Kurikulum Kampus Merdeka untuk Ciptakan Mahasiswa Siap Kerja

Dikti akan lebih aktif mengomunikasikan transformasi kurikulum perguruan tinggi melalui kolaborasi pentahelix bersama lima stakeholder, salah satunya dengan media. Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Paristiyanti Nurwardani mengatakan kolaborasi dengan media bertujuan untuk meninjau best practices mana yang sesuai dengan bidang pendidikan. Ia juga mengharapkan media dapat membantu mengidentifikasi peta SDM di Indonesia sehingga Dikti dapat turut menggerakkan ekonomi, terutama pasca pandemi Covid-19.  

“Dulu kami jarang mengekspos kegiatan ke media. Kurang akrab dengan media dan dunia kerja. Namun sekarang menjadi penting agar amplifikasi transformasi pendidikan tinggi bisa betul-betul didengar dan diketahui secara luas,” jelasnya saat penandatanganan MoU kerja sama dengan Majalah SWA di Hotel Fairmont Jakarta, Rabu (09/09/2020).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menegaskan, saat ini Dikti harus menggalakkan lebih masif lagi kerja sama dengan dunia usaha dan dunia industri. Melalui kurikulum Kampus Merdeka, diharapkan ada komitmen bahwa kampus, dunia usaha, dan dunia industri harus bersama-sama mencerdaskan anak bangsa. Adapun salah satu implementasinya yaitu penambahan SKS dunia kerja bagi mahasiswa menjadi 20-60 SKS dari semula 6 SKS yang hanya melalui program KKN atau permagangan.  

“Dulu kurikulum itu secara formal hanya berada di perguruan tinggi. Berdasarkan kajian oleh tim kami dan Mas Menteri (Mendikbud Nadiem), itu belum cukup untuk menghasilkan lulusan yang relevan dengan dunia usaha dan industri. Sekarang kami meningkatkan menjadi 20-60 SKS untuk dunia kerja untuk memaksimalkan transformasi pendidikan tinggi,” jelas Paristiyanti.  

Ia menuturkan, kurikulum Kampus Merdeka sudah didesain sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan SMD di dunia kerja. Adapun menurut Mendikbud Nadiem, dunia kerja akan menempa softskill 6C yaitu communication, collaboration, compassion, computer thinking logic, creative thinking, critical thinking.

“Kompetensi global juga harus dimasukkan ke dalam kurikulum, kita namakan Literasi Baru Pendidikan Tinggi yang saat ini kami perkuat lagi, diantaranya adalah seluruh prodi diwajibkan belajar tentang data dan Bahasa Inggris,” ujar Paristiyanti.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Tags:
Kemdikbud

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)