Kunci Sukses Dwi Sapta Hadapi Pandemi Covid-19

Positive thinking adalah kunci sukses Dwi Sapta saat pandemi Covid-19 (Foto: Niken/Swa)

Kerja keras, pantang menyerah, kreatif, inovatif, profesional, dan produktif merupakan kunci sukses Dwi Sapta bisa bertahan hingga 40 tahun menjadi agensi lokal nomor satu di Indonesia. Krisis demi krisis dilewatinya di tahun 1998, 2005, 2008 dan termasuk saat ini menghadapi pandemi Covid-19.

Sebagai pendiri perusahaan, Adji Watono mengaku untuk membawahi lebih dari 1.000 karyawan bukanlah hal yang mudah menghadapi krisis yg diakibatkan pandemi Covid-19. Namun, ia meyakini perusahaan harus cepat adapatif dan kreatif. “Kuncinya adalah positive thinking,” ujarnya.

Menurutnya, seorang pebisnis harus bisa melihat peluang di kala masa-masa sulit. “Seorang pebisnis tidak boleh berpikir bahwa ‘oh ini krisis’. Kalau saya pribadi tidak pernah melihat krisis sebagai keadaan sulit. Saya melihat krisis sebagai peluang. Saat Covid-19, kuncinya adalah kreatif, inovatif, dan jeli melihat peluang,” tuturnya.

Ia menceritakan pengalaman menghadapi krisis di tahun 1998. “Saya mencari peluang yang bisa dikerjakan dan menghasilkan uang. Kita harus bisa memanfaatkan krisis menjadi peluang bisnis. Saya waktu itu tawarkan iklan loose spot ke klien-klien Dwi Sapta,” ungkapnya. Sementara, di kondisi sekarang ini harus bisa menciptakan opportunity baru dengan memanfaatkan media digital untuk kampanye brand klien. “Keadaan krisisnya memang berbeda jauh dari 1998, tapi cara berpikir untuk keluar dari krisis harus tetap sama,” jelasnya.

Salah satu caranya khusus di industri advertising agency, yang perlu didorong adalah shifting periklanan dari offline ke online. Perubahannya dari TV ke digital + media sosial bisa sukses. Semua harus dilakukan secara online dan live streaming. Di digital advertising, harus ada switch semacam ini.

Di sisi lain, Adji juga fokus ke karyawan. Menurutnya, perusahaan yang baik adalah memiliki responsibility terhadap karyawan, keluarga karyawan, dan lingkungan sekitar tempat kerja. Di Dwi Sapta, ia memberikan fasilitas makanan dan minuman untuk karyawan di luar gaji mereka. “Karena bagi saya, hidup saya ini tergantung dari hubungan baik pada karyawan dan orang-orang. Apalagi kami adalah advertising agency,” ujarnya.

Contoh lain di Dentsu, di mana manajemen berjuang keras agar tidak memotong gaji karyawan sehingga karyawan bisa bekerja secara produktif dan membantu mengejar target bisnis perusahaan. “Karyawan harus bisa menciptakan peluang yang bisa meningkatkan bisnis perusahaan. Opportunity harus diciptakan dan dibuat,” ungkapnya.

Oleh karena itu, ia berpesan kepada generasi muda untuk tidak pantang menyerah dan harus produktif dibanding generasi sebelumnya. “Ada teknologi yang bisa dimanfaatkan dan generasi muda sudah akrab dengan digital. Manfaatkan digital agar bisa lebih produktif dan harus lebih kreatif,” pesannya yang disampaikan pada acara Webinar SWA Leadership Wisdom: Building Resilience & Agility in Good Times and Bad Times, (27/10/2021).

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)