Kunci Kenari Djadja Bertahan Hampir Separuh Abad

President Director PT Kenari Djaja Prima, Hendra B. Sjarifudin.

PT Kenari Djadja Prima (KD) akan memasuki usia ke-53 tahun, Februari 2018 nanti. Bisnis yang dimulai dari penjualan bahan bangunan kasar dan kemudian berkembang menjadi konsinyasi sebagai salesman kunci keliling ini mampu bertahan hampir setengah abad. Titik baliknya saat terjadi pembangunan kawasan segitiga emas yang dilakukan Ali Sadikin di Jakarta, salah satunya daerah Sudirman.

Kehadiran PT Kangean (importir) ke Indonesia memberi kesempatan Kenari Djadja untuk menawarkan kunci ke kontraktor dan arsitek pembangunan segitiga emas tersebut. KD-pun mendapatkan 15% dari setiap kali berhasil menjual kunci. Dari situlah, mulai banyak arsitek dan kontraktor mulai berdatangan. Menurut President Director PT Kenari Djaja Prima, Hendra B. Sjarifudin, bertahannya KD hingga saat ini berkat kerja keras dan pengaturan bisnis yang baik. Baginya kejujuran dan komitmen dalam mengembangkan kualitas, kreativitas serta inovasi menjadi kunci KD hingga saat ini. Poin-poin tersebut yang menurutnya harus dijalankan agar dapat bertahan.

Melihat apa yang dibutuhkan masyarakat dan tren yang sedang berkembang dilakukan KD menjadi nilai tersendiri dalam pengembangan produknya. Mereka tidak hanya  menjual, namun juga peka apa yang diiginkan oleh konsumen. “Mencoba untuk selangkah lebih maju dari kompetitor adalah salah satu inovasi KD dengan memperkenalkan Master Key, sistem management pintu untuk hotel dan hunian rumah di tahun 1980. Master Key akhirnya dapat diterima oleh masyarakat dan penjualan saat itu meledak,” ungkap Hendra.

KD juga menjadi perusahaan pertama yang berani menjadi partner atau semacam adviser untuk konsumen. KD mengirimkan teknisinya untuk mepelajari product knowledge untuk selalu update dengan design yang selalu berkembang seiring dengan perkembangan perilaku konsumen. Perbedaan kebutuhan di masing-masing sektor diakomodir sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan konsumen. “Kini bisnis KD telah merambah ke engsel. Edukasi berupa advice kepada arsitek diciptakan sebagai bentuk service ke konsumen, terlepas mereka ingin membeli produknya atau tidak,” tambahnya.

Tak berhenti di situ, KD melakukan edukasi pasar ke kampus. Roadshow keliling Indonesia untuk memberikan pemahaman mahasiswa arsitek yang dirasa kurang mengerti dalam membedakan penggunaan ukuran kunci dan engsel. Sambutan yang baik didapat dari program yang diinisiasi oleh KD ini. Pertumbuhan bisnis KD memang cenderung stabil dari tahun ke tahun dengan market share 40%. Ini dipengaruhi oleh pasar yang sudah terbentuk berkat loyalitasnya kepada produk KD. “Stabilitas dan daya beli masyarakat kadang menjadi hambatan dalam bisnis ini terlebih perubahan perilaku masyarakat dan perubahan tren arsitektur membuat kita harus belajar lagi untuk berinovasi,” ujar Hendra.

Ke depannya, KD berencana lebih berkonsolidasi ke dalam dengan memperbaiki sistem yang telah ada. “Coaching dan training untuk perubahan harus tetap berjalan. Kami harus maju 10 langkah kedepan. 5 tahun kedepan kami akan berfokus ke internal dengan merubah pola mindset karyawan. Rencananya KD akan go public beberapa tahun kedepan,” ungkapnya. Persiapan strategi sistem penjualan dan mempelajari perilaku generasi sekarang juga kita lakukan dan perlahan masuk secara digital akan dilakukan. Ini diwujudkan untuk menghadapi persaingan yang semakin keras, terutama masuknya produk China. Indonesia sebagai tuan rumah harus mampu menguasai setiap sudut market di negaranya.

 

Reportase: Anastasia Anggoro Sukmonowati

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)