KSP Terapkan Sistem Terintegrasi dan Digitalisasi

KSP Terapkan Sistem Terintegrasi dan Digitalisasi
Vice President Industrial Properti PT Krakatau Sarana Properti Nur Wijayanto

PT Krakatau Sarana Properti (KSP) terus berbenah untuk bisa menarik investor dari dalam dan luar negeri. Salah satunya adalah dengan menerapkan sistem digitalisasi dan terintegrasi. Vice President Industrial Properti PT Krakatau Sarana Properti Nur Wijayanto mengatakan, sistem digitalisasi sudah mulai diterapkan untuk mempermudah proses operasionalisasi dan komersialisasi.

“Kenapa musti digitalisasi karena penyewa dan investor banyak, transaksi besar sehingga harus ada sebuah sistem yang bisa mengetahui kapan sewa habis, kapan perpanjang HGB dan lain-lain. Makanya dibuat sistem digitalisasi bukan hanya untuk pergudangan tetapi juga untuk seluruh kawasan industri,” kata Nur.

Dia menambahkan, sebelum diterapkan sistem digitalisasi semua proses operasional dan komersialisasi hanya mengandalkan catatan dan ingatan. Sejak diterapkan sistem digitalisasi, kondisi kawasan industri bisa dipantau real time baik kondisi secara operasional maupun kondisi komersialisasi.

Sistem ini juga akan menguntungkan investor karena tidak harus membuka catatan untuk mengetahui tentang kapan masa sewa berakhir atau harus memperpanjang Hak Guna Bangunan. Selain sistem digitalisasi, KSP juga menerapkan sistem yang terintegrasi. Nur mengumpamakan, investor yang ingin menanamkan modalnya di kawasan industri di Cilegon, Banten cukup membawa koper saja.

“Kawasan industri yang ideal itu harus terintegrasi dan parsial. Kawasan industri yang dikelola KSP ini sangat terintegrasi karena sesama anak perusahaan PT Krakatau Steel lainnya sudah berkolaborasi. Jadi, kalau mau investasi di Cilegon cukup bawa koper saja karena semua infrastruktur penunjang sudah tersedia seperti listrik, air, gas dan lain-lain,” jelas Nur.

Nur menandaskan investor asing dan lokal tidak perlu ragu untuk berinvestasi di kawasan industri Cilegon. Karena kawasan ini dikelola anak perusahaan BUMN yang artinya dikelola oleh negara. “Termasuk sertifikat tanah dari negara, tidak akan ada yang berani menggugat. Jadi, hal tersebut setidaknya bisa memberikan ketenangan hati buat investor, penanam modal, taipan dan pebisnis untuk investasi di kawasan industri yang dikelola KSP,” imbuhnya.

Menurut Nur, jumlah investor yang berinvestasi di kawasan industri Cilegon masih imbang antara lokal dan asing. Untuk investor asing sebagian besar berasal dari Jepang dan Korea. Kawasan industri yang dikelola KSP luasnya 550 hektare di kawasan satu, ditambah 80 hektare di kawasan dua dan 450 hektare di kawasan tiga.

KSP mempunyai tiga lini bisnis yaitu kawasan industri, properti komersial dan properti perumahan. Perusahaan juga memiliki lini properti komersial melalui merek Hotel & Golf The Royale Krakatau, Restoran The Surosowan, Krakatau Water World. Lalu, ada lini residensial melalui merek Pejaten Mas Estate dan Bumi Rakata Asri. “Kawasan industri menjadi tulang punggung dari KSP karena menyumbang 70 persen dari total penjualan dan sumbang laba/rugi 90 persen. Karena itu, KSP akan terus berupaya menarik investor untuk masuk ke kawasan industri Cilegon,” ujarnya.

Perusahaan meyakini kawasan industri bisa menggerakkan perekonomian yang ujungnya meningkatkan pertumbuhan ekonomi. “Kita ambil contoh kalau ada pembangunan pabrik dengan luas 2 hektare di kawasan industri, kan mereka harus punya karyawan. Kalau sudah ada karyawan lalu harus ada perumahan untuk karyawan. Lalu harus ada warung juga, sekolah dan lain-lain. Itu menimbulkan efek bola salju,” kata Nur.

Editor: Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag