Langkah Nyata Industri Dukung Net Zero Emission

Percepatan proses transisi energi dari bahan bakar fosil menuju energi bersih tersebut memerlukan dukungan dan partisipasi swasta serta publik (Foto: dok Tempo)

Indonesia berpotensi memimpin agenda global mencapai Net Zero Emission (NZE) guna melawan perubahan iklim dunia. Percepatan proses transisi energi dari bahan bakar fosil menuju energi bersih tersebut memerlukan dukungan dan partisipasi swasta serta publik, salah satunya melalui insiatif bisnis dan keuangan berkelanjutan.

Melalui diskusi bertajuk ‘Talkshow on the Sustainable Energy Finance - Inisiatif Bisnis dan Keuangan Berkelanjutan untuk Mendukung NZE Indonesia’, secara daring pada Selasa, 13 Desember 2022, Tempo Media Group menghadirkan beberapa narasumber untuk membahas praktik bisnis dan keuangan berkelanjutan yang telah diterapkan untuk mendukung NZE.

Direktur Utama PT Sarana Multi Infrastruktur Edwin Syahruzad mengatakan, perusahaan pembiayaan yang dipimpinnya, bukan penyedia jasa keuangan, memiliki prinsip climate statement. "Bagaimana kita mendukung pemerintah untuk mencapai target NZE. Nah, yang kami lakukan, mulai membatasi exposure kepada pembangkit listrik, yang memang kadar emisinya lebih besar. Jadi, kami sudah melakukan moratorium itu terhadap pembiayaan pembangunan baru PLTU," kata Edwin.

Selain itu, pihaknya juga berkomitmen untuk menambah exposure printable energypower. "Karena infrastruktur yang menyumbang banyak (emisi), itu kan sektor energi, kami mulai dari situ dulu," ujarnya.

Komisaris PT Agrindo Prakarsa Group Arief Budiman mengatakan, sebagai pabrik alat pertanian terbesar di Indonesia, pihaknya telah berkomitmen dalam pengurangan karbon emisi di dalam industri. "Kami adalah  satu dari sekian perusahaan yang berkomitmen menandatangani Net Zero Hub untuk pengurangan karbon emisi dalam industri," kata Arief.

Sebab, Arief melanjutkan, pihaknya merasa sangat penting, karena produk alat pertanian kalau perubahan iklim  terjadi (climate change) semakin buruk, maka hasil pertanian tidak bisa diduga dan mungkin produktivitasnya pasti akan turun.

Direktur of Energy & EPC Samator Group Antony Harsono menambahkan,  perusahaanya yang fokus di industri gas memiliki mimpi suatu saat bahan bakar yang selama ini dari minyak atau gas, dapat digantikan oleh green hidrogen. "Kita tahu bahwa hidrogen itu dasarnya adalah air, jadi benar-benar zero emission," tegas Antony.

Dalam upaya untuk dapat berperan penting terhadap transisi di Indonesia menuju NZE, perusahaannya fokus pada dua hal. Pertama, Antony menjelaskan, fokus membantu transisi energi melalui LNG atau liquified natural gas yang ujungnya ke green hidrogen. Kedua,  mengenai karbon, perusahaannya sudah puluhan tahun  mendukung dalam mereduksi CO2.

CEO PT Semesta Energi Services & CGEI Herman Huang mengatakan, pihaknya sudah berkecimpung dalam energi baru terbarukan sudah 12 tahun yang lalu. "Sebagai salah satu pionir, kami merasakan perkembangan yang luar biasa dan efeknya baru akan terasa lagi di tahun depan 2023. Nantinya, akan banyak pemain baru yang masuk dalam energi baru terbarukan, dan kami sebagai pemain lama menyambut baik," ujar Herman. Pihaknya juga sedang mengembangkan teknologi recycling baterai.  

Direktur Keuangan PT Pertamina Geothermal Energy Nelwin Aldriansyah mengatakan, Pertamina sudah mulai melakukan kegiatan energi baru terbarukan geotermal ini sejak tahun 80an. "Jadi sudah hampir 40 tahun kami beroperasi," kata dia. Nelwin pun setuju dengan pengembangan bisnis kearah green hidrogen. "Karena dengan sumber daya air panas yang kita miliki, ini akan bisa dikembangkan lebih lanjut kedepannya untuk green hidrogen yang nilai ekonominya lebih tinggi,” lanjut dia.

Senior Vice President Finance and Portofolio Management PT Industri Baterai Indonesia Yunan Fajar Ariyanto mengatakan ada dua dari lima pilar pemerintah dalam program kerja menuju NZE di 2060, yang sangat terkait dengan bisnisnya, yaitu peningkatan penggunaan renewable sebagai sumber listrik dan penggunaan electric vehicle (EV) di sektor transportasi. "Dua sektor ini penyumbang terbesar dari emisi green house cases sekitar 40 persenan, jadi kalau kita mau benar serius mengurangi emisi, dua sektor ini yang harus kita serang dulu," kata dia.

Swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)