Krista Exhibitions Hadirkan Pameran Berteknologi 3D dan Analytical Report

Konferensi pers Krista Exhibitions secara virtual.

Krista Exhibitions kembali menggelar Food Expo Indonesia. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pameran kali ini digelar secara virtual dengan empat kategori pameran yakni Eastfood Indonesia Virtual Expo, Virtual Seafood Show, Virtual Herbal Expo, dan Virtual Refritech Expo.

Pameran yang akan hadir mulai dari 8-13 Desember 2020 ini menggunakan teknologi 3D, di mana situs yang digunakan untuk acara ini didesain seperti gedung pameran asli, tetapi secara virtual. Selain itu, lengkap dengan booth dan display.

"Tahun ini dikarenakan pandemi pameran diadakan secara virtual dengan menggunakan teknologi 3D sehingga lebih real. Ini sesuatu yang baru bagi kami, tapi kami akan terus belajar menggunakan teknologi ini," ujar Dharma Salim, CEO Krista Exhibitions dalam konferensi pers secara virtual, (02/12/2020).

Menurutnya, pameran virtual Krista Exhibitions ini merupakan solusi tepat di masa pandemi karena dilengkapi dengan beragam kelebihan fasilitas, di antaranya Galeri yang memudahkan visitor untuk melihat produk perusahaan dalam bentuk e-poster, e-brochure & video; Exhibitor’s Dashboard, menampilkan jumlah visitor secara analitik dan langsung dapat dilihat total pengunjung yang melihat booth exhibitor di hari itu.

Data visitor yang hadir ditampilkan berupa nama, kontak (nomor ponsel dan email), waktu dan durasi saat berkunjung serta jumlah data brosur / poster yang banyak di-download oleh visitor. "Analytical report ini tidak dimiliki oleh pameran virtual lain. Dengan analytical report setiap peserta akan tahu siapa yang datang ke stand-nya, dari mana, apa yang dia lihat, berapa lama di stand kita. Dari sini akan ada pertukaran kartu nama sehingga terjadi business matching secara virtual," jelas Dharma.

Untuk berkomunikasi selama pameran, tersedia live chat di dalam platform. Fitur ini memudahkan exhibitor untuk mengakses langsung chat dengan visitor dan bisa mengubah status chatnya menjadi online, offline atau busy. Pengunjung akan langsung mengetahui booth virtual yang available atau tidaknya untuk dihubungi melalui fitur ini.

"Jika ingin mengetahui lebih lanjut mengenai stand tersebut, pengunjung dapat meminta untuk video call. Pengunjung juga dapat meninggalkan pesan apabila peserta pameran sedang offline. Fitur ini merupakan potensi berpromosi bertatap muka," tambahnya.

Fitur-fitur lain yang dihadirkan di antaranya Business Card Exchange, fitur untuk menukar kartu nama secara virtual; Product Interest Matching yang menampilkan booth exhibitor dengan sejumlah produk yang dicari oleh visitor (pencarian berdasarkan nama perusahaan, produk index dan negara); Exhibitor List dengan tampilan filter produk yang akan memudahkan visitor mencari exhibitor dengan produk tertentu; Menu Features Virtual Briefcase adalah fitur yang memudahkan visitor untuk menyimpan brosur, poster dan gambar produk yang di-download bahkan sampai 2 minggu setelah pameran.

Bookmark adalah tampilan daftar booth visitor yang telah di Bookmark dan Anda dapat mengklik tombol visit kapan pun tanpa melalui floorplan; Live Chat Video, pada webinar video terutama pre-recorded dan live tentunya; serta E-Catalogue yang bisa didownload oleh visitor di akhir pameran.

"Diikuti lebih dari 200 peserta, baik dari lokal maupun internasional. Jangan lewatkan 65 acara menarik diikuti 139 pembicara yang tentunya mengedukasi dan menampilkan berbagai teknologi dan produk-produk unggulan," kata Dharma.

Hadir di kesempatan yang sama, Direktur Bina Usaha dan Pelaku Distribusi Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Nina Mora mengatakan, selama pandemi terjadi penurunan penjualan ritel baik di pasar modern maupun di pasar rakyat. Berbagai penurunan tersebut diakibatkan oleh pola perubahan konsumen dari sebelumnya offline menjadi online.

Di sisi lain, Kominfo mencatat bahwa penjualan produk di media sosial dan e-commerce pada 2020 meningkat 400% dibandingkan tahun 2017 dengan nilai mencapai Rp 446,7 triliun.

"Kami percaya bahwa krisis akan mengubah masyarakat serta mendorong pelaku usaha menjadi lebih kreatif dan menciptakan peluang usaha baru. Oleh karena itu kebijakan tentang perdagangan untuk meningkatkan konsumsi produksi dalam negeri serta meningkatkan akses pasar dan menjaga kelancaran distribusi pokok, dilakukan dengan memanfaatkan platform digital atau e-commerce. Ini menjadi salah satu cara untuk meningkatkan daya saing di bidang pangan," tuturnya.

Kolaborasi antara pihak-pihak terkait diharapkan menghasilkan pertukaran data dan informasi, pembinaan terhadap UMKM, serta penyerapan barang dan jasa UMKM untuk penguatan produk dalam negeri. Ia juga berharap pameran ini dapat menjadi wadah bagi para pelaku usaha dalam mengembangkan dan mempromosikan usaha kepada calon pembeli sehingga turut berkontribusi dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2020.

"Kami berharap produk-produk yang dipamerkan kali ini tidak hanya menjadi tuan rumah di negeri sendiri tetapi juga dapat menembus pasar persaingan global," harap Nina.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)