Live Music Pertama di Indonesia di Era Pandemi, Jazz Gunung Ijen Sukses Tanpa Covid-19

Dira Sugandi tampil diiringi Sri Hanuraga Trio (semua foto dari Jazz Gunung Indonesia).

Live Music di era Pandemi? Mungkinkah? Inilah salah satu program GPM (Gerakan Pakai Masker) dan penyelenggara Jazz Gunung Series 2020 bertajuk “Hybride Concert Ijen - Bromo”, yang ingin menunjukkan bahwa Live Music tetap dapat diselenggarakan di masa Pandemi, asal digelar dengan disiplin penerapan protokol kesehatan. Acara itu sukses digelar pada 12 Desember 2020. Program Jazz Gunung Series 2020 secara keseluruhan dihelat dengan konsep hybrid concert ( secara live dan virtual) dan selalu menerapkan protokol kesehatan.

Melibatkan 122 musisi nasional dan 129 seniman lokal, penyelenggaraan Jazz Gunung Indonesia hybrid concert diadakan secara bersamaan di dua tempat, yakni Jazz Gunung Ijen yang diselenggarakan di lokasi Ijen, Banyuwangi, dan Jazz Gunung Bromo secara virtual dari Yogyakarta. Pada pementasan di Ijen, Banyuwangi, artis yang tampil antara lain pemain bas Bintang Indrianto, dan penyanyi Dira Sugandi serta Sruti Respati.

Pemain jazz Bintang Indrianto dan penyanyi Sruti Respati. Pada pementasan di Jazz Gunung Ijen 2020 Bintang khusus menciptakan lagu The Beauty of Ijen,
dengan liriknya ditulis Sruti Respati.

Termasuk dalam program Jazz Gunung Series 2020 adalah Jazz Gunung Series Virtual Concert yang diselenggarakan pada Oktober, November dan terakhir adalah 4 Desember 2020. Virtual Concert bekerja sama dengan DSS yang mempunyai platform pertunjukan virtual Konser 7 Ruang. Virtual konser yang menggunakan studio DSS dan disiarkan secara live melalui platform Youtube ini juga selalu menerapkan protokol kesehatan.

Konser di lokasi Ijen dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat, terdiri dari 3W. Pertama, wajib tes swab antigen. Kedua, wajib pakai masker, dan ketiga wajib menjaga jarak.

Ketua Umum Gerakan Pakai Masker (GPM) Sigit Pramono.

Ketua Umum Gerakan Pakai Masker (GPM) Sigit Pramono mengatakan bahwa Jazz Ijen ini adalah live concert pertama di Indonesia semenjak mulai pandemi sekitar 10 bulan lalu. Pagelaran ini bisa sukses tanpa Covid-19 hanya dengan menerapkan 3W dan testing yang cepat dan akurasinya mendekati sempurna yaitu dengan tes swab antigen.

Selain itu, panitia juga telah mengurangi jumlah kursi penonton menjadi sepertiganya saja sehingga semua penonton tetap bisa merasa aman dan nyaman. Waktu penonton sudah di dalam lokasi, “Kalau ada penonton yang tidak patuh protokol kesehatan dan tidak pakai masker dengan benar, bisa langsung kena tegur panitia,” kata dr. Grace Hananta, Campaign Director Gerakan Pakai Masker yang ikut mengawal penerapan protokol kesehatan pada pagelaran tersebut.

Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19, Sonny Harry B. Harmadi hadir memberi sambutan pada acara Jazz Gunung di Ijen, Banyuwangi.

Dalam penerapan protokol kesehatan, penyediaan tes kit antigen dan tenaga medis di lokasi ditanggung Panitia. Pihak panitia juga menerima apabila penonton membawa bukti tes PCR, asalkan masih dalam masa berlaku. Bagi mereka yang dinyatakan reaktif, tidak boleh memasuki lokasi konser.

Semua aturan ketat tersebut diberlakukan untuk semua orang yang terlibat, mulai dari penyanyi, musisi, panitia, dan penonton yang hadir dalam acara. Dengan penerapan sejumlah syarat tersebut, Sigit Pramono berharap, konser ini nantinya akan menjadi percontohan bagaimana menyelenggarakan suatu konser yang aman sesuai protokol kesehatan saat pandemi. Pementasan ini juga contoh nyata bagaimana suatu kegiatan ekonomi dapat berjalan seiring dengan pencegahan penularan virus Covid-19.

Butet Kartaredjasa, salah satu pendiri Jazz Gunung.

Jazz Gunung sediri merupakan pagelaran musik jazz bertaraf internasional yang menampilkan komposisi jazz bernuansa etnik di lokasi pegunungan Indonesia. Dimulai di Bromo pada tahun 2009 lalu di Ijen pada tahun 2016.

Jazz Gunung rutin digelar tiap tahun sejak 2009. Namun dikarenakan pandemi covid-19, perhelatan ini diubah menjadi konser virtual Road to Jazz Gunung Series 2020 di Studio DSS Musik, Jakarta, yang diharapkan dapat mengobati kerinduan para penikmat Jazz Gunung. Konser virtual ini diselenggarakan pada 5 Desember 2020, seminggu sebelum konser di Banyuwangi. “Konser virtual ini juga merupakan penyemangat bagi pekerja di industri musik untuk terus berkarya di tengah pandemi virus covid-19,” tambah pemilik studio DSS Musik, Donny Hardono.

dr Grace, Campaign Director GPM, memperagakan cara memakai masker yang benar.

Protokol jaga jarak yang ketat juga diterapkan dalam penyelenggaraan konser virtual tersebut, dengan tersedianya tujuh ruang terpisah untuk masing-masing musisi, mulai dari ruang gitar, piano, bass, keyboard, vokal, drum, hingga ruang mixing.

Selain mengadakan konser, Panitia juga melakukan penggalangan dana dalam acara ini. Seluruh dana yang dihasilkan akan disumbangkan kepada pelaku seni yang terdampak covid-19 serta akan digunakan untuk kampanye cara memakai masker yang benar.

swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)