atas perubahan kondisi bisnisnya. Saya meyakini 2-3 tahun hasilnya baru bisa terlihat,” katanya.

Tentang outlook ekonomi secara global, dirinya meyakini kondisinya akan positif bertumbuh tahun ini, begitu juga dengan kondisi Asia Pasifik. "Terjadi bullish pertumbuhan ekonomi, seiring makin kecangnya disrupsi. Di Indonesia, kami meyakini tidak ada isu dalam pertumbuhan ekonominya," kara Rakesh. Pertumbuhan ekonomi diprediksi akan lebih solid mencapai 5-7%. Alasannya? Tahun 2018-2019 merupakan tahun pemilihan, pemerintah akan meningkatkan penggunaan anggaran, terutama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi serta melanjutkan pembangunan infrastruktur.

Penyelesaian beberapa proyek dan memulai proyek baru yang dilakukan oleh pemerintahan saat ini bukti komitmen untuk mewujudkan janji-janjinya. Ia juga melihat investasi asing akan tetap masuk di 2018 walau iklim politik mulai terjadi. “Indonesia sebagai emerging country memiliki banyak peluang dan sangat menarik bagi investor asing,” ujarnya.

Kondisi VUCA juga memberikan peluang pelaku bisnis untuk mulai bereksperimen dengan digital businesss model, financial intelligence, dan eksperimen bagaimana meraih konsumen baru dan sebagainya. “Kuncinya ada pada experimenting new business model yang melibatkan digital technology. Transformasi digital jadi keharusan bukan sekadar terkait hubungan pelanggan, tapi secara keseluruhan, termasuk cara kerja karyawan berhubungan dan ekosistemnya yang di dalamnya ada business partner atau vendor,” tegasnya.

 

Reportase: Herning Banirestu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!