Lifebuoy Gencarkan Edukasi Cuci Tangan Pakai Sabun

Memperingati Hari Cuci Tangan Sedunia yang jatuh setiap 15 Oktober, Lifebuoy kembali menggencarkan edukasi Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) kepada masyarakat khususnya anak-anak. Dengan mengusung inisiatif global ‘C untuk Cuci Tangan’, Lifebuoy memanfaatkan berbagai kanal komunikasi, materi, dan program edukasi yang dekat dengan anak untuk membantu persiapan aktivitas sekolah tatap muka terbatas melalui dukungan perangkat kebersihan di berbagai sekolah di Indonesia.

Maulani Affandi, Head of Skin Cleansing and Baby Unilever Indonesia menyatakan, Lifebuoy secara konsisten telah melakukan edukasi cuci tangan memakai sabun sejak 2004 lalu dan saat ini telah berhasil menghidupkan lebih dari 105 juta tangan bersih di Indonesia. Kali ini kegiatan edukasi terus diperkuat melalui inisiatif ‘C untuk Cuci Tangan dengan memanfaatkan berbagai platform untuk menanamkan kebiasaan cuci tangan yang baik kepada anak.

“Kita patut bersyukur karena saat ini angka pandemi di Indonesia cenderung menunjukkan perbaikan. Berbagai aktivitas keluar rumah juga kembali mulai kita lakukan, tidak terkecuali kegiatan sekolah. Meski begitu, bukan berarti kita abai dan terlepas dari berbagai ancaman kesehatan. Penerapan pola hidup bersih dan sehat, serta cuci tangan pakai sabun tetap harus dijalankan," ujarnya dalam webinar bertajuk Aksi C untuk Cuci Tangan Demi Masa Depan, Kamis (14/10/2021).

Maulani menjelaskan, Lifebuoy memanfaatkan medium dan tokoh yang dekat dan disukai anak sehingga edukasi cuci tangan dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Secara global, Lifebuoy berkolaborasi dengan tokoh favorit anak ‘Sesame Street’ menghadirkan game digital. Game ini akan diperkenalkan pada sesi virtual edukasi terkait CTPS terbesar di dunia yang melibatkan hingga 50 negara, dan diselenggarakan pada peringatan Hari Cuci Tangan Sedunia di 15 Oktober 2021. Kemudian, Lifebuoy juga menggandeng pakar pendidikan menghadirkan E-Book Alfabetis serta penyertaan muatan pesan terkait CTPS pada film karya Anak Bangsa, ‘Nussa’.

Sri Wahyuningsih, Direktur Pembinaan Sekolah Dasar Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia memahami banyak orang tua yang masih khawatir dengan kegiatan sekolah tatap muka di tengah pandemi. Namun, kata dia, dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan CTPS menjadi norma baru adalah modal utama untuk memulai pendidikan tatap muka. Menurutnya, ini yang perlu diterapkan oleh setiap elemen, mulai dari satuan pendidikan hingga masyarakat luas.

“Merdeka belajar jadi respon kami di kementerian sebagai jawaban dari visi misi pemerintah untuk menciptakan generasi hebat di masa depan. Implementasi sekolah tatap muka terus didorong guna mempersiapkan anak-anak Indonesia agar tetap dapat mengejar capaian pendidikan dan menghindari learning loss," terang Sri.

Direktur Promosi Kesehatan Dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Imran Agus Nurali menyampaikan, kegiatan CTPS sudah mulai diedukasikan dan dikampanyekan sejak lama, bahkan sebelum pandemi hadir. Menurutnya, inisiatif ini penting untuk diteruskan karena aksi cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir dapat mencegah penyebaran berbagai penyakit menular, bukan hanya Covid-19 tapi juga diare dan hepatitis.

Imran melanjutkan, terkait kemitraan Hari Cuci Tangan Sedunia penting untuk dilakukan dengan menerapkan pentahelix yang melibatkan 5 unsur penting yakni pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, masyarakat, dan media masa. "Mari bersama kita implementasikan gaya hidup bersih dan cuci tangan pakai sabun di air mengalir. Karena masa depan ada di tangan kita, baik secara fisik maupun tanggung jawab," ajak Imran.

Oleh karena itu, peringatan Hari Cuci Tangan Sedunia dinilai menjadi momen penting untuk kembali meningkatkan kesadaran terkait pentingnya aktivitas mencuci tangan dengan baik dan benar sejak dini agar dapat dibiasakan dan menjadi rutinitas kelak hingga dewasa. Ini juga sebagai bagian untuk menyelamatkan masa depan anak-anak dan keluarga.

“Pada dasarnya, anak mencontoh perilaku dan meniru apa yang mereka lihat. Orang tua perlu untuk memberikan pemahaman dan contoh langsung terkait penerapan PHBS dan cara CTPS yang baik dan benar. Selain itu, pemanfaatan konten yang dekat dengan anak, dapat digunakan sebagai stimulus, dan diperkuat dengan pemberian ‘meaning’ pada aktivitas yang dilakukan. Misalnya, penting bagi orang tua untuk menjelaskan mengapa setiap gerakan perlu dilakukan dengan benar,” jelas Saskhya Aulia, Psikolog.

Sejak 2016, Lifebuoy turut mendukung program Sekolah & Pesantren Sehat yang merupakan edukasi terintegrasi mengenai pentingnya PHBS sedari dini. Selain itu, Lifebuoy juga turut mendukung pembangunan Sarana Cuci Tangan pada sekolah dan pesantren. Dalam pelaksanaan program tersebut Lifebuoy telah menjangkau lebih dari 10 juta anak di lebih dari 40.000 sekolah & pesantren di Indonesia.

Selain edukasi, sebagai bagian dari Public Private Partnership Handwashing with Soap (PPP-HWWS) Unilever melalui brand Lifebuoy juga turut membantu mempersiapkan aktivitas sekolah tatap muka terbatas bersama Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi serta mitra yang tergabung dengan memberikan materi edukasi dan perangkat kebersihan bagi 10.000 sekolah di Jawa, Sumatera, Sulawesi, NTB dan NTT.

“Kami berharap kolaborasi antar pihak ini dapat semakin menekankan pentingnya menciptakan lingkungan yang sehat dan higienis. Bukan hanya bagi masa depan anak kita, tapi juga bangsa Indonesia,” tutur Maulani.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)