KTNA Imbau Pemerintah Batalkan Rencana Impor 1 Juta Ton Beras

Foto ilustrasi Google Image

Pemerintah rencananya kembali akan mengimpor beras sebanyak 1 juta ton, kabar ini tentu membuat petani gundah. Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), menyuarakan aspirasi petani-petani yang diwadahinya menolak rencana ini karena menyakiti petani. Mengimbau Pemerintah membatalkan rencana tersebut.

“Impor itu menyakiti petani, kemarin 1 juta saja cukup. Jangan impor lagi, masa tambah 1 juta lagi harga Gabah Kering Panen akan jatuh,” ujar Winarno Tohir, Ketua Umum KTNA kepada SWA Online melalui siaran pers (16/08/2018).

Menurut Winarno kabar ini akan mematahkan semangat petani yang sedang menikmati harga gabah kering panen yang lumayan yakni Rp 4.500 - Rp5.000 per kg. Jika pemerintah impor, harga beras dalam negeri akan terganggu. Karena beberapa daerah saat ini sedang mengalami panen raya.

Reaksi KTNA ini menyusul keputusan Pemerintah menambah izin impor beras untuk Perum Bulog. Setelah mengeluarkan dua kali izin mendatangkan beras dari luar negeri pada awal tahun ini hingga sejuta ton, badan usaha negara itu kembali mendapat tambahan izin impor beras sehingga melonjak dengan total dua juta ton beras.

Pada situs resmi perdagangan Kementerian Perdagangan inatrade.kemendag.go.id, tercatat ijin impor ketiga diberikan pada 23 Jui 2018. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan membenarkan hal ini.

Oke menjelaskan, izin impor diberikan sesuai Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. “Untuk perizinan impor ketiga sebanyak 1 juta ton habis masa berlakunya akhir Agustus 2018. Bulog sudah mengajukan perpanjangan impor hingga menjadi 30 September 2018,” imbuh Oke.

Penambahan izin impor beras ini diputuskan saat Perum Bulog mengklaim, bahwa stok beras yang mereka miliki sangat banyak, yaitu di atas 2,4 juta ton. Bahkan di beberapa daerah, Bulog harus menyewa gudang milik swasta untuk menampung beras.

"Stok kan masih banyak. Kamu liat saja gudang penuh sampai kami sewa," ujar Direktur Pengadaan Perum Bulog Bachtiar. Walaupun sudah memiliki stok beras 2,4 juta ton, Bulog masih terus menyerap beras petani. Targetnya tahun ini Bulog mampu menyerap beras petani hingga 2,7 juta ton.

Kementerian Pertanian optimistis harga beras di tahun 2018 akan stabil tanpa perlu impor hingga tahun depan. Terlebih awal tahun 2019 sudah memasuki musim panen. Hal tersebut karena prediksi produksi beras yang surplus sebesar 13,03 juta ton.Perkiraan surplus tersebut dihitung dari target produksi beras 2018 sebesar 80 juta ton atau 46,5 juta ton setara beras. Sementara perkiraan total konsumsi beras nasional hanya 33,47 juta ton.

“Target ini angka yang realistis optimistis bisa tercapai. Angka tersebut bisa diprediksi dengan melihat data trend produksi beras Badan Pusat Statistik (BPS) dalam sepuluh tahun terakhir yang terus meningkat”, ungkap Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian (Pusdatin) Kementerian Pertanian Ketut Kariyasa .

Tahun 2011 65,75 juta ton dan 81,38 juta ton pada tahun 2017. Capaian 2017 menurut Kariyasa sebenarnya sudah melampaui target produksi beras yang ditetapkan yakni sebesar 79 juta ton, membuat pertumbuhan capaian dari tahun sebelumnya sebesar 2,56%.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)