Kunci Garudafood Viral dengan Digital Marketing

Ferry Haryanto, Direktur Marketing Garudafood pada Webinar Indonesia Best Brand Award 2021 Brand Revival: Kebangkitan Merek-merek Terbaik di Era Bisnis Baru yang diselenggarakan SWA (25/11/2021).

Perubahan perilaku konsumen dalam mengonsumsi konten informasi berubah seiring dengan perkembangan teknologi yang menyertainya. Jika dulu, konsumen menikmati konten melalui media televisi, radio, atau print ad, saat ini konsumen bisa mengunyah informasi melalui media sosial (medsos) dan internet. Kondisi tersebut mau tidak mau juga mengubah strategi marketing perusahaan dalam memasarkan produknya. Seiring perubahan itu, para brand juga menemui banyak tantangan dalam pemasarannya.

“Dulu, konsumen memiliki intensi ketika akan mengonsumsi TV, radio, dan print ad. Namun, sekarang, media sosial bisa digunakan kapan saja dan di mana saja (tanpa intensi). Sehingga menyebabkan intensi menonton iklan juga berubah. TV membuat konsumen rela untuk menunggu iklan, sementara di medsos mereka bisa langsung scrolling atau skip,” kata Ferry Haryanto, Direktur Marketing Garudafood pada Webinar 'Indonesia Best Brand Award 2021 Brand Revival: Kebangkitan Merek-merek Terbaik di Era Bisnis Baru' yang diselenggarakan SWA (25/11/2021).

Tantangan kedua, menurut Ferry adalah tidak adanya waktu khusus yang telah ditentukan seperti beriklan di televisi atau radio. Specific time yang dimaksud adalah jadwal tayangan yang paling banyak ditonton masyarakat seperti waktu prime time, dan lainnya. Padahal, menurut Ferry, specific time dapat memudahkan advertiser dalam memilih jam, sasaran, dan target penonton. “Beriklan di medsos itu waktunya kapanpun pun dan tidak terbatas. Meskipun lewat medsos kami bisa targetting, tetapi tetap saja cakupannya menjadi sangat luas,” kata dia.

Tantangan ketiga, pada platform media sosia. Konsumen hanya ingin melihat pesan atau iklan sekali saja. Berbeda dengan marketing di televisi atau radio yang pesannya bisa diulang secara terus menerus selama satu tahun atau single massage. Hal ini, tentu menjadi permasalahan, terutama bagi industri Fast Moving Consumer Good (FMCG).

Lalu, bagaimana strategi Garudafood dalam membuat konten digital yang viral dan ekfektif secara organik? Pertama, Ferry menuturkan bahwa komunikasi kepada konsumen harus dibuat meaningful, menghibur, dan relevan. Kedua, komunikasi dijalankan secara dua arah, “Ini wajib, kami perusahaan wajib menjawab, karena konsumen adalah future our business,” kata dia menambahkan.

Ketiga, pemilihan Key Opinion Leader (KOL) atau endorsement harus tepat sesuai dengan bidangnya. Keempat, investasi yang cukup dan harus menghitung minimal dana yang harus dikeluarkan untuk melakukan iklan. Kelima, melakukan pengukuran. Misalnya, jumlah like, komentar, dan jumlah pemirsa atau viewer. Keenam, mengkorelasikan dengan penjualan. Ketujuh, melakukan simulasi kreativitas dan mencari pola atau formula yang cocok untuk masing-masing brand. Setelah itu, jadikan big data dan merumuskan budget yang paling efisien. Kedelapan, melakukan brand life study dengan YouTube, Instagram, dan Tik Tok.

Selain menggunakan strategi iklan melalui KOL dan endorser, serta menunggangi konten yang saat itu sedang viral, Garudafood juga melakukan marketing jangka panjang dengan membuat channel Youtube. “Kami membuat serial kartun Gery and Friend untuk marketing jangka panjang. Sehingga, kami bisa mendapatkan iklan gratis dari sana. Semuanya dibuat secara organik, tanpa boosting,” kata Ferry menegaskan.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)