Langkah BI Antisipasi Sistem Pembayaran Akhir Tahun 2018

Direktur Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia, Luctor Etemergo (foto: Jeihan Kahfi/SWA)

Bank Indonesia mengantisipasi kebutuhan uang tunai dan kegiatan transaksi sistem pembayaran menjelang Natal dan akhir tahun 2018 dengan mempersiapkan layanan kas, baik melalui jaringan kantor Bank Indonesia maupun jaringan perbankan dan infrastruktur sistem pembayaran nontunai yang lancar dan terjaga.

Bank sentra RI ini memperkirakan adanya peningkatan kebutuhan uang kartal (uang kertas dan logam), sesuai pola musiman. Khusus periode Natal dan akhir tahun 2018 diperkirakan kebutuhan akan uang tunai (outflow) secara nasional mengalami peningkatan 10,3% atau sebesar Rp101,1 triliun dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai Rp91,7 triliun.

Menurut Direktur Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia, Luctor Etemergo, jika dijabarkan untuk wilayah Jabodetabek perkiraan kebutuhan terhadap uang tunai sebesar Rp23,4 triliun atau 23,2%, Jawa non-Jabodetabek sekitar Rp28,4 triliun atau 28,1%, Sumatera senilai Rp 21,2 triliun atau 21% dan kawasan timur Indonesia senilai 28,1 triliun atau 27,7%.

“Penyebab kenaikan kebutuhan uang tunai di akhir tahun karena ada libur sekolah, hari raya Natal dan tahun baru, kemudian disbursement anggaran pemerintah. Kenaikan rata-rata dalam 10 tahun terakhir sebesar 10,8%. Tahun ini kami perkirakan sebesar 10,3%,” ujar Luctor saat media briefing mengenai kesiapan sistem pembayaran akhir tahun 2018 di Gedung Thamrin, Bank Indonesia, (21/12/2018).

Untuk mengantisipasi hal tersebut, BI menempuh empat strategi dalam melayani kebutuhan uang tunai. Pertama, menjaga ketersediaan kas secara nasional. Kedua, melakukan distribusi uang kepada seluruh satuan kerja (satker) kas dan melakukan kegiatan layanan kas di seluruh wilayah satker kas. Ketiga, mengoptimalkan pengolahan uang di seluruh satker kas dalam rangka meningkatkan persediaan uang. Keempat, mengoptimalkan peran kas titipan untuk melakukan distribusi uang dan peran kas keliling untuk melakukan penukaran.

BI juga terus mengoptimalkan sistem pembayaran nontunai melalui Sistem Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) dan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI). BI telah melaksanakan pengujian terhadap seluruh infrastruktur guna memastikan terselenggaranya layanan sistem pembayaran secara aman, lancar dan efisien khususnya apabila terjadi peningkatan volume transaksi pada akhir tahun. BI juga terus berkoordinasi dengan peserta sistem pembayaran, guna memastikan optimalnya kegiatan sistem pembayaran.

Secara year-on-year periode Januari-November 2018 dibandingkan periode sebelumnya, frekuensi BI-RTGS yang menjadi backbone settlement transfer dana antar bank naik sekitar 6,5% dan frekuensi SKNBI naik 4,8%. Sementara proyeksi hingga akhir Desember 2018 jika dibandingkan tahun lalu, BI-RTGS nominalnya naik 3,5% dan SKNBI naik 4,12%. Diperkirakan peak BI-RTGS hingga 47 ribu transaksi per hari, sementara kapasitas terpasang sampai 180 ribu transaksi per hari.

"Ppeak SKNBI kami antisipasi 1 juta transaksi per hari dari kapasitas terpasang 2,1 juta transaksi per hari. Jadi kami pastikan payment system tidak ada masalah,” ungkap Direktur Departemen Penyelenggara Sistem Pembayaran BI Ery Setiawan.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)